
Toni begitu frustasi. Dia begitu menyesali sesuatu yang telah terjadi. Toni melangkah hendak memasuki mobilnya dan meninggalkan Misya yang masih mematung karena kebingungan.
Toni melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan pedesaan yang tidak terlalu lebar dan sedikit berbatu-batu. Bayangan Kamelia yang ketakutan melihatnya tadi benar-benar mengganggu pikirannya.
Dia menginjak remnya dengan begitu gesit di tempat sepi dan gelap. Berkali-kali dia memukul stir mobilnya dengan kuat. Ada rasa penyesalan dalam dirinya. Cairan bening keluar dari ruas matanya yang sedikit menyipit.
Ingatannya kembali pada waktu silam.
****
Flashback On
"Anda cuma perlu tanda tangani surat penjualan tanah ini saja, pak Idris." Ujar Toni sengit. Belati yang dipeganginya sedari tadi terus saja dimainkannya di depan wajah lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Idris Arayan, papanya Kemil. Dua preman sewaannya memegangi kedua lengan Idris
"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menjual tanah peninggalan almarhum bapak saya kepada papamu yang serakah itu." Idris mengelak dengan tidak kalah sengitnya. Jalanan sepi yang tidak dilalui seorang pun disana tak membuat gentar hati Idris. Meski belati itu bermain dua senti dari kulit wajahnya dan siap menggoroti dan mengoyak tubuhnya, Idris sama sekali tidak takut.
"Ingat... Saya masih memberi waktu untuk anda berpikir selama lima menit. Dan saya tidak main-main kali ini. Jika anda tidak mau tanda tangani, maka istri Anda akan berstatus janda setelah ini." Toni semakin mengeraskan suaranya.
"Dan satu hal lagi... Anak Anda yang bodoh itu juga tidak akan mampu menyelamatkan tanah peninggalan almarhum bapak Anda itu. Pacarnya adalah gadis yang saya suruh untuk memanfaatkan putra Anda. Jadi percuma saja Anda mempertahankannya." Dia menyeringai tajam.
Idris mengerang penuh kebencian. "Kamu itu hanya umpan keserakahan papamu saja... Sama seperti ibumu yang hanya jadi umpan keserakahannya." Ujar Idris tiada takut.
"Diaaam..." Toni berteriak marah. Terlihat sekali kemarahannya karena Idris membawa-bawa ibunya.
"Lakukan yang kamu suka, yang jelas saya tidak akan pernah menandatangani surat itu." Idris tetap tidak mau menyerah.
Dari kejauhan, Kamelia yang pulang dari kota melihat aksi Toni dan dua preman lainnya.
"Yaa Allah... Apa yang sedang mereka perbuat?" Kamelia diliputi rasa ketakutan. Dengan segera dia meraih ponselnya dan menghubungi polisi.
Kamelia terbelalak ketika belati yang dimainkan Toni hendak mengoyak tubuh Idris. Tanpa pikir panjang, Kamelia menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi hendak menabrak orang yang tak terlihat sama sekali wajahnya oleh Kamelia.
__ADS_1
Dalam pikirannya, dia hanya ingin menyelamatkan orang yang tidak dikenalnya itu dari aksi pembunuhan dan pengeroyokan di depan matanya.
Toni yang menyadari ada mobil yang mengarah kepadanya segera menghindar dengan cepat.
"Kurang ajar..." Maki Toni. Dia segera menghampiri mobil Kamelia yang berhenti tepat di depan Idris.
Kamelia memejamkan matanya. Dia pikir preman itu telah berhasil ditabraknya. Tetapi sayang preman itu yang tidak lain adalah Toni malah menggedor-gedor kaca mobil di sisinya.
"Buka pintunya..." Toni terlihat garang dan menakutkan. Dia seakan melupakan Idris yang masih dipegangi oleh orang-orang suruhannya.
Awalnya Kamelia menolak. Dia terlihat gemetar dan ketakutan. Tetapi Toni mengancam akan memecahkan kaca mobilnya dan membuka paksa pintu mobil itu. Dengan terpaksa dan sangat ketakutan Kamelia akhirnya membuka pintu mobilnya.
"Kameel..." Toni terkesiap ketika melihat orang yang hampir saja menabraknya adalah Kamelia. Gadis yang menjadi pujaan hatinya semenjak SMA.
"Toni..." Kamelia tak kalah terkejut dibuatnya.
"Dasar pelacur..." Umpat Toni. Kamelia terkejut dibuatnya, dan segera mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi Toni.
"Beraninya kamu menamparku... Misya sudah mengatakan semuanya kepadaku. Untung saja aku tidak jadi mengatakan perasaan kepadamu kala itu." Toni semakin memanas melihat Kamelia.
"Maksud aku apa?" Toni mengulang pertanyaan Kamelia. "Pasti orang itu termasuk sebagai om-om yang menjadikan dirimu simpanan, kan?"
PLAAAK
Sekali lagi telapak tangan Kamelia mendarat di pipi Toni, dan kali itu sangat keras.
"Jangan keterlaluan kamu Toni..." Kamelia merasa tidak terima akan tuduhan dari seseorang yang pernah akrab dengannya kala SMA dulu.
"Dasar perempuan munafik..." Makinya. "Ikut denganku sekarang... Kita buktikan kebenaran ucapan Misya bahwa kamu hanyalah perempuan simpanan." Toni menarik lengan Kamelia secara paksa kearah padang ilalang yang tinggi-tinggi di sisi jalanan itu.
"Toni kamu mau membawaku kemana? Lepaskan Toni... Aku mohon, lepaskan..." Kamelia menjerit sekencang-kencangnya. Dia memukul-mukul tangan Toni yang menarik lengannya. Namun sayang... Tenaganya tidak sekuat tenaga Toni.
__ADS_1
Idris yang hendak menolong gadis yang telah menyelamatkan nyawanya juga tidak berdaya karena dipegangi dua lelaki kekar suruhan Toni.
"Ayo kita coba buktikan, Kamel..." Toni melucuti pakaian Kamelia dengan paksa. Tenaga Kamelia bertolak satu banding seratus dengan tenaga lelaki kekar yang hendak berbuat jahat kepadanya itu.
Setiap kali Kamelia mencoba berteriak, Toni akan membekap mulut Kamelia dengan mulutnya. Toni menindih tubuh Kamelia yang sudah tidak berdaya. Erangan yang menyayat pilu terdengar dari mulut Kamelia. Rasa sakit yang dirasakannya hampir sebanding dengan hancurnya perasaannya kala itu.
Toni tersadar setelah erangan dan rasa sakit yang dirasakan Kamelia. Namun nasi sudah menjadi bubur. Perempuan yang sebenarnya sangat dicintainya itu telah dengan sengaja dihancurkannya. Ditambah bercakan darah yang dilihatnya menempel di dedaunan kering membuat dia semakin menyesal.
"Kameel..." Dia tidak berani untuk berbicara apa pun lagi. Air matanya mengalir seiring penyesalan di hatinya tumbuh. Rasa bersalah karena telah menodai perempuan yang sangat dicintainya terlalu besar dia rasakan.
Kamelia tersedu-sedu. Tangannya memangku kedua lututnya. Rasa sakit yang dia rasakan tidak mampu menghentikan isak tangis dan air matanya.
Tidak lama polisi datang. Toni terkejut dan hendak pergi dari sana. Dia sesaat memandangi Kamelia yang masih tersedu-sedu sebelum memutuskan untuk melarikan diri dari polisi.
****
Flashback Off
"Aaaahhh.... Pengecut... Pengecut... pengecuuut..." Toni terus saja memukul-mukul stir mobilnya dengan sangat kuat. Tangannya memerah dan air matanya mengalir mengingat Kamelia yang tengah hamil.
"Aku yakin bayi yang dikandung Kamelia adalah darah dagingku..." Ungkapnya lirih.
"Itu pasti anakku... Tapi bagaimana? Dia pasti sangat membenciku... Tadi saja dia sangat ketakutan ketika melihatku." Toni membenamkan wajahnya ke stir mobilnya. Dia benar-benar terlihat menyesal kala itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.