
Flashback Off.
Maya mengusap air matanya yang mengalir deras di pipinya yang tirus itu. Dia ingat betul bagaimana tangan adik sahabat suaminya itu melambaikan tangan ke mobil yang mereka tumpangi setelah kepergian Bram kala itu.
"Maafkan om, Toni... Maafkan om... Itu semua salah om..." Agung bahkan tidak berani menatap Toni meski hatinya dipenuhi rasa bersalah.
"Kamu ingat, Adan? Betapa bahagianya dulu kamu mendapatkan dua adik sekaligus? Satu perempuan dan satunya lagi laki-laki? Mungkin kamu tidak ingat, bahkan kepada tante Rianti yang sangat kamu sayangi karena dia sangat menyayangimu." Agung membuat Ramdani ikut diliputi rasa bersalah setelah mendengar penuturan papanya.
Semua mata tidak ada yang tidak basah saat itu kecuali matanya Toni. Dia tidak mengerti dengan beban berat apa yang ditumpu hatinya saat itu. Bahkan untuk menitikkan air mata saja dia tidak kuasa setelah mendengar penderitaan mamanya.
"Maafkan om, Toni... Ingin sekali rasanya om membawamu kala itu, tapi om tidak punya kuasa. Papamu lebih berhak atas dirimu, nak." Idris begitu ingat cekcok yang berlangsung antara dirinya dan Bram kala itu hanya untuk memperebutkan hak asuh Toni.
"Ditambah lagi kematian kakek kalian begitu menjadi tanda tanya bagi om. Seseorang mengatakan bahwa Bram, papamu sempat menemui kakek kalian sebelum kakek kalian dirawat di rumah sakit dan pada akhirnya meninggal dunia.
Hanya saja om tidak memiliki bukti apa-apa untuk itu. Meskipun kakek kalian sempat menyebutkan nama Rianti, Bram dan kamu Toni. Bahkan juga kamu, Gung..." Idris juga mengenang bagaimana papanya menghembuskan napas yang terakhir kala itu di rumah sakit kota.
Agung tercengang bingung mendengar pengakuan Idris yang sama sekali tidak diketahuinya selama itu.
"Namaku? Ada apa denganku, Id?" Agung dan Maya terlihat bingung.
"Saya juga tidak tau, Gung. Saya pikir dengan mengubur itu semua dapat membuat saya lebih tenang. Namun itu tidak berhasil sama sekali. Saya pikir kamu juga tau apa maksud papa saya. Namun sikap keterkejutanmu membuatku tidak yakin." Idris seakan putus asa untuk kembali menyelidiki kematian papanya, Adipati Arayan.
Toni mengepal tangannya karena geram. Dia begitu yakin bahwa papanyalah yang telah melakukan itu semua.
Dia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari rumah itu. Tidak satupun dari mereka yang mencegahnya. Mereka seolah tahu apa yang akan diperbuat oleh lelaki yang merupakan saudara sepupu Kemil.
Toni masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah itu. Dengan segera dia menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya itu ke tujuan yang ada di benaknya.
Amarah yang menggebu di dalam hatinya mengalahkan segala duka yang baru saja di dengarnya dari mulut dua lelaki paruh baya di kediaman Arayan, yang merupakan kakeknya juga.
__ADS_1
Toni terus melajukan mobilnya, hingga sampailah dia ke rumah tempat dirinya dan papanya tinggal.
Toni turun dari mobilnya setelah diparkirkannya dengan sembarangan di halaman rumah itu. Dia membanting pintu mobil itu dengan kuat, dan segera berlarian masuk ke dalam rumahnya.
"Papaaaah.... Paaah..." Toni mencari-cari keberadaan papanya. Kakinya melangkah ke sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruang utama. Namun sangat jauh dari tempat kamarnya berada.
Pintu ruangan yang dituju Toni terbuka sebelum dia sempat menggedornya.
Di balik pintu itu berdiri papanya, Bram.
"Ada apa kamu memanggil papa seperti itu?" Bram tak kalah garang ketika melihat Toni.
"Jelaskan kepadaku, apa yang terjadi terhadap kakek Adipati, Pa?" Tanpa basa basi Toni langsung menghakimi papanya.
"Apa yang terjadi dengan lelaki tua bangka itu memangnya? Dia, kan sudah mati..." Bram menampakkan wajah tidak sukanya terhadap pertanyaan putra semata wayangnya itu.
"Tapi apakah papa penyebabnya?" Toni bertanya dengan nada tinggi dan wajah yang memerah.
Satu tamparan melayang di pipi Toni.
"Bagaimana mungkin kamu menuduh papamu ini sebagai seorang pembunuh, Ton?" Mata Bram berkaca-kaca.
"Demi menutupi kebohongan saja Papa berani menamparku... Papa tidak ingat? Papa bahkan sampai menyuruhku untuk melenyapkan nyawa om Idris jika dia tidak mau menjual tanahnya, kan?" Toni semakin garang setelah mendapatkan satu tamparan dari papanya.
"Itu kar...." Baru saja Bram hendak menyahutinya. Dengan cepat Toni memotong pembicaraan papanya.
"Dan bahkan Papa tega meninggalkan mama di tepi jalan hingga mama harus meninggal pasca melahirkan aku..."
PLAAAKKK
__ADS_1
Satu tamparan lagi melayang di pipi Toni bagian yang sama namun lebih keras.
Mereka sama-sama terdiam.
Bram menatap tangannya sesaat sebelum hendak mendekati Toni.
Akhirnya air mata Toni tumpah seketika itu juga dengan deras.
Jemarinya memegang pipinya yang terasa sangat panas saat itu.
"Toniiii...." Bram perlahan hendak menyentuh pipi Toni yang memerah bekas tamparannya. Di wajahnya timbul raut penyesalan.
Toni menepis kasar tangan Bram, dan berbalik menuju kearah kamarnya.
Bram hanya menatap lirih punggung Toni yang semakin lama semakin menghilang di balik dinding pembatas ruangan-ruangan rumah itu.
.
.
.
.
.
**Bagaimana cara menjelaskannya kepada teman2 semua... jari kelingkingku hampir keriting... Padahal aku sudah ingin mengakhiri kesalahpahaman ini...
Sabar ya teman2
__ADS_1
pokoknya aku usahain buat up tiap hari.
makasih dukungannya**...