KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
BERKUNJUNG


__ADS_3

"Sayang... Kok kalian pagi-pagi sudah rapi begitu?" Rahmah terkesima melihat pemandangan di depan matanya.


Semua mata di ruang makan itu pun melihat kearah mereka yang datang dengan bersamaan.


"Kami mau ikut ke desa sebelah, Ma..." Sahut Kemil seraya duduk dan bergabung di meja makan.


"Beneran, sayang?" Maya berbinar mendengar penuturan menantunya. Kemudian disahuti dengan anggukan kepala dan tersenyum oleh Kamelia.


"Kami mau sekalian beli perlengkapan bayi di pasar tradisionalnya, Ma... Sebentar lagi Milka kami akan lahir." Kemil begitu bangga dengan ucapannya sambil mengelus lembut perut Kamelia yang buncit.


Kedua orang tua Kamelia dan Ramdani ikut terharu melihat ketulusan Kemil terhadap Kamelia. Mereka takut saja Kemil kesulitan nantinya menghadapi problem yang timbul.


Seusai sarapan mereka berpamitan kepada Rahmah dan Idris. Kemil sengaja tidak membawa mobilnya sendiri. Dia ingin Kamelianya semakin bahagia karena satu mobil dengan orang tua dan kakaknya.


"Pah... Nanti Kemil dan Kamel pulangnya sama Papa ya. Hari ini, kan jadwal Papa ke pabrik sana." Pinta Kemil. Dia tahu betul jadwal Idris semenjak dia mulai bekerja di pabrik kakeknya itu.


"Baiklah..." Sahut Idris. Dia pikir semua masalah telah selesai jika Kemil sudah mencintai Kamelia dengan setulus hati.


Mereka semua tidak menyadari sepasang mata Toni tengah memperhatikan mereka dari balik pagar Kediaman keluarga Arayan.


"Kemilkah lelaki yang dulu sering diceritakan Kamelia kepadaku?" Toni bergumam di tengah kesibukannya mengintip keluarga itu. Keluarga yang begitu hangat dan bahagia. Dia terlihat iri dengan ketulusan Kemil memperlakukan Kamelia yang tengah mengandung anak darinya.


"Tante Maya... Toni sangat merindukan kasih sayang tante. Kasih sayang tante membuat Toni merasa mama hidup dalam diri tante. Saat ini pasti tante sangat membenci Toni. Maafkan Toni, tante..." Tanpa disadarinya, air matanya lolos dari ruas-ruas pelipis matanya yang sedikit menyembab.


Ya, dari semalam Toni patroli disana sehingga wajahnya terlihat pucat karena tidak tidur dan kedinginan. Sejak dia tahu bahwa perempuan hamil yang dinikahi kekasih Misya itu adalah Kamelia, dia begitu sangat yakin bahwa anak yang dikandung Kamelia adalah anaknya.


Ketika mobil Ramdani keluar dari pekarangan rumah itu, Toni kembali bersembunyi ke dalam mobilnya yang sedikit jauh dari sana.

__ADS_1


Toni tahu betul pasti Kamelia pergi ke rumah orang tuanya. Toni seakan melupakan segala misi dan tujuannya untuk keluarga Arayan. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah Kamelia dan anaknya.


"Bagaimana caranya aku bisa menemui Kamel? Aku masih ingat dia hampir celaka karena melihatku semalam." Toni begitu depresi memikirkannya.


****


Mobil yang ditumpangi Kamelia akhirnya berhenti tepat di kediaman Effendi. Senyum sumringah tercipta dari bibir Kamelia. Terlihat saja dia sangat merindukan suasana rumah itu. Matanya berbinar ketika mendapati bangunan yang pernah ditempatinya itu dari semasa kecilnya.


"Maafkan papa dan mama ya sayang... Terakhir kali kesannya sungguh tidak baik untukmu." Agung merangkul bahu Kamelia yang menatap rumah itu penuh kerinduan.


"Tidak apa-apa, Pa... Yang berlalu biarlah berlalu." Maya segera memeluk putri semata wayangnya itu dengan haru.


"Ayo nak, masuk... Kamu pasti sangat merindukan kamarmu, bukan?" Maya merangkul putrinya itu sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh para lelakinya.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Kemil sempat menoleh kearah balkon samping rumah itu. Ingatannya kembali saat dia menusukkan kata menyakitkan terhadap Kamelia kala itu. Rasa penyesalan kembali bermunculan di dalam hatinya. Matanya sedikit berkaca-kaca.


Kamelia menggandeng tangan Kemil dan masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin memperlihatkan sesuatu kepada suaminya itu.


Sesampainya mereka di dalam kamar, Kemil memeluk Kamelia dari belakang.


"Maafkan aku ya, sayang..." Kemil menyampaikan perasaan yang menganggunya sedari tadi.


"Maaf untuk apa, sayang?" Kamelia melepaskan dekapan Kemil dan mengapit kedua pipi suaminya itu.


"Maaf kesan pertama kali kita bertemu setelah dewasa..." Sahut Kemil lirih.


"Kenapa mesti minta maaf? Aku bahkan hampir melupakannya." Ujar Kamelia mengenggam tangan Kemil. Kemil menarik tangan Kamelia ke bibirnya.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang... Oh iya... Kamu mau nunjukin apa?" Kemil kembali penasaran.


Kamelia mengarahkan wajahnya ke sisi kanan ruangan itu. Beberapa untaian burung kertas yang sedikit memudar bergantungan disana.


"Kamu masih menyimpannya?" Kemil begitu senang mendapati burung-burung kertas yang pernah diberikannya dulu tergantung indah disana.


Kamelia mengambil satu yang istimewa dan selalu dibawanya kemana-mana dari tas jinjingnya.


"Aku pernah melihatnya kala itu di kamarmu." Ujar Kemil tanpa dosa.


"Kapan?" Kamelia menautkan kedua alis matanya.


"Entahlah... Aku tidak ingat." Kemil seakan lari dari pertanyaan Kamelia. Dia segera memeluk Kamelia lagi.


"Sejak melihatnya, Aku begitu yakin kamu menepati janjimu selama ini, sayang." Ucapnya lirih.


Kamelia begitu senang Kemil mempercayai dirinya jauh dari dugaannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2