
Sepanjang perjalanan dari rumah Fitria, Kamelia tak henti-hentinya menangis. Matanya yang indah itu mulai sedikit menyembab.
Sesekali di sela kesibukkannya menyetir mobil, Kemil mengusap lembut kepala Kamelia untuk menenangkan hati istrinya itu.
Bahkan dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia sendiri saat itu menaruh rasa curiga penuh terhadap Toni. Bahkan dia merasa menyesal telah mencoba mempercayai laki-laki itu.
Dia sangat kecewa terhadap hilangnya Milka yang kemungkinan besar Toni-lah dalangnya.
Awas saja jika kamu berani macam-macam Toni. Aku tidak akan segan-segan memberikan pelajaran kepadamu.
Kurang baik apa selama ini orang tuaku dan orang tua Kamel menyikapimu?
Kamu bahkan akan aku buat untuk membayar air mata Kamel yang terkuras hari ini...
Kemil terus saja bersumpah di dalam hatinya. Rasa geram yang bermunculan di benaknya membuat dia tidak mampu mengontrol kecepatan laju mobil yang dikendarainya itu.
"Sayang... Apa papa ada menghubungimu?" Kamelia mulai bertanya. Dia sudah mampu menenangkan pikirannya kembali.
"Belum, sayang..." Sahut Kemil seraya merogoh kantong celananya.
Kemil terlihat kebingungan. Berkali-kali dia mengusap kantong celananya kiri dan kanan, tapi dia tidak mendapatkan ponselnya itu.
"Kenapa, sayang?" Kamelia ikut keheranan melihat reaksi suaminya yang sedang kebingungan.
"Ponsel aku tidak ada, sayang?" Sahut Kemil masih saja merogoh kantong celananya itu.
"Pinggirkan dulu mobilnya, sayang..." Pinta Kamelia.
"Tapi, sayang... Sudah mau maghrib. Nanti kita terlambat sampai kesana." Protes Kemil.
"Tidak apa-apa, sayang... Pastikan dulu ponsel kamu dimana. Ponsel aku sepertinya ketinggalan di rumah Fitria. Tadi sempat aku titip sama mama." Ujar Kamelia memaksa Kemil menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Baiklah, sayang..." Kemil akhirnya menurut. Dia menepikan mobilnya dan memeriksa seluruh kantong celananya muka belakang.
"Tidak ada, sayang..." Ujar Kemil semakin panik.
"Aduuuh... Bagaimana ya? Apa kita balik lagi saja ke rumah Fitria?" Kamelia terlihat semakin gusar. Air matanya yang semula sudah berhenti, mulai berlinangan kembali di pelupuk matanya.
"Tidak usah, sayang... Kita sejaman lagi mencapai desa loh." Elak Kemil menenangkan Kamelia.
"Ya, tapi kalau sama sekali tidak ada kabar bagaimana? Apa lagi kita sama-sama tidak memegang ponsel. Kan kasihan kamunya, jika ternyata Toni tidak membawa Milka ke rumahnya di desa." Kamelia mulai sedikit terisak.
Situasinya saat itu benar-benar di luar dugaan mereka. Mereka tidak tahu Toni membawa Milka kemana. Sedangkan ponsel untuk menghubungi keluarganya juga tidak ada sama sekali.
Mereka sudah memasuki jalan penghubung antara jalan lintas dengan desanya pula. Dan sangat sulit untuk mendapatkan pinjaman ponsel disana.
"Tidak apa-apa kok, sayang... Kita akan pastikan dulu ke rumahnya Toni... Kan sudah hampir dekat." Kemil sebenarnya juga sedikit ragu, Tapi demi menenangkan hati istrinya itu dia bersikap sesantai mungkin.
"Nanti kalau kamu lelah, biarkan aku yang menyetir ya..." Kamelia meminta persetujuan Kemil di sela-sela isaknya.
"Nggak mungkinlah... Pasti kamu kelelahan sekarang. Sedari tadi kamu banyak gerak. Dan... Kamu juga belum makan, kan?" Kamelia baru ingat bahwa dia belum makan. Dan otomatis Kemil pasti juga belum makan.
Belum lama Kamelia menebak-nebak suaminya belum makan, perutnya sendiri malah yang berbunyi.
"Loh... Kamu juga belum makan, sayang?" Kemil melirik kearah Kamelia.
Kamelia menggeleng sambil memegangi perutnya yang terasa lapar.
"Apa sebaiknya kita makan dulu sampai di desa nanti?" Tanya Kemil.
"Aku mau cari Milka dulu, sayang..." Sahutnya lirih.
"Ya sudah... Tapi kita shalat dulu ya... Sebentar lagi ada Mushalla disana." Kemil menunjuk kearah depannya yang sedikit jauh. Disana terdapat kubah Mushalla yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
"Iya, sayang..." Kamelia menurut.
Sesampainya mereka di Mushalla, mereka turun dan melakukan shalat di saf mereka masing-masing. Mereka juga tidak lupa berdoa dengan penuh harap dan khusyuk.
Kamelia sudah mulai sedikit tenang setelah mengadukan permasalahannya kepada Rabb yang maha mengetahui segalanya.
"Sudah selesai, sayang?" Seru Kemil dari tiang mushalla. Dia sedikit lebih awal leluar dari Kamelia.
"Sudah, sayang..." Sahut Kamelia sambil meraih tangan Kemil yang sedari tadi menunggu tangannya.
Sesampainya mereka di mobil, Kamelia melihat cahaya berada di bawah kursi tempat Kemil duduk. Cahaya itu dengan jelas terlihat karena hari sudah mulai gelap.
"Sayang... Apa itu ponselmu?" Kamelia menunjuk kearah cahaya itu.
"Hah, mana sayang?" Pandangan Kemil menuju kearah tunjuk Kamelia.
"Oh iya, sayang... Yaa ampun... Pasti jatoh tadi pagi. Mana aku silentkan waktu kak Adan sibuk-sibuk meneleponku tadi itu..." Kemil meraih ponselny yang berada di bawah kakinya.
"Toni???" Kemil menautkan kedua alis matanya ketika melihat layar ponselnya.
"Toni??? Apa Toni menelponmu, sayang?" Kamelia tidak sabaran dan terlihat antusias ketika mendengar nama Toni disebut oleh suaminya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.