KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
TEMPAT TERNYAMAN


__ADS_3

Semenjak kepulangannya dari pemakaman tadi pagi, Toni terus saja mengurung diri di dalam kamar papanya.


Keluarga Idris dan Agung tetap menungguinya disana. Mereka tidak pernah sekalipun meninggalkan Toni sendirian semenjak kepergian Bram pagi kemarinnya.


"Pah... Apa yang dilakukan Toni sedari pagi di kamar kak Bram? Mama cemas pa." Wajah Maya dapat menggambarkan suasana hati dan ucapannya yang jujur kala itu.


"Biarkan dia menenangkan dirinya ma... Dia butuh waktu. Baru saja kita mengetahui semua kebenarannya, tapi Bram malah pergi menyisakan penyesalan untuk kita." Mata Agung kembali berkaca-kaca mengingat prasangka buruknya terhadap Bram selama itu.


"Dan gara-gara cerita dari kita juga, Toni sampai berburuk sangka pada papanya. Dia pasti saat ini sangat menyesal..." Idris menimpali percakapan Agung dan Maya.


Di sudut ruangan. Entah apa yang membuat Milka sedari tadi rewel, hingga membuat Kamelia dan Kemil sedikit kewalahan karenanya. Bahkan dot alami ibunya berkali-kali ditolaknya. Sesekali Kemil menggendongnya, namun hanya sebentar saja dia merasa tenang.


***


Di dalam kamar yang biasa ditempati Bram. Toni memiringkan tubuhnya yang lelah diatas tempat tidur almarhum papanya itu.


Tangannya meraba kasur empuk yang memiliki aroma Hermes khas papanya. Air bening dari matanya yang menyembab, tak henti bergulir karena merasakan sesak di dalam dadanya akan kepergian Bram untuk selamanya.


Penyesalan yang tiba-tiba muncul dibenak Toni mengingat sikapnya dihari-hari terakhir Bram, membuat jiwanya begitu emosional.


Tangannya meremas seprai itu dengan kuat. Dan kemudian memukul benda empuk itu sejadi-jadinya hingga nafasnya terengah-engah.


Serasa cukup untuk melampiaskan perasaannya. Toni bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Dia membuka satu persatu laci kecil samping tempat tidur itu.


Laci pertama Toni menemukan obat-obatan dan suplemen herbal papanya. Air matanya kembali berjatuhan ketika mendapati obat-obatan itu.

__ADS_1


Dia terisak. "Apa segitu sakit pa? Kenapa papa menanggungnya sendiri? Kenapa papa tidak mau membaginya kepadaku pa?" Tangannya kembali meremas obat-obatan yang digenggamnya. Rasa sakit itu kembali muncul.


perlahan tangannya membuka laci kedua. Di dalam laci itu, Toni menemukan sebuah album. Dengan teliti, Toni membuka lembar demi lembar album yang ditemukannya. Dia hanya melihat foto-fotonya dari bayi hingga dia sedewasa itu. Tanpa disadarinya, garis bibirnya melengkung keatas. Dia tersenyum saat itu. Setiap foto yang yang dilirik oleh matanya, selalu saja membuatnya terhanyut akan kenangan yang dilaluinya.


"Terimakasih pa... Hanya papa yang selalu ada untukku selama ini. Aku baru menyadari bahwa papa tidak sekalipun melewatkan hari-hari pentingku. Papa selalu memperhatikan aku. Papa bahkan telah merangkap menjadi mama untukku." Buliran air matanya berjatuhan seiring senyum kenangan merekah di bibirnya yang tidak terlalu tebal.


"Papaaa..." Dia kemabali terisak dan emosional akan perasaannya.


"Yaa Allah... Sakiiit... Kenapa sesakit ini? Aku bahkan sampai lupa kapan terakhir kita tertawa bersama pa... Gara-gara aku jatuh cinta, aku lupa papa yang selalu mencemaskan kepulanganku. Menungguku sambil melirik jam tangan papa dengan khawatir. Padahal aku sudah SMA kala itu."


Toni masih penasaran dengan laci terakhir. Perlahan dia membukanya.


"Foto-foto mama dengan perut buncit? Lukisan?" Dia mengeluarkan seluruh isi laci paling bawah. "Papa memang baik... Aku salut sama papa..." Toni mengusap kasar wajahnya yang basah.


Setelah selesai melihat-lihat isi laci, Toni bangkit dan mengitari kamar papanya yang belum pernah dimasukinya.


Papa... pasti papa bahagia saat itu... Senyuman papa terlihat natural...


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan terdengar dari pintu kamar itu.


Toni mengusap wajahnya sejadi-jadinya untuk menyembunyikan duka yang teramat dalam dan masih tersisa dihatinya itu.


Toni membukakan pintu dari dalam.

__ADS_1


"Papa... Milka rewel sedari tadi pa..." Kemil bertingkah seperti anak kecil mengadukan kerewelan bayi mungil itu kepada Toni.


Senyum Toni merekah seketika. Dia segera menyambut bayi mungil yang masih rewel di dalam gendongan Kemil.


Ketika Milka telah berada di gendongannya, bayi mungil itu segera diam. Toni mendekap Milka ke dadanya yang bidang. Segala kepedihan dan kesedihan yang dirasakannya seketika lenyap karena kehangatan yang tercipta dari tubuh mungil itu.


Kemil beranjak meninggalkan Milka dan Toni. Ikatan bathin yang tercipta antara Toni dan Milka membuatnya mengerti dan berbesar hati, bahwa tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan jika hati berani untuk mempercayai situasi yang ada.


.


.


.


.


.


Maaf teman2... Mungkin kurang greget dan menarik di episode ini.


Radetsa akan berusaha untuk menamatkan KCK Di Ujung Senja untuk beberapa episode lagi.


Tapi Radetsa tidak janji buat up cepat untuk beberapa hari kedepan. Insyaa allah besok mudik pakai kendaraan roda dua. Jadi belum tentu bisa up ya...


Mohon ditunggu kelanjutannya ya teman2...

__ADS_1


Salam satu layar🤗...


__ADS_2