
Kamelia terus saja menatap kejujuran yang terpancar di dalam mata Kemil. Tetapi keraguan kembali menghasut pikirannya.
Dulu Kemil berjanji akan menemuiku setelah kembali, dia memintaku untuk terus menunggunya... Tapi kenapa Misya yang berada di sisinya?
Kamelia melepaskan genggaman tangan Kemil dari tangannya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah ke depan.
"Kamu telah banyak memberiku angin surga, Kemil... Jangan membuatku terlalu berharap lagi." Kamelia menatap datar ke depannya.
Kemil berdiri dan memeluk Kamelia dari belakang.
"Aku tidak membuatmu berharap, Kamel... Tapi kali ini aku yang berharap." Ujarnya lirih di balik ceruk leher Kamelia.
"Kamu bohong... Kamu tidak bicara sebenarnya..." Kamelia melepas paksa dirinya dari pelukan Kemil.
"Itulah yang sebenarnya, Kamel..." Sahut Kemil lirih.
"Kamu bohong..." Kamelia menangis. Suaranya yang sedikit mengeras terdengar parau.
Kemil kembali meraih tangan Kamelianya.
"Aku tidak berbohong, Kamel... Aku selalu menepati janjiku... Selama aku jauh disana, aku tidak pernah memiliki hubungan dengan siapapun. Dalam ceritaku hanya ada kamu." Pengakuan Kemil tidak membuat Kamelia langsung percaya.
__ADS_1
"Kalau iya... Kenapa ada Misya di antara kita? Kenapa kamu tidak datang menemuiku?" Kamelia berusaha menarik tangannya dari genggaman Kemil. Namun Kemil semakin menguatkan genggamannya sehingga tidak membiarkan tangan Kamelia lolos.
"Asal kamu tau, Kemil... Aku selalu membujuk hatiku agar selalu menantikan kehadiranmu... Membuat diriku selalu percaya bahwa kamu akan datang." Air mata Kamelia sudah berjatuhan dengan deras membasahi wajahnya. Dia seakan merasa dikhianati oleh dirinya sendiri.
"Aku datang, Kamel... Aku datang kala itu.." Ungkap Kemil setengah berteriak. Kemil berusaha menenangkan Kamelia yang mulai memberontak. Kamelia tersedu-sedu.
Kemil menarik tubuh Kamelia ke dalam dekapannya. Dia menciptakan zona ternyaman untuk istrinya yang tengah kebingungan itu.
"Aku datang waktu itu, Kamelia... Percayalah... Aku datang untuk menepati janjiku padamu.... Aku pernah datang untukmu..." Kemil melunakkan suaranya seraya mengeratkan dekapan tubuhnya terhadap Kamelia.
****
Kemil bersiul sambil memutar-mutar kunci mobilnya. Dia terlihat bersemangat sekali waktu itu.
"Hadeh... Hadeh... Anak Mama... Kamu mau kemana, nak?" Rahmah kebingungan melihat tingkah putranya yang begitu riang.
"Aku mau menjemput seseorang, Ma..." Serunya. Dia kembali membalikkan badannya menghadap kearah mamanya itu.
"Apa dia teman kecilmu itu?" Rahmah ikut bersemangat mendengar seruan putranya.
"Hehe... Iya, Ma..." Sahutnya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Sudah selama ini kamu tidak pernah memberitahukan kepada Mama siapa namanya..." Rahmah terlihat cemberut.
"Mama tenang saja... Tidak hanya namanya... Orangnya langsung akan Kemil bawa kepada Mama... Mama tunggu ya." Kemil berlari kembali menuju mobilnya.
Pasti yang dimaksudnya putrinya Agung yang bernama Kamelia itu...~ Idris tersenyum menyeringai melihat tingkah putranya yang terlalu berlebihan.
Kemil terus melajukan mobilnya di jalanan yang beraspal kerikil kecil. Di kedua sisi jalan terdapat perkebunan teh milik kakeknya dan beberapa penduduk desa.
Dia menghirup udara segar pedesaan yang hijau itu dengan serakah. Hatinya yang berbunga-bunga tergambar di raut wajahnya yang berseri-seri. Dia mengendalikan stirnya sesuai dengan ingatannya. Dua belas tahun memang memberikan banyak perubahan terhadap desa itu baginya. Namun dia begitu hafal setiap jengkal menuju ke desa pujaan hatinya sedari kecil itu.
Hayalan demi hayalan berputar bebas di dalam benaknya. Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana pertemuan pertama kalinya setelah berpisah belasan tahun dari Kamelia kecilnya itu.
Hampir dua jam perjalanan, Kemil akhirnya sampai di pemukiman desa itu. Dia melewati perkebunan teh kakeknya yang juga ada disana.
"Kameeel..." Kemil mendengar seseorang memanggil Kamelianya. Dia menghentikan laju mobilnya dengan segera. Matanya tertuju kepada seorang pemuda tampan dan tiga tahunan lebih tua darinya.
Pemuda itu mendekati seorang gadis remaja yang dia yakini adalah Kamelia kecilnya. Meski gadis itu sudah tumbuh dewasa, dia masih mengenal gadis itu. Dia masih ingat dengan mata bulatnya Kamelia dan belah dagu kepunyaan gadis itu. Tubuhnya yang ramping dan rambutnya yang hitam panjang dan juga lebat.
Kamelianya bergelayut manja dalam lengan pemuda itu. Mata Kemil berkaca-kaca, dia memukul stirnya dengan sangat kuat dan kemudian memutar kembali mobilnya kearah desa tempatnya tinggal.
Ternyata dia melupakan janjinya~ Gumam Kemil dengan perasaan yang kecewa.
__ADS_1