
Flashback Off
Bram mengatur napasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
Semua yang mendengar cerita Bram tak henti-hentinya menjatuhkan air mata. Mereka terlihat menyesal akan prasangka buruk yang mereka tanam selama bertahun-tahun.
"Rianti akhirnya hamil anakku Toni, tetapi perasaannya kepada Agung tidak bisa dihentikan meskipun aku ikuti semua maunya.
Aku mempekerjakan bik Sum, ibunya Wisnu di rumah agar dia merasa ada teman.
Ketika waktu melahirkannya tiba, Rianti memilih pergi untuk menemuimu, Gung. Walau aku berusaha untuk mencegahnya, tetapi dia tetap bersikukuh untuk pergi.
Seseorang meneleponku ketika itu. Dia memberi kabar bahwa orang tuaku kecelakaan. Papaku meninggal dunia dan mamaku lumpuh sampai sekarang akibat kecelakaan itu.
Dan jika kalian di posisiku, kalian akan mendahulukan yang mana?
Istri yang tidak bisa dibawa mengerti, atau orang tua yang tengah terkapar di rumah sakit?" Bram tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya mengingat masa lalunya yang pahit itu.
"Bahkan setelah itu pun, mamaku tidak juga mau menerima kehadiranku. Aku kembali kesini setelah memastikan keadaan mamaku baik-baik saja.
Namun apa yang aku dapat? Kabar meninggalnya Rianti, dan anakku dibawa oleh Idris.
Jelas aku tidak terima, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Aku cuma punya bayi lucuku yang sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa.
Bik sum mengundurkan diri dan meminta menantunya Lila, untuk menggantikan dirinya bekerja di rumah." Tambahnya mulai sedikit tenang.
__ADS_1
Kamelia terisak hebat... Entah kenapa dia yang terlihat paling menyesal disana. Isaknya sampai menimbulkan kehebohan. Lebih tepatnya dia tersedu-sedu karena isaknya yang begitu hebat.
Kemil menarik bahu Kamelia dan mengusapnya dengan lembut, agar istrinya jauh lebih tenang.
"Tak semua yang kita lihat... dan kita dengar, itu adalah benar." Kamelia berusaha menyampaikan apa yang terbesit di dalam hatinya melalui sela-sela isak tangisnya itu. "Seharusnya... Terlebih dahulu kita cerna kebenaran yang sesungguhnya. Agar kita bisa menjadi orang yang sangat bijak lagi."
"Maafin Kamel, om... Kamel sudah menghujat om tadi... Kamel menjadi benci akan diri Kamel sendiri. Padahal demi orang tua Kamel, om rela melakukan sesuatu yang tidak seharusnya om lakukan." Kamelia benar-benar diliputi rasa bersalah saat itu.
Toni segera menjatuhkan diri bersimpuh di kaki Bram. "Maafin Toni, Pa... Rasa sakit yang Toni terima tadi tidak sebanding dengan rasa sakit yang Papa rasakan selama ini." Toni menangis sejadi-jadinya.
Bram mengusap kepala putranya.
"Papa melakukan itu semua tidak untuk menyalahkan siapapun, nak...
Dan memang saya sempat datang menemui om Adipati kala itu. Itu untuk yang pertama setelah pernikahanku dengan Rianti dan terakhir kalinya.
Aku takut putraku hidup sendiri setelah kepergianku.
Jalanku yang salah, Gung... Id... Jalanku yang salah...
Aku mohon... Beri aku maaf... Tiada yang menyiksa bagiku selain hancurnya persahabatan kita..." Bram terisak dan semakin emosional.
"Kenapa kamu yang memintaa maaf, Bram... Seharusnya kami yang meminta maaf kepadamu. Seharusnya aku berterimakasih kepadamu..." Agung mendekati sahabatnya itu dan merangkul tubuh Bram yang mulai mengurus.
Idris masih terdiam di posisinya. Air matanya tak henti-henti mengalir dari telaga yang sejak dari tadi memerah.
"Bahkan permintaan maafku tidak akan bisa menebus kesalahanku, Bram... Tanpa mengetahui kebenarannya, aku memutuskan persahabatan kita. Aku mengusirmu dan membuatmu tersiksa menghadapi kegilaan adikku.
__ADS_1
Tidak sepantasnya aku mendapatkan kata maafmu, Bram." Rahmah meraih bahu suaminya. Seumur-umur dia tidak pernah melihat suaminya sehancur itu, bahkan ketika mertuanya pergi untuk selama-lamanya kala itu.
Kemil meraih tubuh Kamelia dan membenamkan wajah istrinya itu di dalam dekapannya. Mereka begitu terhanyut dengan suasana yang diciptakan oleh persahabatan tiga lelaki paruh baya itu.
Ramdani mendekati mamanya, dan memeluk mamanya itu dengan erat.
" Aku tidak butuh apa-apa lagi, Id... Selain dari kembalinya persahabatan kita. Dan kebahagiaan putraku... Aku yang akan pastikan bahwa dia tidak akan mengganggu hidup putra dan menantumu. Karena aku tau betul sifat putraku." Ujar Bram yakin.
"Aku juga percaya itu, Bram..." Agung merangkul sahabatnya itu dengan erat. Dan melambaikan tangannya kepada Idris.
Tanpa pikir lagi, Idris bangkit dari posisinya dan melangkah dengan penuh emosional kepada dua sahabatnya yang sudah menunggu dirinya.
"Maafkan saya, Bram... Saya bersalah dalam hal ini... Saya penjahatnya..." Idris tak henti-hentinya menyalahkan dirinya di dalam dekapan dua sahabatnya itu.
Semua begitu terharu melihat keakraban tiga lelaki bersahabat itu.
Tidak selamanya apa yang dilihat oleh mata adalah bukti bahwa itu sebuah kebenaran. Tetapi perlu waktu untuk mengukur seberapa besar usahamu untuk memperjelas keraguan dan kebimbangan yang ada di hatimu.
.
.
.
.
.
__ADS_1