
Flashback Off
Semua dari keluarga itu terdiam. Tidak ada lagi yang ingin mereka dengar rasanya. Semua serasa sudah jelas bagi mereka. Kamelia mereka hanyalah dewi penyelamat yang menjadi korban dari keegoisan mereka. Tidak seharusnya hujatan dan hinaan pernah keluar dari mulut mereka tanpa ada penjelasan.
"Rasanya Adan tidak sanggup menampakkan wajah Adan lagi di depan Kamelia..." Air mata Ramdani berjatuhan seiring kata-kata yang diucapakan oleh bibirnya.
"Kemil bahkan jauh lebih buruk dari lelaki yang telah menodainya..." Kata-kata buruk yang pernah diucapkannya kala itu kepada Kamelia kembali terngiang dan berputar di benak Kemil. Dia terpuruk oleh rasa menyesalnya. Tidak hanya dia dan Ramdani.
Tuduhan Rahmah terhadap suaminya yang telah menghamili Kamelia juga kembali berputar di memorinya.
"Kenapa waktu itu Kamelia tetap membela Mama, Pa? Kenapa Kamelia tidak membiarkan Papa memberitahukannya kepada kami?" Rahmah meraih kedua tangan suaminya yang diliputi rasa bersalah. Semua mata yang ada disana mengarah minta penjelasan lagi kepadanya. Kenapa hanya Idris yang boleh tahu?
"Papa rasa ini sudah saatnya kalian semua tau yang sebenarnya. Karena tujuan Papa hanyalah menginginkan Kemil benar-benar mencintai Kamelia tanpa ada rasa balas budi atau pun rasa bersalah." Idris kembali menceritakan pembicaraannya dengan Kamelia kala itu.
****
Flashback On
Ramdani, Maya dan Agung keluar dari kamar Kamelia dengan perasaan kecewa setelah mendapat kabar bahwa Kamelia sedang hamil.
Idris yang masih disana menatap Kamelia dengan perasaan iba.
__ADS_1
Idris mendekat ke arah Kamelia yang semakin terisak dan membelai lembut kepala Kamelia.
"Om sebenarnya siapa? kenapa om bisa ada disini?" Tanya Kamelia sedikit takut.
"Maafkan om, Kamelia... Nama om Idris, nak. Om sahabat lama papanya kamu." Sahutnya penuh rasa iba.
"Apa benar Kamel hamil, om?" Tanya Kamelia menatap Idris dengan tatapan sendu.
"Iya, nak... " Sahut Idris membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Ahhhhkk..." Kamelia menghentakkan punggungnya ke sandaran tempat tidurnya dengan shok.
"Om... Kamelia minta tolong sama, om... Kamel mohon, om bujuk papa kamel... Kamelia tidak akan mungkin menggugurkan kandungan Kamel, om... Janin dalam rahim Kamel tidak bersalah, om... Dia juga berhak hidup." Isaknya seakan percaya dengan lelaki paruh baya yang mengaku sahabat lama papanya itu.
"Cara satu-satunya hanyalah menikahkan putra om denganmu, nak..." Idris menatap Kamelia dengan wajah sendu dan penuh penyesalan.
"Tidak, om... Jangan... Jangan om libatkan putra om dalam urusan Kamel... Hanya om yang boleh tau derita Kamel." Elak Kamelia.
"Ini saatnya om balas budi terhadapmu, nak... Om berhutang nyawa kepadamu. Demi menyelamatkan om, orang yang sama sekali tidak kamu kenal. Kamu sampai harus menerima akibatnya. Kalau saja kamu tidak datang kala itu, mungkin om belum tentu hidup sampai detik ini." Idris mengingatkan Kamelia bahwa dialah lelaki yang pernah ditolongnya.
"Jadi om orangnya?" Kamelia terbelalak tak percaya. "Om bukannya papa Kemil?"
__ADS_1
"Iya, nak... Om orangnya... Om tau kamu bahkan tidak sempat melihat wajah om, karena om tau waktu itu kamu begitu terluka." Tutur Idris mengenang.
"Tapi Kamel tidak ingin terikat dengan anak om... Kamel tidak ingin dia mau menikahi Kamel hanya karena dia merasa berhutang budi." Kamelia menolak tawaran Idris.
"Om tetap akan memaksa putra om untuk menikahimu hingga kamu melahirkan nanti. Agar papa kamu tidak memintamu untuk menggugurkan kandunganmu ini, nak..." Paksa Idris.
Kamelia berpikir sejenak.
"Baiklah, om... Tapi om janji tidak akan memberitahukan yang sebenarnya kepada siapapun termasuk anak om, kan? Kamel hanya tidak ingin anak om jadi kasihan sama Kamel." pintanya lirih dan menuruti kata Idris.
"Iya... Om janji... Kamu harus jaga kesehatan, nak... Kamu gadis yang baik... Om tau itu. Anak om butuh orang seperti kamu. Kamu harus sabar ya apabila nanti hidup bersama putra om.
Saat ini dia punya kekasih yang hanya mengharapkan hartanya saja. Tapi dia tidak pernah mendengarkan kata-kata om.
Om yakin, kamu bisa merubahnya perlahan-lahan." tutur Idris berharap.
Kamelia mengangguk.
"Baiklah, secepatnya om akan datang melamarkanmu untuk anak om. Sekarang om pergi dulu." Pamit Idris seraya bangkit dari tempat duduknya dan disahuti anggukan kepala Kamelia.
.
__ADS_1