KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
JANGAN DIEMIN AKU


__ADS_3

Kamelia terus saja menceritakan tentang pertemanannya dengan Asraf semasa kuliahnya. Kemil segera berpura-pura tidur di sisi tempat tidur sambil memeluk Milka yang juga terlelap sedari pulang puskesmas tadi.


"Sayang... Sayaaaang... Iiih kamu kok malah enak-enakan tidur? Aku udah nyerocos sedari tadi seperti orang gila." Sungut Kamelia sambil menggerutu kepada Kemil yang terlihat tidur benaran.


Kamelia beranjak keluar kamarnya masih dengan raut merengut. Sedangkan di tempat tidur, Kemil membuka sedikit demi sedikit matanya ketika Kamelia tidak lagi berada di kamar itu. Raut tidak senang terlihat sekali dari wajahnya yang masih tampan sedari kedatangan Asraf tadi.


"Teman tapi kok seakrab itu? Nggak ada kakunya sedikitpun, padahal kan temannya itu lelaki. Bagaimana kalau si Asraf itu menyukainya?" Gerutu Kemil.


"Sayang... Maafin ayah ya. Kalau kamu sudah besar, pasti kamu juga akan kesal sama ibu." Ujarnya lagi berusaha membela diri sambil membelai lembut kepala Milka yang masih tertidur pulas di sampingnya.


***


"Dia itu sebenarnya mau riset atau mau mengganggu istriku? Dan Kamel juga begitu, tumben-tumbennya ingin ikut... Hmmm... Seharusnya aku tetap tidak mengizinkannya untuk ikut tadi." Kemil menatap tidak suka ke arah Asraf yang tengah asik berbincang sambil tertawa bersama Kamelia di bawah pohon kayu besar. Dan kemudian dengan sengaja dia menghampiri mereka.


"Kamel... Sini aku bawa Milka. Dia pasti kelelahan karena seharian ikut kita kesini." Ujarnya sambil meraih Milka dari dalam gendongan Asraf.


Bayi hampir dua tahun itupun keriangan ketika ayahnya mengulurkan kedua tangan ke arahnya.


Kamel??? Tidak biasa-biasanya Kemil memanggilku dengan sebutan nama seperti itu. Kemil kenapa?~ Kamelia mulai merasa aneh terhadap sikap suaminya.


"Kenapa Kamel?" Tanya Asraf pura-pura tidak tau akan kecemburuan Kemil terhadapnya.

__ADS_1


"Nggak kenapa-kenapa kok As..." Saut Kamelia menyembunyikan kebingungannya dari Asraf.


"Mungkinkah Tuan Kemil cemburu?" Tiba-tiba pertanyaan Asraf membuatnya terkejut.


"Ah kamu ada-ada saja As... Suamiku nggak akan mungkin cemburu." Ujar Kamelia tak percaya.


Cemburu? Nggak mungkin Kemil akan cemburu kepada Asraf. Aku bahkan tidak pernah melihatnya cemburu sekalipun kepada Toni... Padahal kan nyata-nyata...


"Kamel..." Panggil Asraf membuyarkan lamunan Kamelia.


"Eh i-iya... Ada apa As...?" Tanya Kamelia tersentak.


"Kamu kok melamun, apa kamu memikirkan apa yang aku katakan?" Asraf menajamkan tatapannya ke wajah Kamelia.


Aku yakin sekali kalau tuan Kemil cemburu... Ahh mudah-mudahan dia tidak salah paham akan hubungan kami berdua...~ Batin Asraf. Matanya menatap khawatir dari kejauhan ke arah Kamelia yang semakin lama semakin menghilang.


Kamelia terus saja mengekor kepada Kemil. Untuk memulai bicara pun dia terlihat tidak berani semenjak dirinya dipanggil Kamel oleh suaminya itu.


"Sayang... Apa kamu mau makan?" Kamelia akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Kemil berbicara ketika sudah sedari tadi sampai di rumahnya.


"Aku masih kenyang..." Kemil menyahuti dengan cueknya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kamelia yang terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Tapi aku lapar sayang..." Rengek Kamelia berusaha mencairkan hati suaminya.


"Makan saja duluan..." Saut Kemil sambil pura-pura sibuk dengan benda pipih di dalam genggamannya.


Ajak saja Asraf... Kan dia teman akrab mu.~ Kemil memasang wajah masam. Namun Kamelia tak juga memahami kecemburuan suaminya itu.


"Tapi kan kamu tau aku sering mual akhir-akhir ini kalau makan sendiri..." Rengek Kamelia dengan wajah merengut hampir menangis.


"Tapi aku lagi malas..." Ujar Kemil seraya membaringkan tubuhnya di atas kasur dan membelakangi Kamelia.


"Sayaang... Kamu kenapa sih? Kalau aku ada salah, diomongin dong sayaaaang... Aku nggak bisa kamu diemin kayak gini..." Akhirnya Kamelia menangis. Jemari tangannya yang halus terus saja menggamit lengan Kemil. Dan sesekali mengguncang tubuh suaminya itu agar mau menoleh ke arahnya.


Dia menangis? Hmm... Sebenarnya juga tidak tega, tapi biar dia kapok dan bisa sedikit peka terhadap perasaanku.~ Batin Kemil. Dia tetap bersikukuh untuk tidak bergeming dari tempatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2