
"Apa kamu lapar?" Kemil terus saja memerhatikan jalanan yang sudah mulai gelap.
Namun yang ditanya tak kunjung menyahut. Kemil tersenyum mendapati Kamelia yang terlelap di sampingnya. Dia mengelus sedikit kepala Kamelia dengan lembut.
"Perasaan baru sebentar aku diami, sekarang dia sudah berada saja dalam damainya." Kemil menggelengkan kepalanya.
"Tidurlah sebentar, nanti kalau sudah sampai di Caffe, aku banguni." Dia berbicara kepada Kamelia yang sudah tidak mendengarkannya lagi.
Kemil melewati pemukiman penduduk. Jalanan disana sudah lebih terang karena cahaya remang-remang lampu jalan di setiap seratus meternya.
Tiba-tiba dari kejauhan seseorang menghentikan mobil yang membawa mereka.
"Misya? Itu 'kan Misya?" Gumamnya setengah berbisik.
Kemil melirik kearah Kamelia yang masih tertidur pulas. Kemudian membelai lembut kepalanya.
"Tunggu disini sebentar ya, sayang... Mana tau aku bisa menyelesaikan urusanku dengan Misya malam ini." Kemil sebenarnya ragu meninggalkan istrinya itu dalam keadaan tidur. Apalagi untuk menemui Misya.
Tetapi Kemil juga berharap urusannya dengan Misya cepat selesai. Hatinya sudah mantap untuk Kamelia seorang.
Ketika Kemil baru saja turun dari mobilnya, Misya langsung menghamburkan diri ke pelukan Kemil. Namun Kemil dengan cepat melepaskannya dan menarik tangan Misya ke tempat yang agak jauh dari Kamelia yang masih tertidur di dalam mobil itu.
"Sayang... Kita mau kemana?" Misya semakin bingung dengan perubahan Kemil. Ditambah sekelabat dia melihat bayangan Kamelia di dalam mobil.
"Sepertinya hubungan kita cukup sampai disini, Misya." Kemil melepaskan tangan Misya.
Misya ternganga mendengar ucapan Kemil.
__ADS_1
"Maksud kamu, kita putus?" Misya masih tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya dari mulut Kemil.
"Lebih tepatnya seperti itu." Kemil mulai tegas mengatakannya.
"Apa karena dia?" Misya tersenyum penuh kebencian.
"Tidak... Tapi karena kita sudah tidak mungkin lagi bersama, Misya." Ujar Kemil datar.
"Kamu tidak usah berbelit... Karena dia, kan? Karena wanita murahan itu kamu mutusin aku?" Misya meninggikan volume suaranya. Dia tidak terima diputuskan Kemil di saat dia sudah mulai merespon Kemil.
"Jaga ucapan kamu, Misya... Kamelia tidak seperti itu..." Kemil sangat marah mendengar ucapan Misya.
"Kamu tidak ingat bagaimana kamu dulu mengatakannya?" Mereka bertengkar di tengah gelapnya jalanan.
Kamelia terbangun karena merasa tubuhnya bagai ditusuk hawa dingin malam itu. Dia melihat ke sekelilingnya.
"Apa itu Misya?" Gumamnya. Dia semakin menajamkan matanya kearah mereka untuk memastikan seseorang yang sedang bersama suaminya itu.
Kamelia semakin penasaran dengan sosok wanita yang tidak terlihat wajahnya. Dia memilih untuk turun dan memastikannya sendiri.
Kamelia semakin mendekat kearah mereka, namun dia masih saja belum melihat wajah perempuan itu.
"Kemiiil..." Serunya ketika hendak mencapai posisi suaminya dan perempuan itu.
Kemil dan Misya sama-sama menoleh kearahnya.
"Sayang..." Kemil sedikit terkejut karena sudah mendapati Kamelia disisinya.
__ADS_1
"Sayang???" Misya menajamkan ucapannya menirukan panggilan Kemil terhadap Kamelia. Dia terlihat tidak suka mendengar Kemil bersikap perhatian seperti itu kepada Kamelia.
"Kamu sedang apa?" Kamelia sedikit terkejut karena perempuan yang bersama Kemil ternyata memanglah Misya seperti dugaannya.
"A.. Aku tidak sedang apa-apa... Kamu sudah bangun?" Kemil mendekati Kamelia yang masih kebingungan.
"Seperti yang kamu lihat..." Kamelia sedikit gugup karena bertemu dengan Misya saat itu.
Misya ikut mendekati Kamelia dan menarik tangan Kamelia.
"Kamu Mau apa, Misya?" Kemil berusaha mencegah Misya hendak menarik Kamelianya.
"Tidak apa-apa, Kemil." Kamelia menahan Kemil. "Kamu mau bicara apa? Bicara saja disini." Kamelia menepis tangan Misya.
"Aku mau kamu pergi dari hidup Kemil." Misya langsung mengatakan keinginannya. Dan hal itu membuat Kemil tidak suka dan hendak meneriakinya. Namun tangan Kamelia dengan segera menahan Kemil untuk tidak melakukannya.
"Kenapa aku harus pergi dari hidup suamiku sendiri?" Kamelia berusaha sesantai mungkin menanggapi Misya. "Dulu kamu memutuskan persahabatan kita hanya demi Toni. Dan jika seandainya kita masih berteman sampai saat ini, aku yang akan memutuskan pertemanan kita demi Kemil." Kamelia terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dan itu membuat Kemil merasa senang. Tetapi dia juga sangat bingung, Kala itu Misya mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain.
Di sisi lain, Toni melihat Misya dengan dua orang lainnya yang tidak dia kenali.
Sepertinya itu adalah si Kemil dan istrinya. Kesempatan baik untukku membalas Misya dan memberi pelajaran kepada cucu Adipati itu.~ Toni menyeringai. Dia menghentikan mobilnya dari kejauhan untuk menghampiri mereka.
.
.
.
__ADS_1
.