
Toni.
Toni ikut tersenyum bahagia menyaksikan pesta pernikahan Ramdani dan Fitria. Ditambah pesta kejutan untuk Kamelia dan Kemil pada hari itu juga.
Andai saja aku tidak berada di antara mereka... ~ Toni bergumam membayangkan betapa kejamnya dia selama ini terhadap Kamelia.
Hasutan-hasutan Misya benar-benar membuatnya menjadi diri orang lain yang tak dikenalinya sendiri.
Toni beranjak meninggalkan taman itu untuk pergi ke kamar mandi. Panggilan alam yang dirasakannya membuat dia tidak bisa lagi menikmati pesta itu dengan khidmat.
"Toni... Kamu mau kemana?" Tiba-tiba Maya datang dari arah kamar tamu dan menghampirinya.
"Eh, tante Maya... Toni mau ke kamar mandi tante." Sahut Toni seraya menoleh kearah mamanya Kamelia itu.
"Oh... Ya sudah, kalau gitu tante tinggal ya..." Pamit Maya beranjak meninggalkan Toni setelah mendapatkan sahutan darinya.
Setelah menuntaskan urusan mendesaknya, Toni berniat kembali ke tempat pesta. Orang-orang disana juga ramah terhadapnya. Namun suara tangisan Milka mendayu-dayu terdengar oleh telinganya, sehingga menghentikan langkah kakinya itu.
"Toni... Kenapa kamu malah bengong disini?" Agung yang hendak bergabung di ruang keluarga terhenti karena melihatnya.
"Eh, om Agung... Ini om, Toni dari kamar mandi. Tapi sekelabat Toni mendengar suara tangisan Milka." Ujarnya sambil menajamkan pendengarannya kearah suara tangisan Milka berasal.
Agung yang penasaran, juga ikut menajamkan indera pendengarannya.
"Benar katamu, Ton... Sepertinya Milka terbangun." Sahut Agung memastikan pendengarannya.
"Sebaiknya kita lihat saja kesana, takutnya tidak ada siapa-siapa yang menungguinya disana." Agung mengajak Toni ke kamar tamu tempat Maya menidurkan Milka tadi.
"Yaa ampuun... Cucu atuk sudah bangun ya..." Agung mengangkat Milka ke dalam gendongannya, berharap Milka berhenti menangis. Namun Milka tidak kunjung menghentikan tangisannya.
__ADS_1
"Om... Boleh Toni mengendong Milka?" Pinta Toni berharap.
"Oh tentu..." Agung menyerahkan Milka kepada papa dari cucunya itu tanpa keraguan sedikitpun. Dia tahu Toni sering mengunjungi Milka kepada Kemil dari cerita menantunya itu.
"Wah anak Papa ngompol ya, sayang... Pantesan jadi rewel begini." Toni kembali meletakkan Milka ke atas perlak yang terbentang di tempat tidur itu.
Agung memerhatikan Toni yang telaten mengganti popok Milka dengan seksama.
"Kamu ternyata juga bisa mengganti popok bayi ya, Ton?" Ujar Agung dengan takjub.
"Bisa sedikit-sedikit, om... Toni memerhatikan Kemil menggantikan popok Milka setiap Toni mengunjungi Milka ke tempatnya." Ujar Toni sambil tetap fokus dengan Milka yang sudah berhenti menangis karenanya.
Setelah Toni selesai mengganti popok Milka, Milka seakan minta digendong oleh Toni.
Toni pun menggendong Milka ke dalam dekapannya.
"Ternyata Milka bisa tenang juga ya bersama kamu, Ton..." Agung terkagum-kagum melihat Toni yang begitu lihai menggendong cucunya itu.
"Mungkin Milka terganggu dengan suara musik yang begitu keras ini kali ya, Ton... Mending bawa saja dia bermain ke depan." Suruh Agung begitu yakin dengan Toni.
"Memangnya tidak apa-apa, om?" Toni sedikit tidak enak hati dengan permintaan Agung. Meski dalam hatinya sangat ingin sekali.
"Memangnya kamu akan membawa Milka kita kemana, sehingga kami harus begitu cemas?" Entah ucapan sindiran, atau kepercayaan yang terlalu berlebihan diucapkan Agung padanya.
"Baiklah, om... Toni malah senang dapat kepercayaan ini dari om." Ujarnya seraya mengikuti Agung dari belakang.
Sesampainya mereka di mobil Toni, Agung terkesiap mendapati infant car seat telah terpasang di mobil Toni.
"Kapan kamu memasangnya, Ton?" Tanya Agung masih terkesiap.
__ADS_1
"Hmm... Baru-baru ini, om... Toni sangat berharap agar bisa membawa Milka jalan-jalan. Meski hanya sekedar keinginan saja kok, om." Ujarnya malu karena kedapatan oleh Agung telah mempersiapkan segala sesuatu untuk putrinya itu.
"Sekarang keinginanmu sudah tercapai, kan?" Ujar Agung terharu.
"Iya, om... Terima kasih, om." Ucap Toni.
Baru saja mereka hendak keluar untuk membawa Milka jalan-jalan, tiba-tiba telpon Agung berdering.
"Kenapa, om?" Toni melirik kearah Agung yang merasa tidak enakan kepadanya setelah mengangkat teleponnya.
"Om diminta untuk k edalam, Ton..." Ujarnya berat.
"Ya sudah, om... Lain kali saja aku bawa Milka jalan-jalannya." Ujar Toni lirih.
"Oh tidak apa-apa kok, Ton... Kamu saja yang pergi. Lagian ini aman kok untuk Milka." Ujar Agung yang begitu sangat percaya kepada Toni.
"Tapi, om..." Toni benar-benar sungkan.
"Tidak apa-apa. Yang penting jangan kamu buat lagi kesalahan yang membuat kami tidak bisa percaya terhadapmu." Ujar Agung yang kemudian beranjak meniggalkan mobil Toni.
Toni tersenyum memperhatikan tingkah lucu Milka. Dengan segera dia membawa Milka pergi dari pekarangan rumah itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.