
Seharian mengadakan perjalanan ke desa tempat tinggalnya sebelum menikah dengan Kemil, Kamelia merasa begitu kelelahan dengan tubuhnya. Dia langsung masuk menuju kamar yang ditempatinya setelah menyapa Rahmah yang sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah itu.
Kamelia hendak mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat seharian. Tetapi Kamelia kebingungan karena tidak mendapati handuk dan perlengkapan mandinya disana. Kamelia memutuskan mengambil yang ada di dalam lemari pakaiannya saja. Namun lagi-lagi Kamelia kebingungan karena tidak menemukan sehelai pun pakaiannya disana.
Kamelia mengitari kamar itu dengan pandangannya. Dan dia baru sadar tidak melihat sesuatu pun barangnya berada di kamar itu.
"Kemana barang-barangku?" Gumamnya bingung.
"Sudah pindah ke kamar kita semua..." Kemil sudah berdiri sambil menopang lengannya di pintu dan melipat kedua tangannya di atas perutnya itu.
"Kamar kita?" Kamelia mengerinyitkan dahinya menatap kearah Kemil.
"Iya... Kamar kita" Kemil bergerak menuju Kamelia yang masih mematung di depan lemari pakaian kamar itu.
"Kamu istriku... Jadi sudah sepantasnya kita berbagi kamar." Ujar Kemil sambil menyentuh kepala Kamelia dan menyelipkan rambut depan Kamelia kedaun telinga istrinya itu.
"Tapi..." Jantung Kamelia dibuat berdetak kencang dan tidak karuan olehnya. Dia merasa hal yang benar-benar berbeda saat itu.
"Aku janji tidak akan mengganggumu sampai saat itu tiba, sayang... Teruslah di sampingku." Kemil meraih kedua tangan Kamelia dan mengecup kening istrinya itu.
Kamelia terus menatap wajah Kemil yang menurutnya begitu manis saat itu. Dia tidak mampu untuk berkata-kata lagi di hadapan lelaki yang begitu istimewa baginya sedari dulu.
__ADS_1
"Ayo... Kita ke kamar." Kemil menarik lembut tangan Kamelia. Dan Kamelia menurut tanpa membantah sedikitpun.
****
Seusai mereka mandi, Kemil menarik lengan istrinya itu dengan lembut ke atas tempat tidur kamarnya untuk duduk berselonjoran.
Dia memijit lembut kaki Kamelia yang sudah mulai menyembab dan membengkak.
"Kamu pasti kelelahan, kan?" Kemil bertanya tanpa menoleh kearah Kamelia.
"Sedikit..." Kamelia tersenyum memandangi suaminya yang begitu baik dan perhatian menurutnya.
"Sudah, sayang... Kamu juga pasti kelelahan." Kamelia menarik lengan Kemil agar berhenti memijiti kakinya.
"Milkanya ayah..." Panggil Kemil sambil terus mengusap-usap perut Kamelia.
"Iya, ayah..." Kamelia menyahuti dengan suaranya yang dibuat seperti suara anak-anak.
"Kamu sehat-sehat terus ya, sayang... Ayah sudah tidak sabar dengan kehadiran kamu, nak..." Tiba-tiba bayi dalam perut Kamelia menendang-nendang seolah merespon ucapan Kemil. Dan Kemil dapat merasakannya.
"Tuh.. Tuh.. Tuh... Milka kita bergerak-gerak, sayang. Jangan-jangan dia mendengar ucapanku lagi." Kemil berseru saking kegirangan mendapat respon dari bayi dalam perut Kamel.
__ADS_1
Kamelia tertawa melihat reaksi Kemil yang begitu senang dengan aktifitas bayi dalam rahimnya itu. Saking senangnya, Kamelia sampai menitikkan air mata.
"Kamu menangis, sayang?" Kemil bangkit sambil mengusap pipinya yang terkena jatuhan air mata Kamelia.
"Aku bahagia, sayang..." Ujar Kamelia sambil menyeka sisa-sisa air matanya yang keluar.
"Kalau kamu bahagia, kenapa kamu malah menangis?" Kemil menyentuh kedua pipi Kamelia dengan lembut.
"Karena saking bahagianya, sayang... Aku bahkan tidak sampai berpikir untuk mendapatkan perlakuan baikmu sama sekali. Tetapi Allah malah memberi cintamu yang banyak untukku." Kamelia mulai sesengukkan.
"Aku juga tidak pernah sampai berpikir mendapatkan dua kehidupan karena kesombonganku. Tetapi Allah memberiku tiga kehidupan sekaligus setelah diriku sendiri, sayang. Papa... Kamu dan Milka." Tutur Kemil menatap lirih wajah Kamelia.
Kamelia menatap bingung kearah mata Kemil. Disana tersimpan kejujuran yang dapat dilihat oleh mata, hati dan pikirannya.
"Aku sudah dengar semuanya dari papa. Kamu perempuan baik. Bagaimana mungkin aku tidak akan jatuh cinta setiap harinya kepadamu. Dan aku tidak pernah menemukanmu dalam diri perempuan manapun yang dekat denganku selama ini." Kemil merebahkan kepalanya ke bahu Kamelia. Dan memeluk erat tubuh Kamelia dengan serakah.
.
.
.
__ADS_1
.
.