
Semenjak hari pernikahannya dengan Kemil, Kamelia merasa dirinya jauh lebih baik. Ditambah perlakuan Idris yang begitu menyayanginya. Meski hatinya begitu sangat merindukan mama, papa dan abung kesayangannya itu.
Kamelia sangat memaklumi kemarahan keluarganya itu, ditambah lagi dengan sikap Kamelia yang menutupi kejadian sebenarnya yang telah menimpa dirinya kepada siapapun.
Hari-hari berlalu. Meski Kamelia menetap di kediaman Arayan, namun dia tidak pernah sekalipun bertatap muka dengan lelaki yang telah membuatnya untuk tidak bisa jatuh cinta kepada lelaki lain. Lelaki itu tidak lain Kemil Izdan Arayan. Teman masa kecilnya yang sudah berjanji untuk menemuinya lagi.
***
Flashback On
Anak lelaki dua belas tahunan itu berlari sepanjang jalan bebatuan yang dipinggirnya terdapat perkebunan teh hijau.
Dia berlari sangat kencang sambil sesekali menyeka air matanya yang berjatuhan di pipinya.
"Kameeeel..." Serunya ketika mendapati gadis kecil dua tahunan lebih muda darinya.
Kamelia yang tengah duduk di rumah pohon sudut perkebunan itu menghentikan kegiatan coret moretnya. Dia menatap anak lelaki yang berlarian kearahnya itu dengan perasaan bingung.
"Kemiiiil!!!" Balasnya sambil beringsut turun dari rumah pohon itu. "Kamu menangis..." Kamelia tertawa mengejek Kemil yang menangis.
"Kalau aku beritahu kepadamu kenapa aku menangis, Kamu mungkin akan lebih histeris dari aku..." Ujarnya di balik sesenggukan.
"Memangnya aku cengeng sepertimu?" Ledek Kamelia kecil sambil berkacak pinggang dan terus saja menertawai sahabatnya itu.
Kemil menyodorkan sebuah cover bag kertas kearah Kamelia.
"Apa ini?" Tanya gadis itu keheranan seraya meraihnya dari tangan Kemil.
"Itu burung kertas yang aku buat sebanyak seratus buah untukmu... Mama papaku akan mengajakku pindah ke tempat nenekku. Ibu dari mamaku, Kamel..." Tuturnya masih terisak.
__ADS_1
Kamelia terdiam sesaat. Kemudian membuang cover bag kertas yang diterimanya dari Kemil tadi.
"Kenapa kamu membuangnya?" Tanya Kemil marah merasa tidak dihargai.
"Aku tidak butuh burung kertas... Aku mau kamu tidak pergi..." Teriak Kamelia. Matanya yang semula hanya berkaca-kaca langsung menumpahkan air dari dalamnya.
"Katanya tadi tidak cengeng... Sekarang kenapa kamu menangis? Kamu juga marah malahan." Ujar Kemil berusaha menenangkan Kamelia.
"Kamu 'kan sudah janji ajak aku bermain di pantai. Kenalin aku sama mama kamu yang baik dan pintar masak juga. Terus kamu juga mau bersama-sama denganku selamanya..." Seru Kamelia semakin terisak-isak.
"Ah anak kecil ini..." Gerutu Kemil sambil memungut cover bag kertasnya yang dibuang Kamelia. "Nanti aku pasti kembali..." Kemil mengusap air mata Kamelia yang membanjiri pipi tembem gadis itu.
"Kapan...?" Tanya Kamelia yang berusaha menghentikan isaknya.
"Nanti pokoknya..." Jawab Kemil lagi.
"Tidak kok, Kameeel.... Asal kamu janji tungguin aku kembali..." Kemil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Kamelia.
Kamelia menyahutinya dengan sedikit bersungut yang masih membekas di wajah mungilnya itu.
"Sekarang kamu simpan burung kertas yang sudah seminggu ini aku buat khusus untukmu... Jika kamu rindu aku, kamu bisa pandangi yang ini." Kemil menyodorkan satu lagi burung kertas yang tampak istimewa dari yang ada dalam cover bag.
"Iih lucu sekaliii.." Seru Kamelia sambil meraih burung kertas bewarna keemasan dan sedikit mengkilat.
"Kemiiilll..."
"Kameeelll..."
Dua lelaki yang masih terlihat muda mendekati mereka dengan terengah-engah.
__ADS_1
"Apa saya bilang, Id... Pasti mereka ada disini." Ujar salah seorang lelaki di antara mereka.
Lelaki itu tidak lain Agung dan sahabatnya, Idris.
"Wah... Kalian sudah saling kenal rupanya." Ujar Idris sambil tersenyum. "Jadi ini putrimu yang masih kelas enam itu, Gung?" Tanya Idris lagi.
"Ya... Gadis kecilku yang sedikit nakal. Dia suka sekali naik ke rumah pohon dekat kebun ayahmu itu." Tunjuk Agung ke arah rumah pohon tempat Kamelia duduk tadi.
Kamelia tersenyum malu dan bersembunyi di balik lengan papanya.
"Kamu sudah pamitan sama Kamelia, nak?" Tanya Idris kepada Kemil.
"Sudah, Pa... Kemil juga sudah memberikan burung kertas yang Kemil buat sama mama kemarin." Sahutnya dengan berat hati.
"Ya sudah ya, Gung... Saya pamit... Sesekali kunjungi ayahku, ya..." Pamit Idris. Dia membelai pipi tembemnya Kamelia.
Kamelia dan Kemil sama-sama menitikkan air mata ketika perpisahan mereka yang begitu mendramatis.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1