KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
RAMDHANI DAN FITRIA


__ADS_3

Sore itu setelah berpamitan dan memastikan Toni sudah dalam baik-baik saja. Agung, Maya beserta Ramdani dan istrinya berangkat ke desa tempat mereka menetap.


Selama perjalanan pulang, tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Mereka terlihat lelah karena kurang tidur semenjak pernikahan Ramdani dan Fitria hingga pemakaman Bram usai.


Sesampainya mereka di kediaman Effendi.


"Selamat datang sayang... Maaf ya nak, tidak ada acara khusus untuk penyambutanmu. Tapi mama harap kamu bahagia menjadi bagian dari keluarga ini." Maya masih menyempatkan merangkai kata untuk menantu perempuannya itu.


"Terimakasih mama... Fitria bahagia sekali... Fitria harap mama bisa ajari Fitria dalam segala hal, agar Fitria bisa menjadi menantu dan istri yang baik di rumah ini." Sautnya penuh ketulusan.


"Iya sayang... Itu pasti. Sekarang kalian istirahatlah... Kalian pasti lelah." Perintah Maya dengan lembut dan kemudian mengecup lembut dahi menantunya itu.


"Selamat beristirahat sayang..." ujar Maya lagi sambil memeluk tubuh kekar putranya.


"Selamat beristirahat juga mah... Pah..." Mereka beranjak meninggalkan posisi mereka menuju ke kamar.


Ramdani menggandeng tangan istrinya dan sebelah lagi menarik koper Fitria.


"Selamat datang di kamar kita Fitria..." Ucap Ramdani berbinar. Dengan sigapnya Ramdani mengunci pintu kamarnya kembali.


Fitria menatap takjub ke seluruh ruangan yang sama sekali belum pernah di masukinya itu. Mulutnya yang sempat ternganga ditutupinya dengan kedua telapak tangannya. Kamar yang sudah didekor indah oleh Ramdani sebelum pernikahannya beberapa hari yang lalu.


"Apa ini kak Adan yang menghiasinya?" Tanya Fitria tanpa berhenti menyapukan pandangannya keseluruh ruangan yang lumayan luas itu.


"Iya... Apa kamu menyukainya?" Tanya Ramdani sedikit malu.


"Fitria sangat menyukainya kak Adan..." Sautnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kalau kamu senang, lalu kenapa kamu menangis?" Ramdani meraih dagu runcing Fitria.

__ADS_1


"Aku terlalu bahagia kak Adan... Seumur-umur, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini." Ujarnya dengan air mata yang akhirnya lolos dari matanya yang indah itu.


"Tidak pernah? Jangan bilang aku adalah lelaki yang pertama dalam hidupmu." Ramdani menatap tajam mata wanita sahnya itu dengan seksama, seakan tengah mencari kejujuran yang tersembunyi di dalam sana.


"Tapi itu adalah kenyataannya kak Adan. Mungkin akulah yang bukan pertama di hati kak Adan" Sungut Fitiria.


"Memang..." Ramdani melangkah membelakangi Fitria.


Fitria terlihat merengut karena jawaban singkat Ramdani. Dia tidak bergeming dari posisi tempatnya berdiri. Tatapan matanya mengarah ke punggung Ramdani, berharap agar suaminya itu berbalik dan menjelaskan apa yang didengarnya itu adalah sebuah kebenaran.


Ramdani kembali mundur ke belakang untuk meraih tangan istrinya. "Kamu memang bukan yang pertama di hati aku, tetapi kamu adalah perempuan pertama yang singgah di hati aku setelah mama dan Kamelia, sayang." Ujar Ramdani meyakinkan istrinya yang masih merengut.


Pipi Fitria memerah ketika panggilan sayang terdengar oleh telinganya dari mulut Ramdani.


"Apa kamu senang dengan panggilanku itu untukmu?" Ramdani meraih dagu runcing Fitria agar melihat kearahnya.


Fitria tak menyahuti ucapan suaminya yang terlalu menggoda baginya. Mukanya memerah menahan malu.


"Aku suka..." Saut Fitria cepat. "M.. Maksudku..." Mukanya semakin memerah ketika bibir Ramdani menyentuh lembut bibirnya. Dia sesaat bagai dikutuk menjadi patung.


"Cukup aku suka... Jangan ditambah lagi, sayang. Dan aku mau kamu juga memanggilku begitu." Kedua tangan Ramdani mengapit pipi Fitria yang semakin memerah bagai warna tomat masak.


"Apa kamu mau memanggilku sayang?" Ramdani mengulangi pertanyaannya.


Fitria mengangguk malu.


Ramdani tersenyum, dia segera menarik tubuh Fitria ke dalam dekapan dadanya yang bidang.


"Terimakasih sayang... Kamu sudah mau bersabar untuk beberapa hari ini." Ramdani semakin menguatkan pelukannya.

__ADS_1


"Terimakasih kembali kak... Mmm sayang. Terimakasih sudah memilihku menjadi pendamping dalam hidupmu."


Ketulusan membuatmu tidak membanggakan dirimu sendiri... Kamu lebih memilih untuk kembali merendah dan berterimakasih...


"Sayang... Aku mau mandi..." Ujar Fitria lirih. Dia sepertinya terlalu nyaman dalam dekapan suaminya itu.


"Hmmm... Baiklah..." Ramdani melepaskan pelukannya.


Seusai mereka bersih-bersih dan shalat Isya, mereka langsung naik ke atas tempat tidur yang lumayan luas itu. Meski mereka sudah biasa beberapa hari tidur bersama dalam satu tempat tidur, namun mereka belum pernah melakukan apapun.


Seperti biasanya, setiap lelah Ramdani akan langsung tertidur beberapa saat setelah merebahkan dirinya di tempat ternyamannya itu.


*Kata mereka, cinta taunya tempat dia berpulang... Itulah mata cinta.


Hari ini kamu menggodaku sayang... Hari esok dan selanjutnya, tidak akan aku biarkan kamu terlepas dari cintaku.


Terimakasih yaa Allah... Kau kirimkan Kamelia sebagai jembatan bagiku menyeberangi samudra cintaku menuju kak Ramdani, Imam yang kau pilihkan untukku dan insyaa allah juga untuk anak-anakku kelak*.


Fitria terus memandangi wajah suaminya yang terlelap damai dalam tidurnya hingga matanya yang indahpun menyusul ke alam mimpi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2