KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KEKHAWATIRAN


__ADS_3

Flashback Off


"Jadi itu alasannya kamu menjauhiku? Hanya demi Toni? Dan karena itu juga Toni membenciku hingga ia sampai memperkosaku?" Kamelia terbelalak tidak percaya. Sedangkan Misya menyeringai penuh kemenangan.


"Aku pikir kamu memutuskan persahabatan kita karena Toni membenciku dan kamu memilih ikut membenciku, Misya." Kamelia begitu geram mendengar cerita Misya.


"Iya... Tapi sekarang aku sudah tidak butuh Toni. Aku mau Kemil... Kamu harus meninggalkan Kemil untukku, Kamel." Misya begitu memaksakan keinginan dan keegoisannya.


"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, kan? Dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk memberitahumu..." Kamelia begitu terluka. Dia segera memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah.


"Bukankah bayi yang kamu kandung itu adalah anaknya Toni?" Kamelia menghentikan langkahnya sejenak dan berniat hendak masuk kembali.


"Kameel... Aku sarankan kepadamu, sebaiknya tinggalkan Kemil dan menikahlah dengan Toni. Anak kamu itu butuh bapak biologisnya." Kamelia tetap tidak menggubris kata-kata Misya. Tubuhnya begitu menggigil karena mendengar nama Toni. Bayangan tubuhnya dijamah Toni kembali berputar di benaknya.


Misya berlari hendak mengejar Kamelia.


"Kameel.. Kamu jangan berpura-pura tuli. Ingat Kamel, Toni itu sangat mencintai kamu. Dia pasti bersedia menikahimu. Lepaskan Kemil untukku, Kamel" Misya menarik tangan Kamelia. Dan dengan kuat Kamelia menyentakkan tangan Misya yang berusaha menahannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Kamelia memegangi perutnya. Dia merasakan nyeri pada perutnya yang buncit itu. Kamelia memegangi pintu dan berusaha pelan-pelan menjatuhkan dirinya.


Dari dalam, bi Ina, pelayan rumah itu segera keluar karena mendengar keributan yang terjadi antara Kamelia dan Misya.


Bi Ina begitu terkejut melihat istri anak majikannya itu mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang buncit.


Dengan segera bi Ina mengabari Kemil lewat ponselnya.


Misya hanya menatap cemas kearah Kamelia. Dia juga dipenuhi dengan rasa ketakutan.


****


Dan hari itu dia mendengar semua pengakuan Misya terhadap Kamelia. Toni begitu geram dan hendak mencabik-cabik mulut Misya yang sudah berlebihan kurang ajarnya. Namun Toni menahan niat hatinya itu. Dia ingat betul kejadian malam itu, Kamelia yang sedang mengandung anaknya hampir saja celaka karena melihat dirinya.


Toni tidak ingin hal itu terjadi lagi. Dia terus saja memerhatikan dan mengawasi dua perempuan itu dari jauh. Tetapi ketika Kamelia terlihat kesakitan, Toni begitu cemas. Tanpa pikir panjang Toni berlari mendekati Kamelia yang sudah tidak berdaya karena sakitnya.


Toni mendorong Misya hingga terjerembab disana. Dia dengan segera mengangkat tubuh Kamelia dan berlari menuju ke mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari rumah itu.

__ADS_1


Kamelia tidak mampu berbuat apa-apa ketika yang mengangkatnya adalah Toni. Tubuhnya tidak mengizinkannya untuk memberontak.


"Toni..." Kamelia sempat menyebut nama Toni dengan lirih dan nyaris tidak terdengar.


"Maafkan aku, Kamel... Maaf... Maafkan aku... Bertahanlah untuk sebentar saja." Dia selalu mengucapkan kata-kata itu. Butiran bening berjatuhan dari pelupuk matanya yang tidak kalah ideal dan nyaris sempurna. Dia benar-benar mencemaskan wanita yang sangat dicintainya itu. Namun pernah disakitinya pula.


Toni melajukan mobilnya kearah puskesmas desa dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, Kemil mencapai pekarangan rumahnya sepeninggal Toni. Sedangkan Misya juga sudah pergi karena rasa takutnya.


Dengan setengah berlari, Kemil masuk ke dalam Rumahnya dan memanggil-manggil nama istrinya itu.


Bi Ina muncul dari dalam dengan penuh kekhawatiran.


"Bi Ina... Dimana Kamel, bi? Dimana istri saya?" Kemil tidak mampu menahan rasa takut, cemas dan khawatirnya.


Bi Ina menceritakan semua yang diketahuinya. Apa yang telah didengar dan dilihatnya sedari tadi.

__ADS_1


"Bi... Tolong hubungi papa dan mama. Kemil akan cari Kamelia di Puskesmas." Kemil kembali mencapai mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumahnya itu menuju puskesmas desa.


__ADS_2