KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
UCAPAN MISYA


__ADS_3

Pagi itu Kemil mengajak Kamelia untuk ikut ke pabrik. Dia tahu, Kamelia akan merasa suntuk di rumah meski ada Milka yang menemaninya seharian.


Kemil hari itu pun ke pabrik hanya untuk setengah hari, karena orang tuanya beserta keluarga Kamelia akan datang siangnya.


Sepanjang jalanan yang tidak terlalu lebar itu, tidak henti-hentinya Kemil melambatkan laju mobilnya untuk sekedar menyapa para penduduk di desa itu yang dia temui.


Semenjak dia mulai berkecimpung pada usaha turun temurun dari kakeknya, Adipati Arayan. Kemil mulai mengenal dan berbaur dengan penduduk disana.


"Sayang... Sebenarnya apa yang terjadi dengan bi Ina tadi?" Kemil teringat akan raut pelayan rumah itu tadi paginya.


"Maaf, sayang... Itu semua salahku... Tidak seharusnya aku membuatnya terkejut seperti tadi." Ujar Kamelia merasa bersalah.


"Memangnya kamu mengejutkan bi Ina bagaimana?" Tanya Kemil bingung.


"Aku menanyakan tentang mama Toni yang bernama Rianti itu loh, sayang..." Sahut Kamelia.


"Trus... Apa bi Ina mengenalinya?" Kemil semakin penasaran dibuatnya.


"Karna justru itu, sayang... Aku bertanya sama bi Ina. Kata bi Ina, bi Ina sudah bekerja sewaktu papa masih bujangan." Tutur Kamelia mengingat cerita pelayan di rumah suaminya itu.


"Iya... Itu aku tau kok. Yang jadi pertanyaanku, bu Rianti itu, kan mamanya Toni. Lalu kenapa bi Ina harus tau?" Kemil tetap merasa kebingungan di dalam fokusnya mengemudi.


"Sebenarnya aku pernah melihat foto mamanya Toni bersama papaku di kamarku yang sebelumnya." Tutur Kamelia menoleh kearah Toni.


"Kok bisa?" Kemil sedikit terkejut mendengar penuturan Kamelia.


"Nggak tau juga, sayang... Dan tadi aku juga melihatnya di dinding kamar bi Ina. Dia di dalam foto itu berdua sama bi Ina sambil merangkul bi Ina. Seperti adik kakak, atau berteman. Aku tidak taulah, sayang.


Dan waktu aku masuk ke kamar Toni semalam, aku merasa tidak asing masuk kesana. Design kamarnya, warna cat dindingnya dan bahkan warna sprei kamar itu juga sama seperti kamarku yang sebelumnya." Kamelia begitu antusias menceritakan tentang apa yang dilihatnya semalam di kamar Toni.


Kemil tampak berpikir keras dan keheranan akan cerita istrinya itu.


"Dan satu lagi, sayang... Lukisan yang ada di kamarnya Toni juga sama dengan lukisan di kamarku yang sebelumnya." Tambah Kamelia.


Mereka bagai dihadapi dengan teka-teki yang sulit untuk dimengerti.

__ADS_1


"Kenapa selama ini aku tidak ngeh ya, sayang?" Ujar Kemil.


"Memangnya kamu tidak tau kamar itu kamarnya siapa?" Tanya Kamelia seraya menatap lekat wajah Kemil dari posisi duduknya.


"Dulu semasa kecil aku pernah bertanya sama kakek... Tapi kakek bilang bukan kamar siapa-siapa. Aku juga tidak pernah memasukinya kala itu. Pintunya selalu terkunci rapat. Dan hanya untuk kamu dibukakan papa.


Sebelum kita menikah, aku mendengar papa meminta bi Ina membersihkan kamar itu. Tetapi aku melihat raut keberatan di wajah bi Ina.


Karena aku tidak terlalu perduli, ya aku biarkan saja, sayang." Ujar Kemil. Dia juga sama sekali tidak tahu tentang kamar itu.


Milka menggeliat sambil bergumam, dan mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit. Cahaya pagi membuat matanya sedikit terkejut kala itu.


Karena Milka terbangun, mereka menghentikan obrolan mereka.


Kemil mengusap-usap dagu Milka yang sedikit berlobang dari posisi duduknya.


"E-eh... Anak ayah sudah bangun." Ujarnya.


Milka tersenyum ketika dagunya merasakan jemari ayahnya.


"Iya, sayang..." Sahut Kemil.


"Kemana Milkanya ayah ni...? Milka cantik ayah kemana nak...?" Sambil membelokkan mobilnya kearah parkiran pabrik itu, Kemil tetap mengajak bayi mungil yang berada dalam gendongan istrinya untuk mengobrol.


"Nah... Selamat datang anak cantik ayah di pabrik kakek buyut." Seru Kemil sambil menciumi jemari Milka yang mungil.


Baru saja mereka turun dari mobil, para pekerja sudah menyambutnya dengan baik. Mereka begitu senang melihat kedatangan Kamelia dan Milka.


"Oh... Calon penerus Arayan datang nih. Tapi pantas nggak ya? Secara, kan bapaknya Toni, bukan Kemil?" Wajah Kamelia dan Kemil memerah mendengarnya.


Seseorang yang tidak lain adalah Misya datang menghampiri mereka.


Baru saja Kemil hendak meneriaki Misya, "Eh non Misya... Kamu jangan keterlaluan bicara sembarangan seperti itu." Seorang pekerja dengan lantang memarahi Misya terlebih dahulu.


"Iya... Jangan sembarangan, non." Ujar yang lain menimpali.

__ADS_1


"Eeeh kok kalian malah menghakimi saya? Kalian tanya saja sendiri kalau tidak percaya. Anak itu saja memanggil Toni papa, kok..." Misya mencoba membenarkan ucapannya agar dipercayai orang-orang.


"Ya wajar saja, non... Secara, kan den Toni itu juga cuc..." Seseorang menyenggol bahu orang yang menyahuti ucapan Misya.


Sejenak, mereka semua diam membisu.


"Cuc? Cuc apa pak?" Misya penasaran dengan ucapan sang bapak yang menggantung.


"Misyaaa..." Suara menggelegar dari arah dalam datang menghardiknya.


"Papa..." Orang itu tak lain adalah papanya Misya. Dia juga pekerja inti di pabrik itu. Dia menarik lengan Misya untuk menjauh dari orang-orang disana.


Terlihat mereka sedang berdebat dan bersitegang. Dan pada akhirnya. Tangan papa Misya melayang ke pipi Misya.


Gadis itu menangis dan berlari dari sana.


Bukan malah mengejar putrinya, papa Misya malah mendekat kearah Kamelia dan Kemil.


"Maafkan Misya, den, nak Kamel..." Orang itu seakan tahu dan mengenal Kamelia.


"Tidak apa-apa kok, om... Om tidak perlu sampai harus menampar Misya seperti itu." Ujar Kamelia.


"Tidak seharusnya kamu masih baik dengan Misya, nak... Kamu selalu menjadi korban akan keegoisan Misya." Ujar lelaki paruh baya itu dengan tulus.


"Tidak apa-apa kok, om..." Kamelia tersenyum meski hatinya sakit kala itu.


"Ayo sayang, kita masuk... Kemil yang kecewa dengan Misya langsung menggandeng tangan istrinya itu masuk ke dalam dan meninggalkan papa Misya yang merasa bersalah akan putrinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2