KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MAU AKU IMAMI?


__ADS_3

Flashback Off


Kamelia berdiri dari sudut ruangan itu sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Mama... Papa... Abung... Kalian ada disini?" Kamelia memastikan penglihatannya.


Semua orang dengan segera menghapus air mata mereka dan memasang wajah tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


"Iya, sayang... Kemarilah, nak... Mama merindukanmu." Maya merentangkan kedua tangannya agar Kamelia segera berlari ke dalam dekapannya itu.


Benar saja, Kamelia mencapai tubuh mamanya dengan cepat dan memeluk wanita paruh baya itu dengan kuat. Maya menangis di pundak putri semata wayangnya itu tanpa bersuara. Ketika Kamelia hendak melepaskan pelukannya, Maya menahannya dengan sekuat tenaga untuk menghapus sisa-sisa air matanya.


"Mama, Papa dan Abung kok ada disini?" Kamelia memerhatikan suasana di sekelilingnya yang begitu canggung setelah melepaskan pelukannya dengan mamanya.


"Memangnya tidak boleh? Sama om Idris saja boleh kok." Ramdani menyahut dengan sok ketus.


"Iiih, Abung... Bukan begitu... Memangnya Kamel tidak boleh nanya? Kan tiba-tiba gitu..." Kamel mengerucutkan bibir bawahnya merengut.


Kemil terus saja memerhatikan istrinya yang sedang berdebat dengan Ramdani, kakak iparnya itu.


"Yaa ampun... Sudah hampir setengah sebelas." Kamelia memandang jam dinding dengan terkejut.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Ramdani kembali menggoda adik kesayangannya itu.


"Kamel belum bayar hutang..." Sahut Kamelia cepat.


"Hutang?" Kemil mengerinyitkan dahinya bingung.


"Shalat Isya maksudnya itu..." Agung ikut menimpali sambil tertawa ringan. Kemil dan kedua orang tuanya membulatkan bibir mereka.


"Aku juga belum... Mau aku imami?" Kemil menawarkan diri.


Sesaat, Kamelia menoleh kearahnya dengan canggung.


"Boleh..." Sahutnya seraya bangkit dari duduknya.


"Apa kamu masih meragukan cinta mereka, Gung?" Idris memulai untuk memecahkan kesunyian yang terjadi karena mereka sibuk memerhatikan Kemil dan Kamelia yang menghilang di balik dinding pemisah ruangan itu.


"Walau bagaimanapun, saya takut anak-anak kita akan mengalami kesulitan nantinya." Agung terlihat berpikir.


"Adan tidak akan membiarkan itu terjadi, Pa..." Ramdani mengepal tangannya seolah mengerti maksud pembicaraan Agung.


"Iya, Gung... Saya juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Cukup sudah dulu Bram membuat kami kewalahan." Idris seakan mengenang sesuatu. Tampak kemurungan di wajahnya memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Saya hanya tidak ingin kamu menyesal, Id... Dia sebenarnya anak yang baik. Saya mengenal anak itu dari dia SMA. Dia memang menyukai Kameliaku dari dulu. Hanya saja Kamelia selalu menutup hatinya karena menantikan kedatangan anakmu. Ditambah lagi Misya juga menyukai Toni." Agung seakan membela lelaki yang telah memperkosa putrinya.


"Kamu seperti mengenalnya dan kekasih jahatnya itu dengan baik." Idris terlihat tidak menyukai ucapan Agung.


"Ya, memang... Mereka bertiga dulunya bersahabat. Jadi Kamelia sering membawa mereka main ke rumah. Aku selalu memperhatikan mereka kala itu. Rumah tidak pernah sepi meski Adan kuliah di kota. Toni anaknya ramah dan penurut. Dia sangat menyayangi Maya. Tetapi persahabatan di antara mereka tiba-tiba hancur karena Misya yang menyukai Toni mengetahui bahwa Toni menyukai Kamelia. Dan entah kenapa Misya dan Toni menjauhi Kamelia secara tiba-tiba." Agung kembali mengenang persahabatan yang dijalin oleh anaknya bersama Misya dan Toni.


"Iya, benar... Aku bahkan merasa tidak pernah jauh dari Adan jika Toni bermain ke rumah. Dia memperlakukanku layaknya dia memperlakukan ibu kandungnya sendiri. Mungkin karena dia menginginkan sosok ibu yang bisa berbicara dengan lunak terhadapnya." Maya ikut menimpali ucapan suaminya.


"Jika masalah tanah perkebunan, saya rasa itu pasti hasutan Bram. Kamu tau sendiri bagaimana liciknya Bram, kan? Kamu tau sendiri tanah itu memang menjadi tujuannya dari dulu, kan? " Ujar Agung lagi.


Lagi-lagi kesedihan terpancar dari raut muka Idris. Rahmah mengelus-elus pundak suaminya karena dia tahu saat itu suaminya kembali terluka.


Ramdani hanya menjadi pendengar yang baik ketika orang tuanya berbicara sesuatu yang tidak dapat dia mengerti mengapa Toni seolah-olah bukanlah penjahatnya.


Mereka pun menyudahi perbincangan mereka ketika sudah larut malam.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2