KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MENYEMPURNAKAN SETENGAH AGAMAKU


__ADS_3

Ramdani pov.


Malam itu sehabis Maghrib, pesta besar keluarga Fitria tetap berlanjut.


Mata Ramdani tidak henti-hentinya celingak-celinguk dari pelaminannya. Dia seakan mencari sesuatu dengan matanya yang ideal itu.


"Kak Adan..." Panggil Fitria yang memerhatikan tingkah aneh Ramdani.


"Eh.. I-iya, Fit...?" Ramdani gelagapan.


"Kakak butuh sesuatu?" Tanya Fitria bingung.


"Tidak, Fit... Kak Adan tidak butuh apa-apa kok." Sahutnya. Matanya masih celingak-celingukkan kesana-kemari.


"Lalu kenapa kakak seperti mencari sesuatu?" Tanya Fitria lagi semakin penasaran.


"Itu loh, Fit... Kok sedari tadi Kakak sudah tidak lihat Kamel dan Kemil lagi ya?" Ujarnya dengan kening mengkerut.


"Oh iya ya, kak... Mereka kemana?" Fitria yang baru menyadari ikut bertanya-tanya tentang keberadaan sahabatnya.


Ramdani melihat papanya dari kejauhan. Dia berusaha melambaikan tangannya kearah papanya itu sampai berhasil disahuti.


Agung berusaha menahan-nahan agar tidak segera menemui Ramdani. Dia tahu Ramdani akan sangat marah jika mendengar cerita kepulangan Kamelia dan Kemil ke desanya.


Ada saja yang dilakukan Agung untuk menunda-nunda panggilan Ramdani terhadapnya. Dengan berpura-pura mengobrol bersama kerabatnya, temannya, tamunya. Dan bahkan dia berpura-pura hendak ke kamar mandi.


Seusai acara, Ramdani akhirnya menemui orang tuanya. Dia begitu penasaran tentang keberadaan adik dan iparnya itu. Kalaupun hendak pergi kemana-mana, seharusnya mereka pamit kepadanya atau Fitria. Begitulah pikirnya.


Dengan sedikit mendesak papanya, Agung. Agung akhirnya menceritakan tentang kepulangan Kemil dan Kamelia yang begitu mendadak.


Ramdani begitu geram terhadap Toni karena mendengar cerita papanya. Dia tidak peduli apa pun alasan Toni yang dijelaskan oleh papanya itu.


Dia berencana hendak pulang untuk menyusul adik dan iparnya malam itu juga.


"Apa kamu tidak memikirkan Fitria dan keluarganya?" Agung berusaha keras untuk menghentikan Ramdani.

__ADS_1


"Baiklah, Pa... Tapi jangan cegah Adan untuk memberi perhitungan kepadanya besok." Ramdani menyerah. Dia terlihat kesal dan benar-benar tidak sabar menunggu hari esok.


"Terserah kamu, Dan... Papa tidak akan melarangmu untuk melakukan apa-apa lagi. Kamu sudah dewasa. Bahkan kamu juga sudah menikah. Yang jadi prioritas kamu saat ini hingga akan datang adalah istrimu, nak. Kamel sudah punya suami yang begitu sangat mencintainya. Bahkan Papa tau kamu tidak akan pernah meragukan cintanya Kemil kepada Kamel kita." Ujar Agung. Dia menghembuskan napas kasar dan berlalu meninggalkan Ramdani yang masih berdiri di posisinya.


"Walau bagaimanapun, Pa... Fitria sahabatnya Kamel. Dia juga tidak akan rela sesuatu yang buruk terjadi kepada Kamelku." Gumam Ramdani.


Tidak hanya Kamel dan Kemil yang kepikiran dengan sikap orang tua mereka kepada Toni. Ramdani sendiri juga merasa aneh dengan sikap mereka yang tidak tegas terhadap lelaki yang telah memerkosa adiknya itu.


***


Sepasang manusia yang baru saja sah sebagai suami istri berada dalam kamar pengantin mereka.


Kamar yang masih bertaburan bunga-bunga mawar merah di atas tempat tidurnya.


Fitria duduk di atas tempat tidur itu dengan gaun yang masih sama. Mukanya memerah ketika seseorang mendorong Ramdani masuk ke dalam kamarnya itu.


Perlahan Ramdani melangkah kearahnya. Dengan malu Fitria menundukkan wajahnya yang semakin merona.


Ramdani duduk di tepi tempat tidur itu. Jemarinya meraih dagu runcing Fitria dan bibirnya yang tidak terlalu tebal tersenyum memandangi wajah perempuan yang baru saja dinikahinya.


Jantung Fitria berdegup kencang. Dia menganggukkan kepalanya menyahuti ajakan kakak sahabatnya yang telah sah menjadi suaminya malam itu.


"Kak Adan mandi dulu sana... Aku akan beganti pakaian sebentar..." Ujar Fitria dengan mata masih memandang ke bawah.


Ramdani mendekatkan bibirnya ke bibir Fitria hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.


Fitria memejamkan matanya dengan cepat. Entah kenapa dia begitu kaku malam itu dengan lelaki yang sudah biasa bertemu dengannya dan bahkan sangat akrab dengannya.


Bibirnya yang selalu mengoceh bila bertemu dengan Ramdani, tiba-tiba menjadi bungkam.


Ramdani menggeserkan wajahnya ke daun telinga Fitria.


"Kamu yakin bisa membuka gaunmu sendiri?" Ramdani menurunkan resleting belakang gaun istrinya itu.


Fitria terbelalak.

__ADS_1


Aku pikir kak Adan mau ngapain tadi?~ Batin Fitria.


Ramdani segera bangkit dari tempat tidur itu dan melangkah menuju ke kamar mandi.


Setelah mereka selesai membersihkan badan mereka yang lengket seharian, mereka langsung melaksanakan shalat berjamaah di kamar itu. Dan itu untuk pertama kalinya bagi mereka melaksanakannya bersama.


Seusai shalat, Ramdani menyodorkan tangannya ke istrinya. Dan dengan kikuk, Fitria menyambut tangan Ramdani kemudian mencium punggung tangan suaminya itu.


Ramdani menekukkan lehernya sedikit untuk mencapai puncak kepala Fitria. Dia melafazkan sebuah do'a dan kemudian mengecup ubun-ubun istrinya itu.


Mata Fitria berkaca-kaca karena diperlakukan dengan baik oleh Ramdani.


"Apa kamu bahagia?" Ramdani mengangkat dagu Fitria dengan jemarinya.


"Sejauh ini Fitria bahagia, kak Adan..." Sahut Fitria dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Ramdani mengusap lembut pipi Fitria yang basah karena air mata. "Jadilah makmumku yang siap aku tegur bila salah, dan berkenan menegurku bila aku salah. Kamu telah menyempurnakan setengah agamaku."


Fitria mengangguki ucapan Ramdani.


"Sekarang kita tidur, ya... Kamu pasti lelah seharian. Besok pagi-pagi kita juga harus berangkat ke desa. Dan itu juga sangat melelahkan, bukan?" Ujar Ramdani dengan lembut.


Fitria kembali mengangguk. Dia melipat mukenah dan sajadahnya dan segera naik ke tempat tidur yang telah jadi milik mereka.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2