
Di ufuk barat hanya tersisa sedikit cahaya jingga. Langit di senja itu pun sudah hampir gelap. Mereka masih terduduk saling menguatkan satu sama lain.
"Sudah mulai gelap... Ayo kita pulang..." Pinta Kamelia. Mungkin jika Kamelianya tidak meminta, Kemil pasti akan terus menatap kemilau cintanya di ujung senja itu.
"Ayo..." Kemil bangkit dari duduknya dan segera mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Kamelia berdiri dari daya tarik pasir pantai itu.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan ke tempat mobilnya yang terparkir di bawah pohon ketapang sana.
"Kamu katanya mau memberi nama untuk anakku..." Kamelia mendongakkan kepalanya kearah wajah Kemil yang sejengkal lebih tinggi darinya.
"Tidak..." Sahut Kemil datar dan berhasil membuat Kamelia merengut bingung.
"Aku mau memberi nama untuk putri kita..." Sambungnya. Dia mencubit pipi Kamelia yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan apabila sedang merengut seperti itu.
Kamelia kembali tersenyum, dia melepaskan gandengan tangannya dari Kemil dan berjalan dengan setengah berlari kearah mobil.
"Kamel... Jangan lari-lari..." Kemil berteriak dan segera menyusul Kamelia. Ketika Kemil telah mendapati istrinya itu, dia segera menggendongnya.
"Kemiiilll.... Turunkan aku... Aku berat loh..." Kamelia memberontak di dalam gendongan suaminya.
"Diamlah... Nanti aku bisa menjatuhkanmu jika kamu bergerak terus." Kemil bertingkah seolah marah. Dengan terpaksa Kamelia pun menurut ucapan suaminya.
"Bagaimana mungkin kamu itu berat, tubuhmu kecil dan pendek seperti ini." Ledek Kemil.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Aku pendek?" Ulang Kamelia seakan tidak terima dikatakan pendek.
"Iya..." Sahut Kemil dengan wajah tetap mengejek.
"Turunkan aku sekarang..." Kamelia kembali memberontak.
"Pendek sedikit dari aku maksudnya... Gitu aja marah." Kemil terkekeh melihat sungut Kamelia.
"Milka khumairah... Apa kamu menyukainya?" Kemil menyampaikan nama yang telah disiapkannya selama itu.
"Bagus..." Kamelia mangut-mangut. Matanya berdelik seolah berpikir keras.
"Biarkan Kemil dan kamel menyatu dalam diri Milka kita..." Ujar Kemil sambil terus menggendong Kamelia.
Sesampainya di mobil, Kemil tetap tidak menurunkan istrinya itu. Dia meminta Kamelia menarik pintunya, dan kemudian menaikkan Kamelia ke bangku penumpang bagian depan samping kemudi.
****
Di Caffe pedesaan yang terlihat ramai di kala senja itu. Misya dan Toni tengah duduk berhadapan dalam satu meja.
"Aku perhatikan kamu akhir-akhir ini semakin menjauh dariku, sayang." Toni berusaha mencari tahu tentang perasaan Misya kepadanya. Dia seperti curiga kalau Misya telah mulai menyukai Kemil.
"Tidak... Biasa saja." Sahut Misya datar. Dia seperti enggan berbicara dengan kekasihnya itu. Sedari tadi dia sibuk menscroll ponselnya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah berbohong..." Toni sedikit menaikkan volume suaranya.
"Toni... Kamu apaan sih? Malu dilihat orang." Misya mulai kesal dengan tingkah Toni.
Toni merampas ponsel di tangan Misya dan melihat apa yang tengah dikerjakan Misya sedari tadi. Misya berusaha merebut kembali ponselnya yang berada di tangan Toni. Namun dengan lihai Toni menjauhkan tangannya dari jangkauan Misya.
Semua mata tertuju kepada mereka.
"Toni kamu apa-apaan sih? Kembalikan ponselku..." Misya semakin kesal dengan tingkah Toni.
"Apa kamu mulai menyukainya?" Toni mencengkram erat bahu Misya.
"Toni, sakit..." Misya memberontak.
"Jawab, Misya..." Teriak Toni geram.
"Iyaaaa...." Misya menegang. "Puas kamu sekarang...?" Misya merebut ponselnya dari tangan Toni kemudian meraih tas jinjingnya yang berada di atas meja itu. Misya sesegera mungkin berlalu meninggalkan Toni yang mengepal kuat tangannya karena geram.
"Ah syiiiiithh..." Toni melayangkan tangannya di udara. "Lihat saja kamu Misya... Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau, termasuk lelaki itu... Kamu harus membayar kesalahan yang telah aku perbuat karenamu..." Toni mengambil kunci mobilnya. Setelah dia meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja caffe itu, Toni segera keluar hendak menyusul Misya.
.
.
__ADS_1
.
.