
Sudah lama senyuman manis itu tidak merekah dari bibir Kamelia. Dan kali itu dia benar-benar bahagia karena kedatangan abung dan kedua orang tuanya. Dan menjadi surprise untuknya adalah kedatangan sahabatnya, Fitria.
Ramdani telah menceritakan kepada Kamelia bahwa berkat Fitria-lah mereka bisa sampai disana.
Mereka saling bercengkrama di ruangan keluarga kediaman Arayan. Sesekali gelak tawa mereka membahagiakan hati Kamelia. Ramdani memerhatikan mata Kemil yang sibuk mencuri-curi pandang kearah adik kesayangannya itu.
"Sayang... Sudah larut, nak... Mama dan papa harus pulang..." Maya menatap sendu kearah putrinya. Rasa bersalah dan penyesalan di dalam dirinya membuat wanita paru baya itu enggan jauh dari peutri semata wayangnya.
"Kenapa terburu-buru, May... Besok saja pulangnya." Rahmah dengan akrab menyahuti besannya itu. Dia bisa mengerti perasaan ibu dan anak itu. Mereka bahkan belum melepaskan rindu mereka setelah berbulan-bulan tidak berkomunikasi.
"Iya, Gung... Menginaplah semalam ini... Ruang tamu kosong kok. Ramdani bisa tidur dengan Kemil. Sedangkan Fitria pasti masih ingin melepaskan rindunya dengan Kamelia." Timpal Idris membujuk sahabatnya itu.
Kamelia tersenyum seolah berharap kepada mama dan papanya yang terlihat ragu.
"Baiklah kalau kamu memaksa..." Gurau Agung sambil terkekeh.
Dalam keasikan bercengkrama, tiba-tiba Kamelia meringis sambil memegang perutnya.
Kemil yang melihat reaksi Kamelia, refleks bangkit dari duduknya dan menjatuhkan lututnya ke depan Kamelia.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa perut kamu sakit?" Kemil terlihat cemas. Tangannya mengenggam jemari Kamelia.
Semua mata menatap mereka. Orang-orang disana tidak terlalu mengkhawatirkan Kamelia, mereka hanya menatap haru kearah Kemil yang berlutut di depan Kamelia karena khawatir.
"Eh.. I-itu... Sepertinya bayiku menendang sedikit keras." Kamelia terlihat risih dengan kekhawatiran Kemil terhadapnya. Apalagi di depan keluarganya, sahabatnya dan kedua orang tua Kemil itu sendiri.
"Yaa ampuun... Kamu jangan nakal, nak... Kan kasihan ibu kamu kesakitan seperti itu." Ucapnya sambil mengelus lembut perut buncit Kamelia.
Mungkin Kemil sedari tadi tidak menyadari berada di tengah-tengah keluarganya dan keluarga Kamelia, sehingga dia memperlakukan Kamelia seperti itu.
Kamelia semakin risih karena semua orang tersenyum jahil kepada mereka.
Yaa Allah... Kenapa aku tidak bisa memaafkan diriku karena sempat menghukum putriku yang tidak bersalah kala itu? Aku malu sebagai papa Kamelia, yaa Allah... Lelaki yang bukan ayah dari bayi yang dikandung oleh putriku saja begitu perhatian dan peduli kepada putriku.... Bagaimana bisa aku sampai berpikir agar Kameliaku menggugurkan bayi yang tak berdosa dalam rahimnya...
Ampuni aku yaa Allah...
Agung menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan yang mengharukan di depan matanya itu.
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Kemil bisa berubah seperti itu? Lalu bagaimana dengan perempuan yang bergelayut di lengannya kala itu? ~ Ramdani sangat penasaran dengan apa yang terjadi selama enam bulanan terakhir.
__ADS_1
"Kemil... Sudah tidak apa-apa kok... Malah bagus kalo bayiku menendang-nendang dan aktif seperti ini. Kamu tidak usah khawatir." Kamelia sebenarnya sangat senang dengan sikap perhatian Kemil. Hanya saja dia malu diperlakukan seperti itu di depan semua keluarga.
"Memang begitu?" Kemil mengerinyitkan dahinya.
"Iya... " Kamelia mengangguk sambil tersenyum.
"Cieeee... So swet sekaliii." Fitria tidak tahan melihat keromantisan yang terjadi di depannya saat itu hingga dia bersorak. Dan hal yang dilakukan Fitria berhasil membuat Kemil malu.
Bodohnya aku... Sedari tadi ramai seperti ini, kenapa aku hanya melihat Kamelia di hadapanku~ Kemil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mukanya memerah.
Idris dan Rahmah ikut senang melihat suasana yang terjadi malam itu. Meski mereka sudah sering melihat Kemil begitu perhatian dengan Kamelia. Tetapi perhatian Kemil malam itu membuktikan bahwa Kemil tidak akan pernah melepas Kamelia setelah anak itu terlahir.
.
.
.
.
__ADS_1
.