
Flashback Off.
Toni terdiam membayangkan kejamnya Bram, papanya sendiri. Air matanya berlinangan mendengar cerita tentang mamanya. Tapi dia juga tidak bisa marah untuk itu. Dia tahu, hal yang sama telah diperbuatnya pula terhadap perempuan yang sangat dicintainya, Kamelia.
Idris menghela panjang napasnya sebelum melanjutkan ceritanya. Tangan Rahmah terus mengusap bahu lelaki paruh baya yang merupakan suaminya itu.
"Tanpa restu kakek Adipati, Rianti dinikahi oleh Bram. Papa memaksa Kakek kalian untuk menjadi wali nikah mereka. Tapi kakek kalian tidak mau. Dengan terpaksa Papa meminta hak kuasanya untuk menjadi wali adik kandung Papa sendiri.
Papa sangat menyayanginya... Bahkan Papa tidak bisa harus membiarkan dia pergi dari kami.
Tapi keputusan kakekmu adalah segalanya yang harus dipatuhi. Papa memutuskan membawa Mama dan Kemil pindah dari desa ini. Sampai pada akhirnya papa mendapat kabar bahwa Rianti meninggal saat melahirkan Toni kala itu.
Semua orang di desa ini mengetahui akan hal itu, namun mereka lebih memilih untuk bungkam karena permintaan kakek kalian. Penduduk desa ini sangat berhutang budi sekali dengan kakek kalian yang telah menciptakan lapangan pekerjaan dan beliau merupakan orang yang sangat dihormati. Maka dari itu mereka tidak mau membuka tabir masa lalu kakek kalian." Tatapan Idris menerawang jauh ke depannya. Namun tatapan itu begitu kosong.
"Jadi, karena itu Papa rela saja menyerahkan nyawa Papa kepadanya?" Tanya Kamelia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran mertuanya itu.
"Papa hanya tidak ingin amanat kakek Adipati tidak dijalankan, Kamel. Bram ingin mengambil sebagian tanah milik kakek Adipati. Dan beliau tidak ingin hal itu terjadi. Makanya Papa mempertahankan tanah itu." Sahutnya tak habis pikir dengan nyinyiran menantunya itu.
"Sekarang sudah jelas untuk om Idris... Lalu hubungannya dengan Papa apa?" Ramdani langsung menembakkan pertanyaannya kepada papanya, Agung.
Agung yang terbawa suasana masa lalu mereka, tiba-tiba gelagapan mendengar pertanyaan putranya yang ditujukan langsung kepadanya.
Tidak hanya Kamelia dan Kemil yang menatap tajam kearahnya. Toni yang penasaran akan kebaikan suami istri itu kepada dirinya, juga menunggu jawaban dari papa Kamelia itu.
Agung melirik kearah Idris.
"Ceritakan sajalah... Sudah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan dari mereka." Sahut Idris seakan mengerti arti tatapan Agung.
"Papa hanya merasa bersalah terhadap mamanya Toni, Dan... Seharusnya Papa tidak boleh egois kala itu." Agung mulai menatap masa lalunya kembali. Masa lalu yang memang tidak ingin dikuburnya sampai kapanpun. Hanya saja rasa bersalahnya yang membuatnya begitu takut untuk mengungkapnya kembali.
*****
Flashback On
__ADS_1
Agung mengendarai mobilnya dengan laju yang sedikit cepat. Wajahnya begitu panik mendengar erangan istrinya. Sesekali dia mengelus perut Maya yang sangat buncit dan berada di sampingnya itu.
"Yaa Allah... Sabar ya, sayang... Sebentar lagi kita sampai ke puskesmas." Agung sesekali meremas jemari istrinya.
"Paa... Itu, kan tante Rianti?" Ucap Ramdani kecil yang kala itu berumur lima tahunan berada di bangku belakang mereka.
Agung menajamkan pandangannya kepada perempuan hamil besar bersama seorang lelaki yang masih sedikit jauh dari mobil mereka di depannya.
"Oh iya, Pa... Itu, kan Rianti..." Maya yang tadinya merasa kesakitan ikut bersuara.
"Nah, loh... loh, Pa... Kok Riantinya ditinggal sama Bram... Bramnya kemana, Pa?" Maya bahkan kehilangan rasa sakitnya melihat adik sahabat suaminya itu.
"Sudahlah, Mah... Biarkan saja mereka... Mama tidak ingat waktu terakhir kita bertemu mereka. Bram sampai melayangkan tinjunya kepada Papa karena disangkanya Papa mendekati Rianti." Agung seolah menutup matanya ketika Rianti berusaha melambaikan tangannya ke mobil yang dikendarainya.
"Paaa... Kasihan loooh.." Ujar Maya lirih ketika melewati Rianti yang kesakitan di tepi jalan.
"Mama tutup saja mata Mama ya... Anggap saja Mama tidak melihat apa-apa. Papa yakin Bram tidak benar-benar pergi meninggalkan Rianti." Agung berucap sambil menenangkan hatinya. Sebenarnya dia yang tidak sanggup melihat adik sahabatnya yang sudah dianggapnya adik pula.
Mata Agung berkaca-kaca menyaksikan keadaan Rianti saat itu.
Hati Agung juga tidak tega mengabaikan perempuan itu dijalanan sendirian dalam keadaan sakit dan berlinangan air mata seperti itu.
Maafkan kak Agung, Rianti... Kakak masih ingat bagaimana Bram mewanti-wanti kak Agung kala itu supaya tidak lagi menemuimu.
Pikiran Agung bercabang. Antara mencemaskan istrinya tetapi juga kepikiran akan adik sahabatnya itu pula.
Di puskesmas, Agung terlihat sangat bahagia. Bayi perempuan yang sangat diharap-harapkannya akhirnya terlahir juga ke atas dunia.
Ramdani tidak berhenti mengoceh sedari tadi karena saking bahagia atas kehadiran adik perempuannya itu.
Ketika Agung keluar hendak mengurus sesuatu. Dia bertemu seseorang yang dikenalnya di puskesmas itu.
"Den Agung..." Panggil orang itu dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Pak Kariim... Ada apa bapak disini?" Tanya Agung sembari mendekat kearah orang yang dipanggil dengan nama Karim.
"Itu, den... Non Rianti..." Ujarnya ngos-ngosan sambil menunjuk sebuah ruangan.
"Kenapa dengan Rianti, pak?" Tanpa menunggu jawaban pak Karim, Agung segera berlarian ke ruangan yang ditunjuk pak Karim.
"Buk Bidan... Apa yang terjadi dengan Rianti?" Agung terlihat panik ketika seorang Bidan keluar dari ruangan itu.
"Bapak suaminya ibuk Rianti?" Tanya Bidan itu kepadanya.
"Bukan, buk... Saya teman suaminya."
"Tolong bapak hubungi suami ibuk Rianti, bahwasanya beliau saat ini sedang kritis karena mengalami perdarahan pasca melahirkan. Kemungkinan beliau akan dirujuk ke rumah sakit untuk melakukan penanganan lebih." Tutur Bidan itu.
"Baik, buk... Tapi sebelumnya buk, apa saya bisa menemuinya?" Tanya Agung lagi.
"Silakan, pak... Saya harap segera pak, agar penanganannya bisa cepat dilakukan. Jika terlambat, itu akan membahayakan nyawa beliau." Ujar Bidan itu lagi. Agung segera masuk ke ruangan itu.
"Rianti..." Agung mendekat kearah Rianti yang terbaring lemah di atas brankar ruangan itu.
"Kak A-gung... Rianti min-ta To-long... A-nak Ri-yan-ti kak..." Kalimat terakhir dalam hidup perempuan malang itu membuat Agung terenyak. Penyesalan menghantam dadanya. Bayangan Rianti melambaikan tangannya tadi terus saja menghantui pikirannya kala itu.
Berkali-kali dia memanggil nama adik sahabatnya itu, namun panggilannya tak kunjung mendapatkan sahutan dari sang pemilik nama.
Perempuan itu hanya diam dalam damainya. Dia telah pergi meninggalkan dunia sebelum bertemu dengan keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.