KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MUBADZIR


__ADS_3

Kamelia begitu terkejut mendengar nama Toni disebut oleh suaminya.


"Sayang, serahkan ponselmu... Aku yang akan bicara dengannya..." Kamelia tidak sabaran hendak memaki lelaki yang pernah menjadi sahabatnya itu.


"Tapi, sayang..." Kemil sedikit ragu.


"Sayang... Aku mohon..." Pinta Kamelia sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Baiklah..." Kemil menyodorkan ponselnya kepada Kamelia.


Kamelia menggeser tombol hijau di layar itu.


"Toni, kamu dimana? Kemana kamu membawa Milkaku? Kamu jangan macam-macam.... Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Milka dariku..." Entah pertanyaan, entah makian yang dilontarkan Kamelia secara beruntun seperti itu. Yang jelas Toni sangat terpukul mendengarnya disana.


"Sayang... Sudah ya... Biar aku yang bicara sekarang." Bujuk Kemil.


"Tapi dia tidak menjawabnya..." Kamelia mulai terisak.


"Aku loudspeakerkan, nanti kamu akan mendengar jawabannya." Bujuk Kemil lagi.


Kamelia menurut. Dia seperti hilang akal jika menyangkut Milkanya.


"Hallo, Toni..." Kemil melunakkan suaranya. Dia yakin ada itikad baik dari Toni sehingga Toni menghubinginya.


"Kamu dimana sekarang?" Kemil masih menahan nada suaranya.


"Kalau kamu mencoba menghubungiku, kenapa papa Agung tidak bisa menghubungimu tadi siang?"


"Lalu bagaimana dengan Milka?"


"Baiklah.... Kami sudah hampir sampai di desa. Kami akan segera ke rumahmu."


Kemil menutup panggilan dari Toni setelah mengetahui keadaan Milka.

__ADS_1


"Kamu sudah dengarkan, sayang? Milka baik-baik saja." Kemil mengelus lembut kepala Kamelia.


"Tapi aku belum tenang kalau belum bertemu Milka..." Ujar Kamelia menghentikan paksa sesengukkannya.


"Iya... Tapi kita makan dulu ya." Pinta Kemil lirih. Wajah Kamelia terlihat memucat olehnya.


"Tapi, sayang..." Kamelia mencoba hendak membantah.


"Apa kamu tidak kasihan dengan Milka? Dia pasti kehausan sekarang. Sedangkan kamu belum makan sama sekali. Bagaimana kamu akan menyusuinya?" Kemil terus membujuk Kamelia.


Kamelia tampak berpikir dengan penuturan suaminya itu.


"Ya sudah, sayang... Kita makannya di warung lesehan saja ya..." Pinta Kamelia lirih.


"Iya, sayang... Kita akan makan di warung bi Kalsum saja ya." Ujar Kemil tersenyum akan permintaan sederhana dari istrinya itu.


"Yang sering kamu bingkis bawa pulang itu?" Kamelia begitu antusias mendengar nama pemilik warung yang disebutkan suaminya.


"Iya... Kamu suka?" Kemil ikut tersenyum senang melihat Kamelianya yang hampir seharian menangis.


Kemil mengacak rambut Kamelia. Dan Kameliapun terlihat senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


Tidak memakan waktu lama, mereka akhirnya memasuki desa. Kemil membawa Kamelia ke warung bi Kalsum.


Baru saja mereka turun dari mobil, Kamelia terlihat begitu berbinar ketika matanya mendapati warung itu.


"Warungnya terlihat rapi dan bersih, sayang..." Puji Kamelia.


"Iya... Ini sudah jadi langganan aku sejak balik ke desa ini. Ya sudah... Ayo kita masuk." Kemil meraih tangan Kamelia dan menggandeng tangan istrinya itu.


"Eh den Kemil... Mau pesan apa, den?" Tanya penjaga warung dengan ramah ketika mendapati Kemil masuk ke warungnya.


"Sebentar ya, bi..." Dia menyahuti pertanyaan penjaga warung yang ternyata bi Kalsum itu sendiri. Dan bi Kalsum dengan sabar menunggu.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau makan apa?" Kemil begitu senang melihat raut wajah istrinya yang seperti tidak sabaran dihidangkan makanan di warung itu.


"Aku mau ayam yang sering kamu bungkus bawa pulang...?" Sahut Kamelia sambil membayangkan makanan itu.


"Oooh..." Kemil membulatkan bibirnya. "Ayam Lodho dua, bi... Nasinya satu saja." Kemil memberitahukan pesanannya kepada bi Kalsum yang masih setia menungguinya.


"Baik, den Kemil, non... Ditunggu sebentar ya..." Ujar bi Kalsum. Bi Kalsum segera mengambilkan pesanan mereka setelah mendapat sahutan dari mereka.


Tidak menunggu waktu lama, pesanan mereka datang.


Kamelia terlihat tidak sabaran menikmati ayam Lodho masakan bi Kalsum.


"Kamu tidak pernah bilang kamu menyukai ayam Lodho." Kemil keheranan melihat antusiasnya Kamelia dengan masakan itu.


"Kamu saja yang tidak pernah bertanya.." Kamelia menjawab dengan acuh dan terus saja menyuapi makanannya dengan lahap.


"Iya, maaf...?" Kemil tersenyum. Dia senang dengan kondisi Kamelia yang jauh membaik setiap harinya.


"Gimana, sayang? Kamu sudah kenyang?" Kemil menatap kearah piring Kamelia yang sudah kosong.


"Sebenarnya mau nambah, tapi kasihan Milka. Dia pasti kehausan dan lapar disana." Ujarnya kembali sendu.


"Ya sudah... Besok-besok kita kesini lagi. Malam ini kita langsung saja ke tempat Toni ya." Kemil menyudahi makanannya yang tinggal beberapa suap lagi.


"Habiskan dulu, sayang... Mubadzir. Ingat... Di luaran sana masih banyak yang kelaparan loh, sedangkan kamu malah buang-buang makanan disini." Ujar Kamelia tidak senang Kemil menyisakan makanannya.


"I-iya sayang..." Kemil membayangkan apa yang diucapkan Kamelia. Dan kembali memakan makanannya sampai habis.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2