KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
SEBENARNYA DIA BAIK


__ADS_3

Senja mulai beranjak seiring lantunan kumandang adzan di mushola desa yang begitu merdu. Riuh gemuruh suara mata air yang mengalir melalui bambu terdengar memecahkan kalbu. Manusia-manusia mengantri untuk berwudhu disana. Gelak tawa anak-anak pun menghibur telinga siapapun pendengarnya. Mereka membawa mukenah dan sajadah masing-masing bagi kaum hawanya. Dan peci serta sarung untuk kaum adam. Dimana lagi ada desa begitu asri seperti itu? Mereka yang saling mengenal satu sama lain tanpa pilih gender maupun kasta.


"Kemil... Bisakah kita mampir?" Kamelia tersenyum memandang keluar jendela mobilnya. Dia seperti anak-anak yang dibawa ke taman hiburan ketika mendapati keramaian di Mushola itu.


"Kenapa tidak? sudah masuk waktu maghrib." Kemil menepikan mobilnya dan memarkirkannya disana.


Kamelia turun dari mobil itu dan segera berbaur dengan orang-orang disana. Dengan mudahnya Kamelia akrab dengan penduduk yang sama sekali belum dikenalnya. Anak-anak pun terlihat senang dengan kehadiran Kamelia di Mushola itu. Kamelia dan Kemil mengikuti sholat berjamaah bersama penduduk desa lainnya dalam shaf yang berbeda. Setelah selesai sholat, halal bihalal pun tak tertinggal oleh mereka.


"Kamu orang baru ya, nak?" Seorang nenek bertanya kepada Kamelia. Dia memerhatikan wajah Kamelia dengan lekat.


"Saya Kamelia, nek..." Kamelia meraih tangan nenek itu dan kemudian menyalaminya. "Saya menantu pak Idris Arayan." Tambah Kamelia lagi. Semua orang yang mendengarnya manggut-manggut dan membulatkan bibir mereka.


"Wah... Menantu juragan rupanya... Juragannya baik... Tapi kalau anaknya, setau kami ugal-ugalan." Seseorang ikut menimpali dan dibalas anggukan setuju dari yang lainnya.


Kamelia hanya tersenyum mendengar ucapan ibu-ibu itu.


"Iya, nak... Apa kamu betah menjadi istrinya?" Seseorang lagi ikut berbisik.


"Namanya Kemil, Bu... Kemil sebenarnya baik sekali, hanya saja dia kurang pandai berbaur. Nanti lama kelamaan pasti ibu-ibu akan tau aslinya suamiku." Sahutnya masih dengan tersenyum.


"Kalau dia baik, pasti kamu yang membuatnya menjadi baik. Secara istrinya cantik dan ramah seperti ini, ya..." Sahut seorang lainnya.


"Terima kasih, Bu..." Kamelia begitu senang mendapat perhatian dari mereka.


Ketika hendak keluar dari mushola. Kamelia memapah seorang nenek-nenek yang sudah sangat renta, namun dengan semangat masih mengikuti sholat berjamaah disana.


Mata Kemil menangkap sosok Kamelia, dan dia pun segera bangkit dari duduknya. Sepertinya dia sudah menunggu istrinya itu sedari tadi.

__ADS_1


Kemil tersenyum mendapati Kamelia yang menolong nenek-nenek itu.


"Kemil…!" Seru Kamelia kepadanya. Kemil mendekat kearah mereka.


"Ini, nek, suami Kamel..." Kamelia mengenalkan suaminya kepada nenek yang ia papah.


"Ini mah nenek tau... Anaknya juragan..." Sahut nenek itu. Bibirnya bergetar menandakan usianya yang sudah lanjut.


Kamelia menoleh kearah Kemil untuk mengisyaratkan sesuatu.


Kemil meraih tangan sang nenek karena mengerti isyarat dari istrinya itu.


"Mirip sekali dengan putranya Rianti..." Tutur nenek itu sambil tersenyum kecil. Di matanya terpancar sebuah kenangan seakan mengenang seseorang yang dikenalnya.


Kemil dan Kamelia saling pandang mendengar penuturan sang nenek.


"Siapa Rianti, nek?" Kamelia begitu penasaran dibuatnya.


"Nenek tinggalnya dimana? Biar sekalian sama kita saja." Kamelia menawarkan tumpangan kepada sang nenek.


"Tidak usah, nak... Terima kasih atas tawarannya. Nenek jalan saja... Rumah nenek dekat dari sini..." Elak nenek itu.


"Tapi, nek..." Bantah Kamelia.


"Ibu..." Seorang lelaki paruh baya datang menghampiri mereka.


"Nah, itu anak nenek..." Nenek itu tersenyum dan mendekati putranya. "Wisnu... Ini cucu juragan Adipati, putranya den Idris..." Nenek itu memperkenalkan Kemil kepada putranya seakan sudah mengenal keluarga Arayan begitu akrab.

__ADS_1


"Iya, Bu... Wisnu sudah mengetahuinya... Wisnu sering melihatnya kok, Bu." Jawab Wisnu sedikit tersenyum.


Kemil dan Kamelia bersalaman dengannya.


"Apa non menantu den Idris?" Lelaki itu memperhatikan Kamelia yang digandeng Kemil. Dan disahuti anggukan kepala sambil tersenyum oleh kamelia.


"Kamu kok tau, Wisnu?" Nenek itu keheranan.


"Den Idris sering menceritakan menantunya kepada kami pekerja, bu. Dia mempunyai menantu yang cantik dan baik katanya..." Kamelia tersipu dibuatnya.


"Jika ibu tidak bertemu langsung, mungkin ibu tidak akan percaya." Nenek menimpali ucapan anaknya itu. "Kalau begitu, nenek pamit ya... Kalian hati-hati..." Mereka berpamitan sebelum meninggalkan Kamelia dan Kemil.


"Aku pun melihatnya..." Kemil menatap punggung dua orang anak beranak itu yang hampir menghilang di balik remang rembulan.


"Melihat apa?" Kamelia terlihat bingung.


"Melihat istriku yang cantik ini menolong nenek tadi." Sahut Kemi tersenyum kearah Kamelia seraya meraih tangan Kamelia.


"Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain..." Kamelia tersenyum dan melangkah meninggalkan Mushola yang sudah mulai sepi bersama Kemil.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2