KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KADO TERINDAH


__ADS_3

Senja itu, cakrawala terlihat begitu jelas di ufuk barat. Cahaya jingga menghiasi sebagian langit.


Meski sedari tadi Kamelia berusaha tersenyum membujuk Kemil, namun suaminya itu masih terlihat memberengut.


Kemil lebih memilih bermain pasir bersama Milka dan mengabaikan Kamelia.


"Saayaaang..." Panggil Kamelia sambil menarik-narik kecil lengan Kemil.


"Hmmm..." Kemil masih mengabaikan Kamelia, dan terus saja bermain bersama Milka.


"Iiih sayaaaang... Tengok aku dulu..." Kamelia semakin menguatkan tarikannya di lengan Kemil. "Nanti aku nangis ya..." Ancam Kamelia kemudian karena merasa masih dicueki suami tampannya itu.


"Kenapa sih...?" Mendengar ancaman Kamelia, Kemil akhirnya mau menolehkan wajahnya yang kusut ke arah istrinya yang tengah ingin dimanja.


"Kamu diemin aku lagi?" Sungut Kamelia seraya menaikkan bibir bawahnya.


"Tidak... Siapa bilang?" Sahutnya masih cuek dan hendak melanjutkan permainannya kembali bersama Milka.


"Iiiih... Sayaaang... Aku nggak mau didiemin kamu lagiiii" Sungut Kamelia segera menahan tubuh Kemil yang kekar.


"Kamu mah begitu... Bisa-bisanya kamu melu..."


"Aku nggak lupa sayang... Sungguh aku nggak lupa..." Potong Kamelia cepat.


"Kalau kamu tidak lupa, lalu kenapa kamu diam saja?" Tanya Kemil bingung dan mulai menatap wajah istrinya yang terlihat merengut.


"Semalam aku bangun dan ngucapin selamat ulang tahun buat kamu, bahkan aku mengecup kening kamu. Kamu saja yang terlalu nyenyak tidurnya..." Gerutu Kamelia.


"Mana pula? Kamu itu yang nyenyak tidurnya. Aku bahkan sampai menyetel alarm, tapi kamu malah tidur membelakangi aku..." Balas Kemil tak terima alasan Kamelia.

__ADS_1


"Aku tau itu, aku hanya ingin tau reaksi kamu saja..." Senyum jail tiba-tiba mulai merekah dari bibir tipis Kamelia.


"Kamu senang aku diami, biar kamu bisa pergi-pergi lagi kan?" Tutur Kemil dengan muka yang memerah.


"Bukan begitu sayang... Aku hanya heran saja. Kenapa akhir-akhir ini kamu lebih suka mendiami aku ketika ada masalah ketimbang membicarakannya baik-baik denganku?. Kamu sedikit berubah sayang..." Tutur Kamelia dengan bijak.


"Bagaimana tidak? Suami mana yang akan senang jika istrinya tertawa-tawa dengan laki-laki lain." Sungut Kemil seraya membuang wajahnya ke sembarang arah.


Tiba-tiba Kamelia tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Kenapa kamu tertawa?" Kemil semakin terlihat kesal.


"Apa baru saja kamu mengakui bahwa kamu tempo hari itu cemburu kepada Asraf?" Ledek Kamelia.


"Ckk... Menyebalkan..." Decak Kemil dengan wajah memerah.


"Aku pikir kamu tidak akan cemburu sayang?" Kemil menatap tajam ke arah Kamelia. Kamelia kembali tertawa Kecil. "Iya maaf, maaf... Aku pikir kamu tidak akan mampu menciumi aroma sorga... Sama Toni bahkan kamu tidak seperti itu?" Sungut Kamelia mengingat bagaimana Kemil menyikapi Toni kala itu, meski sebelum dia tau bahwa Toni adalah sepupunya.


Senyummu, selain untuk keluargamu, untuk keluargaku... Hanyalah akan menjadi milikku. Jangan pernah berikan kepada lelaki manapun, sehingga aku tidak kehilangan harga diri.


Aku mencintaimu terlihat dengan cara sederhana sayang, tetapi cintaku begitu mewah dari dasar hatiku untukmu..." Kemil meraih kedua tangan Kamelia.


"Aku minta maaf, aku menyesal dan akan selalu menyesal karena telah pernah menggoreskan luka di hatimu sayang... Aku tidak bisa lupa akan hal itu, bahkan sampai saat ini." Matanya yang ideal mulai berkaca-kaca.


"Dengan cinta yang kamu berikan setiap harinya untukku dan Milka, membuatku tidak pernah mengingat kesalahan apapun lagi sayang. Lupakan... Aku hidup bersamamu dan mendapatkan seluruh cintamu saja, sudah lebih cukup bagiku..." Kamelia semakin menguatkan genggaman tangannya.


"Terimakasih sayang..." Ucap Kemil. Raut wajahnya menggambarkan hatinya yang sangat terharu saat itu.


"Barakallah sayang... Selamat ulang tahun... Aku mencintaimu, insya Allah hingga nafasku berhenti..." Mata Kamelia menatap lekat wajah Kemil.

__ADS_1


"Terimakasih sayang... Aku juga mencintaimu... Sangat... Sangat mencintaimu..." Saut Kemil. Kejujuran terpancar dari cahaya matanya.


"Aku tau itu sayang... Bahkan cakrawala pun tau akan hal itu. Allah pun memberimu hadiah atas ketulusan dari cintamu..." Kamelia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong switernya.


"Apa ini sayang?" Kemil kebingungan meraih kotak kecil itu.


"Buka saja..." Pinta Kamelia sambil tersenyum kecil.


Mata Kemil membulat, tubuhnya tiba-tiba mematung ketika membuka kotak kecil pemberian Kamelia.


"Ini... Ini apa artinya sayang?" Tanya Kemil antusias. Dia mengeluarkan sebuah testpack dua garis dari dalamnya.


"Iya sayang... Aku hamil, aku hamil anaknya kamu sayang..." Jawab Kamelia tidak kalah antusias. Cairan bening keluar begitu saja dari dalam matanya yang bulat dan indah.


Kemil dengan segera memeluk Kamelia, dan menghujani kepala istrinya itu dengan kecupannya.


"Milka... Kamu sebentar lagi punya adik sayang..." Kemil begitu bahagia dengan kado yang diterimanya. Dia meraih Milka dan menerbangkannya ke udara dengan tangannya yang kekar. Si kecil yang tidak tau apa-apa itu ikut tertawa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah lelaki tampan yang menjadi ayahnya.


Cakrawala perlahan menghilang dari pandangan mata mereka seiring kegelapan menyelimuti bumi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2