KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
UPAYA MISYA


__ADS_3

Jika aku tidak bisa lagi mendapatkan Kemil, maka aku harus bisa kembali dengan Toni...


Misya ingat betul cerita papanya bahwa Toni merupakan salah seorang cucu Adipati Arayan, pemilik perkebunan teh dan tanah terluas di desanya.


Dia terus mengendarai motor metiknya melewati jalanan yang diapit perkebunan teh disisi kiri dan kanannya.


"Toniiii..." Seru Misya ketika mencapai kediaman Arayan. Kala itu dia merasa beruntung masih mendapati Toni disana, meski Toni dan neneknya sudah berpamitan hendak memasuki mobil yang akan menumpangi dirinya dan neneknya untuk pergi.


Semua orang menoleh ke arah Misya dan menatapnya penuh selidik.


"Toni... Ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Misya ketika telah mendapati posisi terdekat Toni. Dia mencoba mengambil lengan Toni, namun dengan segera Toni menepisnya.


"Bicarakan saja disini..." Saut Toni ketus.


"Tapi Ton..." Misya mencoba untuk protes.


"Ya sudah... Aku minta maaf, aku dan nenekku harus berangkat." Potong Toni dengan cepat.


"Iya... Iya... Okeee. Aku masih mencintaimu, kumohon... Terima kembali aku sebagai kekasihmu." Pintanya tanpa rasa malu sedikitpun.


Semua orang menoleh ke arah Toni. Mereka seakan ikut menunggu keputusannya.


"Maaf Misya... Sepertinya aku sudah tidak bisa lagi. Kamu sendiri kan tau alasan aku berhubungan denganmu kala itu." Elak Toni datar.

__ADS_1


"Toni... Aku mohon. Bukankah kamu sudah tidak lagi mengharapkan Kamel. Dan... Dan Kemil mengingkari janjinya kepadaku Toni..." Dia memasang wajah memelas untuk mendapatkan simpati lelaki itu.


Wajah Kemil memerah akan pernyataan Misya.


"Kita ke dalam yuk sayang..." Ajak Kemil seraya menarik tangan Kamelia. Namun Kamelia menahannya. Dia kemudian menyerahkan Milka yang berada dalam gendongannya kepada Kemil.


"Aku rasa, kamu tidak perlu menjawabnya Ton..." Semua orang terkejut mendengar Kamelia berbicara baik untuk pertama kalinya kepada Toni.


Mata Toni berdelik heran ke arah Kamelia. Perasaan bersahabatnya kembali muncul, setelah sekian tahun hilang meski hatinya berharap kembali.


"Apa maksud kamu?" Tanya Misya ketus dan raut wajah tidak suka.


"Meski kamu telah sadar sekalipun, tapi kamu tidak layak dicintai oleh mereka berdua Misy... Lebih baik kamu pergi... Kamu hanya membuang-buang waktu kami saja." Tukas Kamelia dengan tegas.


Meski ikut terkejut, namun Toni merasa senang dengan pernyataan Kamelia yang kembali terlihat care kepadanya.


Matanya melirik ke arah Milka yang berada dalam gendongan Kemil. Dia tersenyum menatap penuh harap, agar apa yang dinyatakan Kamelia tentang Milka adalah sebuah kenyataan.


"Aku tau, kamu datang kesini karena kamu mengetahui bahwa aku salah satu cucu kakek Adipati Arayan kan Misya? Dan... Kamu harus tau, aku juga pewaris tunggal dari perusahaan besar almarhum kakekku di kota..." Toni sengaja menekan ucapannya untuk melihat reaksi Misya.


Mata misya membulat. "Toni... Ku mohon... Nikahi aku..." Kata-kata yang dulu sering keluar dari mulut Misya, sekarang terdengar penuh ambisi setelah mendengar penuturan Toni.


"Dari gaya bicaramu, kamu jelas hanya mencintai hartaku saja Misya. Dan aku sangat yakin, waktu kemarin-kemarin kamu mengharapkan Kemil juga karena itu." Mata keberanian Toni terbuka setelah mendengar penuturan Kamelia tadi.

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar mencintai kamu Toni... Bahkan sudah sedari dulu?." Misya mencoba meraih tangan Toni, namun lagi-lagi Toni menepisnya.


"Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku Misya... Kamu hanya mencintai dirimu sendiri... Karena sesungguhnya cinta itu sanggup melihat orang yang dicintainya bahagia meski bukan bersama dirinya." Toni sedikit mengeraskan ucapannya. Kamelia dan semua yang ada disana seakan terpukau dan merasa salut mendengar penuturan Toni. Mereka semua sadar bahwa ucapan Toni sangat dalam maknanya untuk perasaannya sendiri terhadap Kamelia.


Terimakasih Toni... Aku salut denganmu...~ Batin Kemil seraya tersenyum tipis.


Toni kembali berpamitan kepada Keluarganya dan keluarga Kamelia yang melepasnya disana, kemudian berputar arah menuju mobilnya yang terparkir sedari tadi disana.


Misya menjatuhkan badannya berlutut kepada Toni. Dia benar-benar mempertaruhkan malunya di depan Kamelia dan Kemil beserta keluarga mereka. Sebelah kaki Toni berhasil digapainya, dan kemudian menangis sejadi-jadinya berharap agar Toni mau menerimanya kembali.


"Maafkan aku Misya... Jika kamu bisa berubah lebih baik, kamu pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik lagi dariku." Ujarnya mulai melunak, Misya pun melepaskan kaki Toni.


Dia hanya mampu menatap kepergian Toni setelah keluarga besar Arayan masuk dan meninggalkannya seorang diri disana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2