
Flashback Off
"Kamu jahat..." Kamelia mengerucutkan bibirnya. Dia terlihat cemberut manja di hadapan Kemil.
"Maafkan aku... Aku terlanjur kecewa kala itu... Mana aku tau kamu punya kakak laki-laki... Ya salah kamu sendiri tidak memberitahukannya kepadaku di sebelumnya." Kemil mencubit pipi Kamelia yang sedikit tembam. Entah kenapa Kamelia terlihat menggemaskan baginya kala itu.
"Tetap saja kamu jahat... Seharusnya kamu temui dulu aku." Sungut Kamelia. "Bukan malah langsung pergi dengan kecewa seperti itu... Kan jadinya kamu salah paham."
"Kalau kemungkinanku benar gimana? Itu sama saja mempermalukanku... Kalau saja Misya tidak memberitahukanku waktu itu, mungkin sampai detik ini aku tidak akan tau." Kemil tetap tidak mau kalah dalam soal jawab menjawab dengan istrinya.
"Terserah kamu-lah..." Kamelia menyerah. Dia kembali terlihat murung dan membuang pandangannya ke sembarang arah. Dan dengan sigap Kemil menarik dagu Kamelia yang berbelah itu kembali menghadap kepadanya.
"Yang penting, kan sekarang kita sudah sama-sama tau, Kamel... Dan yang paling penting lagi kita sudah bersama sebagai suami istri." Kemil menatap Kamelia dengan lirih.
"Tetap saja tidak akan merubah apa pun..." Kamelia terlihat bersedih dan menyesal.
"Apa baru saja kamu menyalahkan keadaanmu?" Kemil bertanya dengan nada tidak suka akan pernyataan Kamelia.
Kamelia hanya terdiam merengut.
"Apa kamu tidak senang dengan kehadiran bayi dalam rahimmu?" Kemil bertanya lagi dalam bungkamnya Kamelia.
__ADS_1
"Tidak... Aku tidak pernah menyesal dengan kehadirannya. Walau bagaimanapun dia darah dagingku... Tanggung jawabku..." Kamelia terisak.
Kemil membawa tubuh Kamelia ke dalam dekapannya.
"Lalu apa lagi yang kamu sesali saat ini? Kehadirannya mempersatukan kita, Kamelia.." kemil menenangkan Kamelia dengan mengusap lembut kepala Kamelia. Sesekali dia menghujani kepala Kamelia dengan kecupannya.
"Bagaimana jika dia datang?" pertanyaan itu membuat Kemil sontak ikut merasakan ketakutan yang dirasakan Kamelia. "Lalu bagaiman dengan Misya?" Lagi-lagi semua tidak semudah membalikkan telapak tangan seperti yang dibayangkan Kemil. Kamelia mendongakkan kepalanya menatap sendu ke wajah tampan suaminya itu.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita lagi, Kamel... Biar dia Misya atau pun ayah biologis dari bayimu." Kemil menarik lagi kepala Kamelia masuk ke dalam dadanya agar tidak terlihat perasaan cemasnya saat itu.
"Hanya aku ayahnya... Aku yang menyayanginya, bahkan meski belum terlahir ke dunia ini." Kemil berusaha menenangkan Kamelia meski dia juga bingung dan khawatir tentang apa yang dipertanyakan Kamelia kepadanya.
"Aku takut, Kemil... Aku tidak ingin menikah dengannya... Dan aku juga tidak ingin suatu hari nanti anakku diambil olehnya, atau siapapun." Kamelia semakin takut dan tubuhnya bergetar karena kecemasan yang diciptakannya sendiri.
Meski dia bukan darah dagingku, tapi dia terlahir dari kasih sayangku.
Bukan karena kamu, tapi karena aku memang sudah menyayanginya. Dia akan menjadi anakku sampai kapanpun." Kemil meyakinkan Kamelia.
Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana? Siapapun ayahnya, aku tidak akan membiarkan dia membawa Kameliaku lagi. Termasuk anaknya yang telah aku jaga dan aku harapkan kehadirannya.~ Kemil juga merasakan takut jika hal yang dipikirkan Kamelia terjadi. Dia bahkan juga tidak siap untuk itu.
"Misya?" Kamelia belum mendapatkan jawaban dari Kemil tentang kekasih suaminya itu.
__ADS_1
"Aku akan memutuskan hubunganku dengannya... Aku rasa tidak hanya aku sendiri yang menjadi kekasihnya." Kemil teringat kejadian yang dilihatnya di pasar tradisional kala itu. Dia begitu yakin itu adalah kekasih Misya yang lain, karena Misya pun berbohong ketika menelponnya meminta dia agar pulang terlebih dahulu.
"Mungkin Allah sudah memberi petunjuk kepada kita..." Kemil melepaskan dekapannya terhadap Kamelia.
Kamelia menatap Kemil. Raut wajah Kemil tidak menunjukkan bahwa dia merasa dikhianati oleh Misya.
Apa yang dimaksud Kemil adalah Toni?
Berarti benar apa yang dikatakan papa Idris tentang Misya dan Toni.~ Batin Kamelia.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.