KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MASA LALU ASRAF


__ADS_3

Senja begitu sendu, cakrawala tak begitu jelas melingkari mentari yang hendak kembali ke peraduannya. Kala itu, Kemil menatap lirih ke arah pantai. Tidak ada sekalipun senyum tergambar di ruas wajahnya yang tampan.


Rasa takut kehilangan dia kali ini sangat besar dibandingkan ketika tahu Toni adalah papa kandung Milka.


Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya... Tertawa selepas itu...


Cakrawala... Bisakah kau beritahu padanya bahwa aku cemburu?


Ku pikir, aku bisa terus-terusan terlihat bodoh karena mencintainya. Namun ternyata, aku memiliki sisi egois pada rasa gengsiku untuk mengungkapkan perasaan tidak sukaku terhadap lelaki lain yang bisa menikmati binar matanya.


Cakrawala... Apa kau merindukan istri cantikku dan putri kami yang manis? Kau terlihat sendu kali ini...


Aku juga cakrawala... Aku merindukan istri cantikku itu... Aku janji, aku akan membawanya segera kemari.


Kemil melangkah gontai meninggalkan tepian pantai. Dia melajukan kembali mobilnya yang terparkir di bawah pohon ketapang. Ditemani rintikan hujan menghiasi jalanan tidak terlalu lebar yang dilalui Kemil.


***


"Kemana Kamel?" Sepasang mata Kemil dengan tajam menyapu semua sudut ruang kamarnya.


"Milka pun juga tidak ada..." Dia melangkah ke kamar mandi ruangan itu. "Tidak ada... Kemana mereka?" Gumamnya bingung.


Apa Kamel ke pelataran belakang?~ Batin Kemil seraya keluar dari kamarnya.


"Wah... Yang tidak sabar menyusul istrinya. Sampai tidak mandi dan ganti baju dulu." Seru Rahmah ketika mendapati putranya keluar kembali dari kamar.


"Menyusul?" Tanya Kemil bingung.

__ADS_1


"Iya... Bukankah kamu akan menyusul Kamelia ke rumah mertuamu?" Tanya Rahmah kemudian. Dia mulai ngeh akan sikap menantunya tadi. "Apa kalian ada masalah?" Tanyanya lagi.


"Ah... Eh... Nggak kok, mah... Kemil hanya lupa kalau Kamel mau kesana." Sahutnya gugup karena berbohong.


"Owh..." Rahmah terlihat lega. "Lalu kapan kamu akan menyusul anak istrimu, Kemil?"


"Besok saja, ma... Kemil kurang enak badan..." Ujarnya lesu.


"Kamu harus menyusul istrimu sekarang, tuan Kemil..." Suara Asraf terdengar menggelegar dari depan. Dia datang bersama Idris dan seorang perempuan muda yang tengah menggendong bayi sepuluh bulanan.


"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Kemil dengan geram.


"Dia..." Baru saja Idris hendak menyahuti pertanyaan Kemil kepada Asraf. Namun dengan segera Asraf memotongnya.


"Saya hendak memperkenalkan anak dan istri saya..."


"Anak dan istri?" Gumam Kemil lirih hampir tak terdengar.


Rahmah dan Idris menatap tajam ke arah Kemil.


"Jadi, karena itu Kamel pergi ke rumah orang tuanya, Kemil?" Idris begitu emosi mendengar penuturan Asraf.


"Kemil mendiami Kamel beberapa hari ini, pa..." Sahut Kemil merasa bersalah. Wajahnya yang memerah segera ditundukkannya karena malu.


"Sayang..." Panggil Asraf kepada istrinya yang masih berdiri di belakangnya. "Kenalkan... Ini tuan Kemil, pemilik perkebunan teh tempat aku riset, sekaligus suaminya Kamelia."


"Tuan Kemil... Dia caca, istriku..." Tambah Asraf ketika menolehkan wajahnya ke arah Kemil yang berusaha tersenyum menyambut ucapan Asraf.

__ADS_1


"Duduklah Asraf... Caca..." Pinta Idris kemudian dan disahuti anggukan kepala mereka.


"Maafkan saya Tuan Kemil... Secara tidak sengaja, saya telah merusak rumah tanggamu bersama Kamelia.


Kamelia dulu juga pernah mengatakan hal yang sama kepadaku dan Caca..." Kemil menoleh bingung ke arah Asraf yang tengah mengenang masa lalunya.


"Saya dan Caca telah berhubungan sebelum mengenal Kamelia. Dan Kamelia hadir dalam hidupku sebagai teman, bahkan jauh lebih baik dari sekadar teman.


Hal itu membuat Caca cemburu dan marah. Bahkan dia memutuskan hendak mengakhiri hubungan kami.


Kamel berusaha membujuk Caca dan bahkan meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tidak dilakukannya.


Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menikahi Caca di usia muda sebagai bukti bahwa saya sangat mencintainya."


"Saya sangat menyesal karena pernah berburuk sangka kepada Kamelia waktu itu, Tuan." Sambung Caca. "Tapi semenjak saat itu, kamel menjadi sahabat baik juga untukku. Dua tahun ini dia hilang entah kemana. Waktu saya mendengar dari Asraf bahwa pemilik kebun tempatnya riset merupakan suami Kamel, saya sangat senang sekali. Dan saya meminta izin Asraf untuk menyusulnya kesini."


Kemil terlihat malu dan semakin merasa bersalah.


"Mah... Pah... Kemil mau susul Kamel ke seberang." Ujarnya seraya bangkit dari duduknya.


Mereka semua tersenyum senang melihat tingkah Kemil yang jelas terlihat tidak sabaran untuk menemui Kamelia.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2