KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
DUKA


__ADS_3

Suasana di ruangan Bram terlihat begitu kikuk. Raut wajah Toni yang masih diliputi tanda tanya besar di hatinya tak kunjung terjawab.


"Mama..." Panggil Bram lagi.


"Cukup Bram... Cukup... Kamu tidak usah bicara lagi, nak..." Wanita tua berkursi roda yang dipanggili mama oleh Bram itu pun menangkupkan wajahnya ke lengan Bram yang kurus.


"Yaa Allah... Mana anakku yang dulu kekar dan berotot...? Mana anakku yang dulu tampan dan sehat? Kenapa Kau buat dia sakit? Tidak cukupkah Kau ambil suamiku? Tidak cukupkah Kau ambil kebebasan kakiku? Sekarang kenapa Kau ambil kesehatan anakku juga...?" Wanita berambut putih dan keriput itu menangis sejadi-jadinya sambil menciumi lengan putranya yang terbaring lemah disana.


"Maaa... Bram tidak apa-apa, Ma..." Ujar Bram dengan mata yang basah.


Tangan keriput mamanya memukuli dada Bram sejadi-jadinya dengan tenaganya yang tidak seberapa itu.


"Kamu bilang tidak kenapa-kenapa, hah? Ini apa namanya?" Mama Bram mengangkat tangan lemah Bram yang mengecil dan kering.


"Bram cuma demam, Ma... Nanti juga akan hilang..." Dia mencoba tersenyum menenangkan mamanya.


Chellin dan suaminya menitikkan air mata haru melihat suasana di depan mereka.


Agung, Idris dan keluarganya masuk ke dalam Ruangan itu.


"Eh Id, Agung... Kalian disini juga rupanya?" Bram menoleh ke arah mereka yang baru masuk.


Agung dan Idris hanya tersenyum menyahuti sahabatnya itu. Perlahan-lahan mereka mendekat ke arah Bram.


"Oh iya, Ma... Ini Toni, putraku. Dia cucu Mama..." Tangannya yang di posisi Toni menyatukan dua tangan cucu dan nenek itu.


Meski masih bingung, Toni mencium punggung tangan wanita tua yang dipanggil mama oleh papanya.


"Tampan sekali kamu, nak... Seperti papamu dulu." Ujarnya terlihat senang.


Toni hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Chellin... Bobi..." Panggil Bram lirih kepada sepasang suami istri yang bersama mamanya itu.


Mereka mendekat ke arah Bram.


"Kak Bram..." Chellin menangkupkan wajahnya ke dada Bram. Disana, dia menangis sejadi-jadinya. "Kak Bram... Maafkan Chellin, kak." Ujarnya di sela-sela isak tangisnya. Persis seperti kakak adik yang baru beranjak remaja.


"Kenapa kamu minta maaf? Harusnya kak Bram berterimakasih kepadamu, karena kamu telah menjaga mama selama ini." Bram mengelus lembut kepala Chellin.


Bram menoleh ke arah Idris dan Agung bergantian. Kemudian menatap lama ke arah Kamelia. Kamelia yang seakan mengerti arti tatapan Bram, segera tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya yang mengalir begitu saja dengan deras.


"Toni... Papa boleh minta sesuatu, nak?" Bram menoleh kearah Toni yang berada di sisi kanannya. Dia menatap sendu kearah putranya itu.


"Katakan, Pa... Toni akan lakukan apa yang Papa mau..." Ujar Toni antusias.


"Tolong... Kamu jaga... Nenekmu..." Hembusan nalas terakhir Bram masih terdengar setelah dia mengucap dua kalimat pendek dari bibirnya yang pucat pasi tak berdarah.


Semua di ruangan itu menangis atas kepergian Bram. Bobi, suaminya Chellin menyempatkan diri memanggil dokter.


Seorang dokter dan seorang perawat masuk ke ruangan itu.


"Ah... Dokter... Syukurlah anda datang... Tolong bangunkan papa saya dok... Kami masih ingin mengobrol bersamanya..." Seru Toni segera.


Sang dokter memeriksa Bram dan meraba denyut nadinya.


"Mohon maaf... Pasien sudah meninggal..." Ujar sang dokter dengan berat hati menyampaikan kabar duka itu ke keluarga pasiennya.


"Ap... Apa dok?" Toni ternganga seakan tidak percaya. Dengan segera dia membenamkan wajahnya ke dada Bram.


"Braaammm..." Pekik mama Bram. Dia menangis sejadi-jadinya, Chellin segera memeluk mamanya Bram untuk membagi sedikit kekuatannya yang tersisa.


"Pah bangunlah... Toni tidak ingin sendiri, pa... Toni mohon..." Dia kembali mengangkat wajahnya untuk menatap wajah papanya yang telah damai dalam tidurnya yang abadi.

__ADS_1


Kedua tangannya menekan-nekan daging pipi papanya yang tipis.


"Bangunlah Pa... Papa mau apa? Katakan... Toni janji akan menuruti apa pun maunya Papa..." Isak Toni.


Kamelia yang melihat Toni seperti itu, refleks melangkahkan kakinya beberapa langkah hendak menghampiri lelaki yang pernah akrab dengannya itu.


Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Dia kembali ke belakang dan memeluk suaminya.


Kemil sangat mengerti dengan perasaan Kamelia saat itu. Dia melirik ke arah Agung yang kebetulan juga menatap iba dengan putrinya.


Agung menganggukkan kepalanya seolah mengerti arti tatapan Kemil.


Kemil memapah Kamelia yang terisak di dalam dadanya. Dia membawa Kamelia ke arah taman rumah sakit yang terlihat sepi.


"Bagaimana perasaan aku seegois ini, sayang? Hatiku sangat besar keinginannya untuk menenangkan Toni saat ini. Tapi mentalku tak sekuat itu..." Kamelia tidak berani menampakkan wajahnya.


"Sayang..." Kemil hendak mengeluarkan wajah Kamelia dari dadanya, namun dengan kuat Kamelia menahan tubuhnya agar tetap berada dalam dekapan Kemil.


Kemil yang mengerti keinginan istrinya itu kembali memeluk erat Kamelia dan mengusap pelan punggungnya. Kemil memberikan kehangatan yang sangat dibutuhkan oleh hati istrinya itu.


"Biarkan seperti ini dulu, sayang... Aku malu menatap dunia... Hiks... Hiks... Hiks... Aku malu dicap sebagai pendendam, pembenci dan keras hati." Ujar Kamelia di sela-sela isak tangisnya.


Kemil menghujani ubun-ubun Kamelia dengan kecupannya. Matanya yang ideal sudah perih sedari Bram menghembuskan napasnya yang terakhir tadi. Namun ditahannya agar Kamelia leluasa meminta kehangatan dari ketegarannya yang terlihat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2