KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KEHILANGAN


__ADS_3

Waktu terus berlanjut, namun sekalipun mereka tidak melupakan kewajiban mereka di tengah-tengah kebahagiaan yang mereka rasakan.


Kemil dan Kamelia juga berada disana sebagai pengantin yang sama dengan pasangan pengantin yang sesungguhnya.


Kemil sangat terharu atas kejutan yang telah diberikan kakak iparnya itu kepadanya.


"Masih ingin mengecapku kakak ipar yang menyebalkan?" Ramdani berbisik sambil menyeringai kearah Kemil yang berada di sampingnya.


"Hehehe... Kak Adan bisa saja..." Kemil tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa kamu senang?" Ramdani kembali berbisik.


"Aku sangat senang kak..." Sahut Kemil berbinar.


"Tolong jaga Kamelia dan Milkaku dengan baik, Kemil... Sebagai gantinya, kak Adan akan menuruti apa pun yang kamu mau..." Pinta Ramdani lirih.


"Kemil janji, kak Adan... Kemil akan jaga Kamelia dan Milka dengan baik. Kemil tidak butuh apa-apa lagi dari kak Adan, mama Maya dan papa Agung. Kalian sudah percayakan Kamelia dan Milka saja kepada Kemil, sudah membuat Kemil merasa lebih dari cukup." Ujar Kemil. Dia terlihat sekali mengatakannya dengan tulus.


Kamelia menitipkan Milka kepada mamanya Maya. Dan itu pun atas permintaan mamanya sendiri. Maya berharap putrinya juga bisa merasakan kebahagiaannya yang tertunda.


Seusai Ashar, Kamelia dan Kemil sudah berganti pakaian. Kamelia berniat menemui putrinya. Dia begitu sangat merindukan Milkanya.


Sedari tadi, setelah Milka tertidur di pangkuan Kemil di atas pelaminan, Kamelia belum sempat lagi menemui bayinya itu.


"Mah... Milka mana?" Kamelia menghampiri Maya yang tengah asik bercengkrama dengan keluarga besannya yang baru.


"Milka tadi Mama tidurkan di kamar tamu, nak..." Sahut Maya meninggalkan obrolannya setelah permisi.


"Tapi kenapa Kamel tidak menemukannya?" Kamelia sedikit panik.


"Masa iya, nak... Tadi Mama menidurkan Milka disana." Maya terlihat khawatir mendengar kepanikan Kamelia. Dia bergerak menuju ke ruang tamu rumah itu.

__ADS_1


Kemil yang melihat istri dan mertuanya itu panik, dengan segera menghampiri mereka.


"Ada apa, sayang?"


"Ini, nak... Tadi Mama menidurkan Milka di ruang tamu. Tapi kata Kamel, Milka tidak ada." Maya menyahuti menantunya itu karena Kamelia terlihat hampir menangis.


Muka Kamelia memerah karena takut anaknya kenapa-kenapa. Bahkan suara tangisan Milka tidak terdengar olehnya.


"Kamu yang tenang ya, sayang... Coba kita cari dulu ke ruang tamu..." Kemil mengusap lembut bahu Kamelia mencoba menenangkan istrinya itu.


"Aku sudah cari, sayang... Tapi Milka tidak ada disana?" Suara Kamelia terdengar sedikit parau karena menahan sesengukkan.


Pikirannya melayang-layang jauh. Ditambah dia juga tidak melihat Toni sedari tadi disana.


Semua keluarga disana ikut khawatir karenanya.


"Ada apa ini?" Agung tiba-tiba muncul bersama Idris dari arah taman tempat diadakannya pesta.


"Kata Kamelia, Milka tidak ada di kamarnya6 Pa..." Maya mendekati suaminya itu dengan raut kepanikan.


"Apa, Pah? Toni membawa Milka kemana?" Mata Kamelia membulat. Rasa takut semakin menghantuinya.


"Papa juga tidak tau, yang pasti dia mengajak Milka untuk jalan-jalan. Dia bahkan sudah memasang infant car seat pada mobilnya." Agung tidak melihat kegusaran dan ketakutan pada putrinya itu.


"Papa... Bagaimana kalau Toni membawa anak Kamelia jauh-jauh? Bagaimana kalau dia menculik Milka dari Kamelia?" Air mata yang sempat ditahannya sedari tadi berjatuhan seiring sesengukan yang dikeluarkannya.


Agung terbelalak mendengar penuturan dan pertanyaan putrinya yang beruntun.


"Itu tidak mungkin, sayang... Toni tidak akan melakukan itu." Kemil mendekap Kamelia dan berusaha menenangkan istrinya itu.


"Iya, sayang... Itu tidak mungkin, nak... Papa coba hubungi Toni dulu ya." Ujarnya sedikit khawatir akan kebenaran dari ucapan Kamelia.

__ADS_1


Berkali-kali Agung menekan nomor Toni berusaha untuk menghubunginya, namun tidak sekalipun nomor Toni dapat dihubunginya.


Nomor Toni tidak aktif dan berada di luar jangkauan.


"Bagaimana, Pa?" Kemil melirik kearah Agung.


"Tidak aktif..." Agung menggeleng dan segera menurunkan lengannya yang sedang memegang ponsel.


"Tuh kaaaannnn..." Kamelia tidak mampu menahan isak tangisnya.


"Kamu tenang ya, sayang... Mana tau ponsel Toni lowbat. Kemil tetap berusaha menenangkan Kamelia meski hatinya juga ikut gusar dan cemas. Dia juga memikirkan hal yang sama dengan istrinya.


"Kalau begitu, kita coba cari Toni ke rumahnya ya.." Usul Kemil.


"Ya sudah... Papa panggil Adan dulu, biar bisa bantuin kamu cari Toni dan Milka..." Usul Agung di sela-sela kepanikannya.


"Tidak usah, Pa... Biar Kemil sama Kamel saja... Kasihan kak Adan... Ini acara pentingnya. Kak Adan sudah banyak berkorban untuk kami. Nanti kalau Milka kembali kesini bersama Toni, Papa hubungi kami ya, Pa..." Elak Kemil.


"Papa dan Mama ikut kalian ya.." Pinta Rahmah. Dia ingin menemani anak menantunya mencari Milka.


"Tidak usah, Ma... Kan baru dugaan, dia membawa Milka ke rumahnya. Lebih besar kemungkinan dia masih ada di kota ini, kan? Jadi, Mama dan papa bisa bantuin cari disini dulu..." Tutur Kemil menolak permintaan mamanya.


"Ya sudah... Kalian hati-hati ya... Kalau sudah ketemu, atau ada apa-apa tolong hubungi kami." Ujar Idris.


"Iya, Pa..." Sahut Kemil seraya membawa Kamelia keluar dari rumah itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2