KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
LELAKI ITU...


__ADS_3

Acara demi acara berlangsung, Bahkan ijab kabul pun telah berkumandangan dengan rapi. Meski terlihat terpaksa, namun Kemil tidak berniat mempermainkan ijab kabul pernikahannya. Kabul yang diucapakan Kemil lolos dalam tarikan satu nalas dari bibirnya yang tidak terlalu tipis.


Air mata Kamelia mengalir dengan derasnya. Entah bahagia atau malah sebaliknya yang saat itu ia rasakan. Matanya sedari tadi menyapu setiap sudut ruangan yang telah didekor dengan seindah mungkin. Ya... mata Kamelia tidak berhenti mencari keberadaan Ramdani. Dia menangis pun juga karena hal itu. Kamelia ingat sekali janji abungnya itu untuk hari pernikahannya.


Namun semua tidak sesuai dengan rencana. Memang benar, kita yang merencanakan tapi semuanya Dialah sang maha Kuasa yang menetapkan.


Agung dan Maya juga terlihat menitikkan air mata. Mungkin lebih beratnya rasa kecewa terhadap putrinya itu. Tapi mereka juga tidak pernah berpikir untuk membiarkan putrinya menjalani itu semua dengan sendirian. Hanya saja mereka belum memiliki kemampuan untuk menatap putri mereka yang mereka rasa telah mengecewakan kepercayaan mereka.


Abung... Abung dimana? Kamel rindu...~ Gumam kamelia lirih. Tidak ada tanda-tanda akan kemunculan kakak lelaki yang satu-satunya itu.


Kenapa melihatnya menitikkan air mata membuat aku merasa tidak tega? Dan lagi pula, kenapa dia menangis? Harusnya saat ini dia tersenyum licik, kan?~ Kemil melirik kecil ke arah Kamelia yang bersimpuh di sisi kirinya.


****


Acara pernikahan Kemil dan Kamelia yang sederhana itu pun usai. Semua tetamu sudah berlalu meninggalkan kediaman Effendi yang terlihat tambah mewah karena acara pernikahan putrinya itu.


Sesuai perjanjian antara Kemil dan papanya. Setelah mereka menikah, mereka akan menetap di kediaman Arayan.

__ADS_1


Meski dengan berat hati, Agung dan Maya tidak memperlihatkan keberatan mereka melepas putri satu-satunya itu untuk meninggalkan rumah mereka. Mereka terlihat begitu acuh ketika Idris hendak membawa Kamelia.


"Tunggu..." Suara menggelegar terdengar dari dalam menghentikan langkah kaki mereka.


Kamelia yang mengenali suara itu segera berbalik dan menatap sendu ke arahnya.


Suara itu tidak lain berasal dari mulut Ramdani, abungnya. Ramdani melangkah gontai ke arah Kamelia dan segera memeluk adik kesayangannya itu.


Ramdani memeluk Kamelianya dengan sangat erat di depan semua hadirin yang masih tersisa disana. Ramdani sempat menitikkan air mata saat itu dan menghujani kepala Kamelia dengan kecupannya. Sedangkan Maya segera masuk ke dalam rumahnya karena tidak tahan melihat anak-anaknya. Dia takut juga tidak bisa mengendalikan diri seperti Ramdani.


Kemil terkesiap melihat adegan yang dalam pikirannya sangat romantis. Dia juga seakan marah dan hendak menarik lelaki yang telah memeluk Kamelianya.


"Kenapa, sayang? Kok kamu terkejut begitu? Dia itu Ramdani, kakaknya Kamelia." Ujar Misya ketus.


"Kakaknya...?" Kemil mengerinyitkan dahinya seakan menyesali sesuatu.


"Iya, sayang... Aku juga sempat heran, sedari awal acara, dia sama sekali tidak kelihatan puncak hidungnya..." Ujar Misya lagi. "Mungkin karena dia malu punya adik murahan begitu." tambahnya dengan menyeringai licik.

__ADS_1


Tangan Kemil mengepal dengan geram.


Entah kenapa Kemil begitu tidak suka dengan kata-kata Misya. Padahal dia juga sempat mengatakan hal itu sebelumnya kepada papanya dan Kamelia sendiri.


Ramdani melepaskan pelukannya kepada Kamelia dan kembali masuk ke dalam rumahnya lagi tanpa menoleh dan mengeluarkan kata sepatah pun.


Kamelia begitu terluka dan bingung dengan sikap kakaknya. Beruntung Idris segera menenangkan hatinya dan membawanya kembali untuk masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke kediaman Arayan.


Kemil masih terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Kamelia. Dia begitu yakin ada hal yang tidak diketahuinya tapi mesti dia ketahui. Namun sore itu dia memutuskan untuk kembali menjalani sesuai dengan yang seharusnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2