
Bram menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Arayan.
"Pah... Papa ngapain ajak Toni ke rumah ini? Papa tidak nyari masalahkan, Pa?" Toni begitu khawatir melihat raut papanya yang seakan hendak menerkam salah seorang penghuni rumah yang ada di hadapannya saat itu.
"Kamu ikut saja... Tidak usah banyak bertanya..." Ujar Bram seraya turun dari mobilnya.
Toni mengikuti papanya yang berjalan hendak masuk ke dalam rumah itu.
"Idriiiis..." Panggilnya setengah berteriak dari halaman rumah itu.
Mereka yang masih berada di ruangan utama rumah begitu terkejut ketika mendengar suara Bram memanggil nama Idris.
"Paah... Sepertinya itu Bram..." Tubuh Rahmah gemetaran seketika. Maya segera bergelayut di lengan suaminya yang masih kekar.
"Adan..." Panggil Agung seolah mengisyaratkan sesuatu kepada putranya itu.
"Fitria... Kamu temani Milka di dalam ya..." Pinta Ramdani yang mengerti arti tatapan papanya.
"Baik, kak Adan..." Sahut Fitria mengerti.
"Sini, aku antar kamu..." Ramdani berdiri sambil mengulurkan tangannya kearah Fitria.
Sepeninggal mereka, Idris berdiri dan melangkah kearah pintu utama rumah itu dan diikuti oleh sahabat sekaligus besannya, Agung.
"Ada apa kamu datang kesini?" Ujar Idris ketus.
Agung mengusap bahu Idris berusaha menenangkannya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Bram... Masuklah dulu. Mari kita bicara baik-baik di dalam." Agung berusaha mendinginkan suasana saat itu.
"Untuk apa kamu malah menyuruhnya masuk, Gung?" Tanya Idris kesal.
Agung hanya diam dan menarik lengan Idris. Bram dan Toni masuk ke dalam rumah itu mengekori kedua sahabat lamanya.
"Duduklah..." Pinta Agung kepada Bram.
Kamelia dan Kemil menelan ludahnya dengan kasar. Dia menatap bingung suasana yang terjadi di depan matanya saat itu.
Seiring Bram dan Toni duduk di antara mereka, Ramdani kembali setelah mengantar istrinya ke dalam.
__ADS_1
Toni terlihat gemetaran dan merasa tidak enak saat itu. Dia tidak berani menatap siapapun yang berada di dalam ruangan itu.
"Tidak perlu basa-basi... Jelaskan maksud kedatanganmu kesini dan setelah itu segeralah untuk pergi." Ujar Idris ketus.
Terlihat sekali dia masih menyimpan kekecewaan terhadap mantan sahabat sekaligus mantan iparnya itu.
"Terima kasih, Gung... Id.." Ujarnya setelah mengatur baik napasnya. "Tujuan utamaku datang kesini untuk menyampaikan permintaan maaf yang seharusnya sudah lama aku sampaikan kepadamu, Gung." Bram terlihat benar-benar tulus akan hal itu.
"Kamelia... " Bram menatap lirih kearah Kamelia.
"Tidak apa kok, om... Buah juga tidak akan jatuh jauh dari pohonnya." Ujar Kamelia. Rasa kesalnya mendorong mulutnya itu untuk berbicara hal yang sangat menyakitkan seperti itu.
Semua orang terkejut mendengar penuturan Kamelia. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan dari mulut perempuan cantik yang biasa terkenal ramah dan pemaaf itu.
"Kameliaaa..." Seru Bram setengah berteriak tidak terima mendengar penuturan Kamelia.
"Paaah..." Toni tidak menyukai teriakan papanya terhadap Kamelia.
"Kenapa kamu meneriaki menantuku? Kamu tidak ingat apa yang telah kamu perbuat kepada Rianti, adikku malam itu?" Ujar Idris tidak menyukai tingkah Bram.
"Memangnya kamu tau apa yang aku perbuat pada adikmu malam itu, Id?" Bram membalikkan pertanyaan Idris.
Bram meletakkan kertas dan buku yang berbentuk diary itu di atas meja yang berada di hadapan mereka.
"Apa kamu tau kertas itu, Gung?" Tanya Bram datar.
Agung melirik tajam kearah kertas yang dimaksud Bram.
"Ambillah... Dan lihatlah..." Perintahnya lagi.
Agung mengikuti perintah Bram. Dia mengambil kertas-kertas itu.
"Kenapa surat-surat balasanku untuk Rianti ada padamu, Bram?" Tanya Agung setelah mengenali kertas-kertas itu.
Tidak ada yang mengerti selain mereka berdua. Dan mereka hanya menatap penuh tanda tanya kearah mereka.
"Apa pun tentangmu akan selalu disimpannya, Gung. Dan buku itu adalah buku diarinya. Tidak ada satu lembar pun di dalamnya yang tidak ada tertulis namamu." Mata Bram berkaca-kaca.
"Apa mungkin maksudnya tante Rianti memiliki perasaan khusus terhadap Papa?" Kamelia menyahuti percakapan dua sahabat itu.
__ADS_1
Idris menatap tajam kearah Kamelia.
"Maaf, Pa... Kamel hanya menduga-duganya saja." Kamelia tahu ketidaksukaan Idris terhadap ucapannya.
"Tapi itulah kenyataannya, Id..." Bram membenarkan pernyataan Kamelia.
"Sekarang giliranmu membuka buku itu..." Pinta Bram kepada Idris.
Idris meraih buku diary di atas meja dan mulai membukanya.
"Ini benar tulisannya Rianti, Pa..." Rahmah yang berada di samping suaminya membenarkan apa yang dilihatnya.
"Iya, Mah... Papa juga pernah melihatnya menulis di buku ini. Tapi dia tidak mengizinkan Papa melihat isinya." Ujar Idris mengingat masa kelamnya bersama sang adik.
"Pertama kali, aku menangkapnya menulis lembaran terakhir kertas yang ditulisnya. Namun aku berpura-pura tidak mengetahuinya kala itu." Ujar Bram kemudian.
Dear Sweeatheart...
Rianti tau, Rianti begitu serakah jika mengingat tentang perasaan Rianti terhadap kak Agung.
Tetapi kenapa kak Agung lebih memilih kak Maya kala itu?
Tidakkah kak Agung bisa melihat kalau Rianti begitu mencintai kak Agung?
Maaf kak Agung... Jika suatu hari nanti Rianti memakai cara yang salah untuk mendapatkan kak Agung...
Jika hanya untuk menyayangi Adan... Rianti janji... Rianti akan jadi ibu sambung yang baik untuknya...
Rianti sudah tidak bisa lagi menunggu kak Agung terlalu lama... Rianti ingin memiliki kak Agung seutuhnya dan selamanya...
.
.
.
.
.
__ADS_1