KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KELUARGA ZULHERMAN


__ADS_3

Di kediaman Zulherman.


Senja menampakkan senyumannya pada cakrawala jingga di ufuk barat. Seorang wanita tua tengah duduk di kursi rodanya menatap sendu ke arah kaki langit.


Matanya yang mengabur dan bewarna keabu-abuan terlihat basah. Entah apa yang direnunginya kala itu. Syal yang menjuntai di dadanya, sesekali diusapkannya ke bagian matanya yang dilingkari kulit-kulit kenyal mengeriput. Dia tampak kesepian meski rumah yang ditempatinya begitu megah.


"Ibu... Ada telpon untuk ibu." Seorang wanita paruh baya menghampiri dari arah belakangnya.


"Dari siapa, Chellin?" Suaranya yang memarau keluar untuk bertanya pada wanita paruh baya yang dipanggilnya Chellin.


"Idris, Bu... Apa Idris temannya kak Bram?" Sahutnya sembari bertanya pula.


"Tidak penting, nak..." Dia terlihat butuh, namun tidak ingin.


"Bu... Angkatlah... Sedari tadi namanya tertera di layar ponsel ibu. Sudah berkali-kali, mana tahu penting..." Bujuknya.


"Jika mengenai anak itu... Tidak ada lagi yang penting bagi ibu." Air matanya keluar begitu saja seiring dengan kata-katanya.


"Ibu tidak usah berbohong... Chellin tau ibu sangat merindukan kak Bram... Chellin juga, bu... Chellin mohon... Angkatlah, bu..." Perempuan paruh baya itu berjongkok di depan wanita tua yang dipanggilnya ibu. Air matanya membuktikan kata-katanya adalah sebuah kebenaran dari hatinya. Tangannya menggenggam tangan wanita tua yang ada di hadapannya itu.


"Baiklah... Demimu, ibu akan mengangkatnya..." Sa ut ibu itu menyerah.


Chellin tersenyum sambil menyeka air matanya. Dia menggeser tombol hijau di layar benda pipih itu dengan segera dan begitu bersemangat.


Terdengar sapaan dari seberang.


"Wa'alaikumussalam..."Jawab beliau begitu acuh.


"Tidak usah basa-basi... Katakan... Ada apalagi kamu menghubungiku?"


"Saya rasa... Saya tidak ada lagi urusan dengannya. Jadi, kamu tidak usah berharap kalau saya akan datang untuk menjenguknya sekalipun." Air mata beliau mengalir begitu saja.


"Wa'alaikumussalam..." Panggilannya berakhir.

__ADS_1


"Aku memiliki cucu lelaki yang telah dewasa..." Ujarnya terisak.


"Bu... Apa kak Bram saat ini sedang sakit?" Tanya Chellin khawatir.


"Biarkan saja, Chellin... Ibu sudah tidak ingin lagi berurusan dengan anak tidak tahu balas budi itu." Ujarnya di sela-sela isaknya.


"Tapi, bu..."


"Sudahlah, Chellin... Kamu tidak usah membelanya lagi. Kamu kurang apa sehingga dia memilih perempuan lain? Dan bahkan sampai saat ini kamu masih sabar menjaga ibu. Ibu malu kepada almarhum ibu kamu yang telah mendonorkan jantungnya kepada suami ibu. Ibu malu, nak..." Isak beliau.


"Semua bukan salahnya kak Bram, Bu..." Seorang lelaki paruh baya datang menghampiri mereka. Chellin menatap lelaki itu seakan memohon sesuatu, dan lelaki itu menganggukkan kepalanya.


"Kak Bram telah mengorbankan segalanya untuk membalas budinya kepada Chellin. Hanya saja hubungan mereka yang tidak lebih sebatas kakak dan adik, Bu.


Baginya Chellin adalah adik perempuannya. Dan begitupun sebaliknya.


Aku dan Chellin berhubungan, jauh sebelum ibu Chellin meminta syarat agar kak Bram mau menikahinya. Kami saling mencintai, Bu... Dan kak Bram tau itu.


Dia lebih memilih dicap sebagai anak tidak tau di untung daripada harus menghancurkan perasaan kami. Kak Bram lelaki yang sangat baik, Bu.


Dia sangat merindukan Ibu... Ayolah, Bu... Sebelum terlambat." Lelaki paruh baya itu berlutut kepada perempuan yang sebenarnya adalah ibunya Bram di samping Chellin, istrinya.


"Maksudmu sebelum terlambat apa?" Tanya Chellin menatap kearah suaminya.


"Kak Bram mengidap leukemia." Ujar lelaki paruh baya itu.


Ibunya Bram dan Chellin terkejut mendengar penuturan Suami Chellin.


"Tidak mungkin... Anakku tidak mungkin sakit. Dia lelaki yang kuat..." Ujar wanita tua itu seakan tak percaya. Dia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Chellin.


***


Pagi di kediaman Arayan.

__ADS_1


Kamelia bersama Fitria sudah berkutat di dapur untuk membantu bi Ina menyiapkan sarapan pagi bersama.


"Pagi, sayang..." Maya dan Rahmah datang menghampiri mereka.


" Pagi juga, Mama..." Sahut mereka hampir bersamaan.


"Hmmm wangi sekali... Sudah siap rupanya." Ujar Rahmah seraya mengambil posisi duduknya.


"Sudah, Ma... Baru saja." Sahut Kamelia.


"Trus... Ramdani dan Kemil kok belum kelihatan?" Maya mencari-cari keberadaan anak dan menantu laki-lakinya itu.


"Biar Kamel panggilkan sebentar ya, Ma..." Ujar Kamelia hendak berlalu.


"Pagi semua..." Kemil dan Ramdani datang hampir bersamaan.


"Hmm inii, orang yang mau dipanggil sudah muncul." Kamelia kembali menghadap ke meja makan.


"Habis sarapan kita langsung ke rumah sakit ya... Tadi papa menelpon Kemil..." Ujar Kemil sembari duduk di samping istrinya.


"Oh ya, bi Ina... Hari ini bi Ina ikut ya, tolong jagain Milka kalau Kamel masuk ke dalam rumah sakit." Pinta Kemil dengan sopan.


"Baik, den..." Sahut bi Ina dengan senang hati.


Mereka menikmati sarapan, tanpa mengeluarkan kata sepatah pun hingga selesai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2