
Semenjak berbagi kamar, mereka terlihat lebih dekat dan romantis. Idris dan Rahmah begitu senang karenanya. Namun mereka tetap kepikiran dengan apa yang diucapkan Agung, papanya Kamelia. Walau bagaimanapun ucapan Agung ada benarnya juga.
"Pa..." Rahmah datang sambil mengelus pundak Idris, yang saat itu Idris tengah melamun menatap ke arah pantai di belakang rumahnya selepas Ashar kala itu.
"Hmmm... Iya ada apa, Ma..." Idris menoleh lesu ke arah Rahmah.
"Papa kenapa? Akhir-akhir ini Mama perhatikan Papa sering melamun? Apa ada masalah di pabrik atau di perkebunan?" Rahmah begitu lembut mempertanyakan keadaan suaminya itu.
"Tidak, Ma... Papa cuma kepikiran dengan ucapan Agung kala itu..." Idris kembali menolehkan pandangannya kearah pantai.
"Mengenai Toni?" Rahmah menebaknya. Dan dia begitu yakin dengan ucapannya itu. Walau bagaimanapun suaminya itu mempertahankan tanah peninggalan almarhum mertuanya. Namun dia tahu suaminya itu tidak akan pernah menyakiti Toni.
"Menurut Mama kita harus bagaimana?" Idris merasa tidak perlu lagi menjawab pertanyaan istrinya yang sudah menebak perasaannya saat itu dengan benar.
"Meskipun Toni ayah kandung dari bayinya Kamelia. Mama akan tetap menyayanginya seperti cucu kandung Mama sendiri, Pa... Mama tidak ingin melakukan kesalahan lagi terhadap Kamelia. Karena Mama tau, kebahagiaan Kamelia hanya ada pada Kemil. Tidak hanya itu, Pa... Kemil pun juga seperti itu, kan?.
Mama tidak pernah melihat Kemil sebahagia ini sebelumnya. Sesantun dan bertanggung jawab seperti ini." Rahmah menggenggam kedua tangan Idris berusaha meyakini suaminya.
"Pah... Mah..." Kemil tiba-tiba datang dari arah dalam. Hal itu membuat kedua orang tuanya terkejut dan menoleh kearahnya secara bersamaan.
"Kemil." Seru Idris dengan mata membulat.
"Rupanya Papa dan Mama disini? Kemil cari-cari sedari tadi." Ujarnya sedikit terengah-engah.
"Iya... Kenapa, sayang?" Rahmah berusaha menyikapi anaknya itu sesantai mungkin.
__ADS_1
"Kemil mau izin bawa Kamel jalan-jalan sore Mah, Pah..." Ujar Kemil meminta izin kepada orang tuanya.
"Iya... Pergilah... Tapi kamu harus hati-hati dan usahakan pulangnya sebelum maghrib." Ujar Idris dan diiyakan Kemil sambil menganggukkan kepalanya. Dia begitu lega karena sepertinya Kemil tidak mendengarkan percakapan di antara dia dan istrinya.
Semenjak kejadian malam itu, Idris sedikit khawatir membiarkan Kamelia dan Kemil keluar sore. Apalagi Toni sudah mengetahui perempuan hamil yang dinikahi Kemil adalah Kamelia yang sedang mengandung anaknya Toni.
***
Sore itu cuaca begitu cerah. Di ufuk barat telah tampak sedikit cahaya jingga yang bermunculan menembus cakrawala langit di ujung senja.
"Hampir setiap sorenya aku hanya mengajakmu ke pantai ini. Apa kamu tidak bosan?" Kemil menatap Kamelia yang begitu menikmati suasana senja itu.
"Tidak..." Sahut Kamelia tanpa menoleh sedikitpun. Matanya terus menatap ke ufuk barat yang begitu indah.
"Sebegitu kah kamu menyukainya? Bahkan menatap kearah sana lebih penting bagimu dari pada menatap ke arahku yang bertanya sedari tadi." Sungut Kemil.
"Ooh... Jadi kamu bosan ceritanya?" Kemil pura-pura cemberut mendengar jawaban Kamelia.
"Apa baru saja kamu cemburu terhadap langit senja?" Kamelia akhirnya menolehkan wajahnya kearah Kemil yang merengut.
"Bagaimana tidak? Kamu mencintai sesuatu lebih besar dari mencintaiku." Ujarnya masih dengan raut sedikit kesal yang dibuat-buat.
"Lalu kamu maunya aku mencintaimu seperti apa?" Kamelia menatap heran wajah Kemil yang begitu kekanak-kanakan karena sikapnya.
"Aku ingin kamu mencintaiku melebihi apa pun." Ujar Kemil sambil menyeringai.
__ADS_1
"Jadi kamu ingin aku mencintaimu melebihi cintaku kepada-Nya yang telah memberikanmu untukku?" Kamelia membuat bulu pipi Kemil remang karena pertanyaannya.
"Astaghfirullah... Tidak begitu..." Ujarnya ketakutan.
"Kamu ingin Dia cemburu lalu mengambil kembali semua yang telah diberikannya kepada kita?" Kamelia semakin mempertajam pertanyaannya.
"Ya Allah... Tidak... Tidak seperti itu, sayang..." Kemil semakin merinding mendengar pertanyaan Kamelia kepadanya.
"Cintailah sesuatu itu tidak melebihi kadarnya, sayang... Agar kamu tidak terlalu sakit ketika kepergiannya. Agar ikhlas tumbuh dengan mudahnya di hatimu." Kamelia menggenggam tangan Kemil.
"Aku memandang ke sana, Karena aku begitu memuji keindahan ciptaan-Nya. Seperti halnya aku memandangi mu. Begitu baiknya Dia telah menakdirkanmu untukku. Begitu bijaknya Dia mengatur pertemuan kita. Meski aku tidak lagi suci, tapi lewat kamu Dia menutupi kotorku. Meski aku telah cemoh, tetapi lewat keluargamu Dia menutupi aibku." Kemil mengusap pipi Kamelia yang sudah dibanjiri air mata.
"Dengan senja, aku mengerti langit tak selalu terang. Dengan senja, cahaya jingganya bagai menyambut malam yang kelam. Dengan senja, Aku mengerti fase kehidupan."
Kemil memeluk tubuh Kamelia yang begitu kuat meski dalam hati perempuannya itu begitu rapuh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.