
Assalamu'alaikum pembaca semua...
Alhamdulillah hari ini Radetsa kembali menulis untuk karya ke tiga yang berjudul TIRAI MASA LALU...
Teman2 yang sudah menamatkan SUAMI CACAT PILIHANKU, dan terutama untuk awal kisah masalalu Toni di KEMILAU CINTAKU KAMELIA DI UJUNG SENJA. Mampir lagi ya di TIRAI MASA LALU.
Insyaa Allah Radetsa akan mengusahakan yang terbaik untuk teman2 semua...
.
.
.
PROLOG
Kata sebagian mereka, masa lalu adalah pengalaman yang sangat berharga. Namun bukan berarti harapan harus tertinggal di masa itu, dan masa lalu terus hidup menjadi bayangan yang selalu menghantui.
Berawal dari Antoni Zulherman, pemuda yang belum menikah namun sudah menjadi ayah karena kesalahan yang pernah dibuatnya.
__ADS_1
Ya, Milka adalah putri kecilnya yang kini telah memiliki ayah dari saudara sepupunya sendiri.
Dia begitu teramat mencintai Kamelia, ibu dari putri kecilnya itu. Perempuan yang pernah diperkosanya pada masa lalu akibat keserakahan cintanya.
Meski Toni telah memperoleh maaf dari Kamelia, dan dia juga diberi hak untuk mendapatkan panggilan papa dari semua orang terhadap Milka, dan bahkan dengan berat hati Toni meninggalkan desa kelahirannya pergi bersama neneknya demi kebahagiaan Kamelia. Namun rasa terpukul akibat perasaan bersalahnya serta duka mendalam setelah papanya meninggal membuat Toni tetap menjadi lelaki dingin.
Hingga suatu hari, Toni bertemu dengan gadis yang bekerja di perusahaan milik almarhum kakeknya yang dikelola oleh dirinya bersama suami dari anak angkat nenek kandungnya yang baru dia ketahui sebelum Bram, papa Antoni Zulherman ketika menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit kala itu.
Gadis itu bernama Iffatul Fadillah.
Iffah, begitulah panggilan gadis yang membuat Toni mampu dengan perlahan melupakan Kamelia pada pandangan pertamanya terhadap Iffah di sebuah cafe elit depan kantor tempatnya bekerja.
"Nana, naanana, nana, nana, naanaaaaa..."
Bibir Toni melengkung ke atas, matanya tak berkedip menatap pemandangan yang ada di depannnya saat itu. Dan kali itu pula wajah datarnya nan dingin menampakkan binar sumringah penuh kenyamanan.
"Siapa gadis itu?" Gumam Toni kecil tanpa ada seorangpun yang mendengarnya.
Dia masih saja berdiri di balik tembok Cafe sambil melirik ke arah meja yang ditempati seorang gadis berkulit kuning langsat dan memakai kerudung biru langit.
__ADS_1
Gadis itu terus bersenandung sembari jemarinya yang sedikit memanjang dan ramping bergerilya di atas keyboard laptop di hadapannya.
Sesekali dia menyeruput kasar kopi dari gelas cantik yang tertera khusus untuknya. Dan sesekali pula, telunjuknya merapikan letak kacamata anti radiasi yang bertengger lucu di batang hidungnya yang sedikit mancung.
Senyumnya yang indah membuat Toni betah berlama-lama memandangi dirinya dari arah kejauhan.
***Oh Allah... Pemilik hati yang keras. Lunakkanlah hatiku saat dia bergetar ketika mata ini menatap indahnya bidadari dunia ciptaanmu yang berada dekat denganku saat ini...
Dan jangan biarkan tirai masa lalu menutup kemungkinan adanya kebahagiaan dalam hidupku di masa depan*...
Iffa, gadis yang dipandangi Toni berhenti menatap layar yang tidak terlalu lebar itu dan segera pula menutupnya. Dia menghempas kasar punggungnya ke sandaran kursi.
"Hmm... Akhirnya, selesai juga..." Kaca mata anti radiasi yang digunakannya tadi dicabutnya dengan perlahan dari balik kerudung yang menutupi daun telinganya.
kedua jari tengah Iffah mengusap kasar matanya yang memerah dan sedikit berair. Ketika dia menolehkan wajahnya ke arah Toni, Toni berubah menjadi salah tingkah dan gelagapan. Dengan segera Toni beranjak pergi meninggalkan Iffah yang dihantui berbagai pertanyaan menggelikan di benaknya.
Apa baru saja pak Toni memerhatikanku?~ Batin Iffa bingung.
Tapi untuk apa?~ Dia semakin bingung.
__ADS_1
Iffa mencebikan bibir tipisnya seakan tidak ambil pusing dan segera mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas meja.