KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
CERITA VERSI IDRIS


__ADS_3

Hening.


Semua dari mereka tidak ada yang mau memulai untuk bicara atau pun bertanya. Meski mereka sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ucapan Idris, tetapi mereka lebih memilih untuk menunggu penjelasan lebih lanjutnya.


"Waktu itu sepulang saya meninjau perkebunan dari desamu, Toni, anaknya Bram mencegatku bersama dua orang suruhannya. Dia memintaku menjual tanah perkebunan bapakku secara paksa. Aku bersikekeh tidak akan pernah menyerahkan tanah itu kepadanya walau apa pun resikonya." Idris memulai untuk menceritakan kisahnya yang hampir ditikam kala itu.


"Toni hendak menusukku dengan belati. Namun entah keberanian apa yang dimiliki oleh seorang gadis yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya. Dia datang dengan tiba-tiba dari arah jalan lintas hendak menabrak Toni yang sedang mengayunkan belatinya itu.


Tetapi Toni dapat menghindar dari mobil sang gadis. Dan amarahnya pun tertuju pada sang gadis yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku pikir mereka saling mengenal sebelumnya. Karena sebelum dia membawa gadis yang tidak lain adalah Kamelia, sempat cekcok dengannya terlebih dahulu. Kamelia sempat menamparnya dua kali sebelum Toni membawanya masuk ke padang Ilalang yang sedikit jauh berada dariku." Mereka yang mendengarnya terkejut. Rahmah dan Maya menangis sesengukkan ketika nama Kamelia disebutkan oleh Idris. Sedang Kemil dan Ramdani mengepal dengan geram. Penyesalan tumbuh di hati mereka masing-masing.


"Aku tidak berdaya hendak menolongnya. Karena waktu itu lenganku ditahan oleh dua preman suruhan Toni.


Hampir setengah jam setelah itu, polisi datang. Awalnya aku merasa heran dengan kedatangan polisi. Karena aku sempat melupakan Kamelia yang dibawa pergi oleh Toni sebelum itu.


Dua preman suruhan Toni tertangkap. Dan aku merasa lega saat itu. Dengan tergesa-gesa, aku menaiki mobilku dan melajukannya dengan kencang. " Sesekali Idris mengusap kasar wajahnya karena air matanya sempat mengalir dari pelupuk matanya itu. Pikiran Idris kembali melayang pada kejadian waktu dia hampir dibunuh oleh Toni.


****


Flashback On.

__ADS_1


Setelah dua preman suruhan Toni tertangkap, Idris dengan sigap memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat kejadian itu karena rasa paniknya.


Sesaat matanya melirik kearah spion mobilnya dan menghentikan paksa mobilnya itu kembali. Dia melihat mobil Kamelia yang masih terparkir disana.


"Yaa ampun... Kenapa aku bisa melupakan gadis itu?" Idris kembali memutar mobilnya dan bergerak menuju tempatnya semula hampir dibunuh.


"Mudah-mudahan Toni tidak melakukan hal buruk kepada gadis itu." Dia terus saja berharap dalam kecemasannya.


Setelah memarkirkan mobilnya di samping mobil Kamelia yang terparkir tidak beraturan, Idris segera masuk ke dalam rumpun ilalang yang hampir setingginya itu.


Idris terus saja mencari Kamelia di setiap ruas daun ilalang. Dia mengikuti jejak Toni ketika membawa Kamelia masuk ke dalamnya tadi.


Jarak Idris dengan Kamelia semakin lama semakin dekat. Dan tangisan Kamelia semakin lama semakin terdengar pilu olehnya. Hal itu membuat Idris semakin mempercepat langkahnya.


Dari balik rumpun ilalang, Idris menangkap bayangan Kamelia. Dia semakin lama semakin mendekat dengan mengendap-endap. Kayu yang dibawanya sudah berada di atas bahunya yang siap dilayangkannya apabila bahaya menghampiri dirinya atau pun jika Toni kembali menyerangnya.


"Kamuuu..." Idris hanya mendapati Kamelia seorang disana. Kamelia menangis sesengukkan sambil memangku kedua lututnya. Pakaian yang dilucuti Toni tadi sudah berhasil dipakainya kembali.


Kamelia mengusap kasar pipinya yang basah karena air matanya. Dia hanya menunduk dan tidak mau menatap kearah Idris.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja, nak?" Idris mencoba mendekati Kamelia.


Kamelia tetap tidak menjawab. Dia beringsut menjauhi Idris dengan penuh ketakutan.


"Tenanglah, nak... Aku adalah orang yang telah kamu selamatkan tadi... Pasti kamu yang telah memanggilkan polisi tadi, kan?" Idris terus berusaha mendekati Kamelia.


"Saya mau mengucapkan terima kasih sama kamu. Tapi Toni yang membawamu tadi kemana? Apa dia berhasil kabur?" Kamelia yang mendengar nama Toni segera berlari penuh dengan ketakutan.


Idris semakin bingung melihat tingkah gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Matanya tidak sengaja melihat bercakan darah disana. "Astaga... Apa baru saja Toni memperkosa gadis itu?" Dengan sigap Idris kembali mengejar Kamelia. Namun sayang, mobil Kamelia telah jauh meninggalkannya.


Siapa gadis itu? Dimana lagi aku dapat menemukannya?~ Idris mengusap Kasar kepalanya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2