KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
PRADUGA TAK BERSALAH


__ADS_3

Ketika semua orang disibukkan dengan berbicara ringan sambil menikmati beberapa hidangan, Kamelia berdiri di samping rumahnya untuk menikmati hawa senja. Itu pertama kalinya dia tersenyum dan berani menatap alam sekitaran rumahnya semenjak kejadian yang menimpanya beberapa minggu lalu.


Entah apa yang membuatnya bisa tersenyum saat itu. Dia mengelus perutnya yang masih datar dan menghirup udara dalam-dalam dengan hidungnya sambil memejamkan mata.


Tiba-tiba suara langkah kaki seseorang mendekatinya sehingga dia harus menoleh ke arah suara itu.


"Begitu nikmat ya? Melimpahkan kesalahan yang telah kamu perbuat bersama ayah dari anak yang kamu kandung kepada orang lain?" Seru orang itu dengan bengis. Orang itu tidak lain adalah Kemil, calon suami yang diminta Idris untuk melindungi kandungannya dari kemarahan Agung.


Kamelia hanya diam dan menundukkan pandangannya.


"Seharusnya kamu tinggal katakan kepada orang tuamu siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu. Orang tua kamu pasti akan mencarinya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Orang tua kamu, kan orang yang bisa melakukan segala hal..." Tambahnya lagi dengan sinis.


Kamelia tetap dalam pertahanannya. Dia sama sekali tidak menjawab apa pun yang dikatakan Kemil kepadanya.


"Baiklah... Mungkin saja kamu simpanan om-om sehingga kamu malu untuk memberitahukannya, bukan?" Kemil memangku tangannya dan menatap ke arah depan tanpa memerdulikan Kamelia yang matanya sudah berkaca-kaca.


Kamelia begitu marah atas tuduhan Kemil kepadanya. Namun demi anaknya, dia kembali berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


"Sayang... Ternyata kamu ada disini? Aku cari-cariin dari tadi..." Seru Misya yang tiba-tiba datang dan bergelayut manja di lengan Kemil. Keinginan besarnya untuk membuat Kamelia merasakan sakit hati memaksanya melakukan itu.


"Eh, sayang... Maafin aku... Tadinya aku ingin menghirup udara segar, tapi tidak sengaja melihat dia." Kemil mengusap-usap kepala Misya. "Karena pernikahan kita berakhir setelah bayi kamu lahir, maka tidak ada salahnya kan aku memiliki kekasih? Kata pacar aku yang cantik ini, kalian dulu satu sekolah. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan lagi kepadamu. Ingat ya... Kalau bukan karena paksaan dari papaku, aku tidak akan sudi menikahi wanita murahan sepertimu." Kemil berlalu sambil menggandeng tangan Misya yang ikut tersenyum mengejeknya.

__ADS_1


Setelah kepergian Kemil dan Misya dari sisi tempat Kamelia berdiri, Mereka meninggalkan segunung rasa sakit di hati Kamelia. Kamelia menahan isaknya, namun buliran-buliran bening itu begitu nakal dan berjatuhan dari sudut telaga indah di matanya.


Kalau bukan demimu, nak... Ibu juga tidak akan mau menikah seperti ini....


Bertahan dan kuatlah kamu disini... Kamelia Mengelus perut datarnya... Ibu janji juga akan bertahan dan kuat untukmu...


Ini hanya sebentar.... Nanti kita akan pergi kemanapun kita mau...


Kamelia mengusap kasar pipinya yang basah. Dia mencoba mengatur napasnya.


Sepasang mata Ramdani tidak berhenti mengamati Kamelia dari balik tirai kaca jendela ruangan mini malis yang menghadap ke arah tempat kamelia berdiri.


Ada dua hal yang ingin dilakukannya saat itu.


Tapi kedua-duanya sama-sama mustahil untuk dilakukan Ramdani saat itu. Yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah memandangi adiknya itu dari posisinya.


Aku rasa ada yang tidak beres... Aku akan cari dimanapun lelaki yang telah menghamili Kamelia...~ Gumam Ramdani seraya mengepalkan tangannya dengan geram.


Baru saja Ramdani hendak melangkah keluar ruangan tempatnya berdiri mengamati adiknya itu, Idris malah tegak seakan menantangnya di pintu masuk.


"Om Idris..." Seru Ramdani.

__ADS_1


Idris mendekati Ramdani yang kembali mematung karena mendapati sahabat papanya itu.


"Om mengerti apa yang ada dalam pikiranmu saat ini, Adan... Tapi bisakah kamu bersabar untuk sementara waktu?" Idris memegangi bahu Adan seolah memohon.


"Sebenarnya ini untuk adikku atau untuk kepentingan om sendiri?" Tanya Ramdani dengan bengis. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabat papanya itu.


"Menikahkan Kamelia dengan putra om hanya akan membuat penderitaan baru untuk Kameliaku... Lebih baik dia menikah dengan lelaki yang telah menghamilinya." Tambah Ramdani.


"Sedangkan untuk bertanggung jawab saja dia tidak berani, bagaimana mungkin kamu bisa berpikir dia lebih baik dari putra om...? Om janji... Om akan menjaga Kamelia dengan baik, Dan... Kali ini om benar-benar memohon kepadamu." Tutur Idris sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dagunya.


Ramdani terdiam mendengar penuturan Idris yang menurutnya perkataan Idris ada benarnya juga.


"Baiklah om... Tapi jika terjadi sesuatu pada Kamelia... Adan tidak akan tinggal diam." Ramdani berlalu meninggalkan Idris setelah mengucapkan kata-kata penuh penekanan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2