KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MASA LALU BRAM


__ADS_3

Air mata Bram mengalir begitu saja. Toni mulai menatap iba ke wajah papanya yang dia rasa semakin hari semakin menua.


"Aku menyayangi Rianti karena dia adikmu, Id... Tapi lebih besar usahaku untuk menyelamatkan rumah tangga sahabat kita, Agung.


Kamu pikir apa yang terjadi malam itu antara aku dan adikmu?


Bukankah kamu masih melihat aku masih memakai boxer dan oblong yang sama sebelum kamu keluar dari kamarku?


Bukankah kamu tau Rianti selalu memakai lingrie setiap kali keluar dari kamarnya tanpa malu?


Aku tidak menyentuhnya sama sekali, Id...


Diamku tidak membuat kalian percaya karena penglihatan mata kalian... Lalu bagaimana dengan mulutku yang berbicara?


Aku rela menikahi adikmu yang tidak aku cintai sama sekali, dan menerima berbagai hukuman atas itu..." Bram menyeka air matanya yang mengalir begitu saja.


Semua dengan tenang mendengar cerita Bram.


"Apa itu artinya kak Bram berusaha menyelamatkan rumah tangga kami?" Maya terisak karena hanyut dalam cerita Bram.


"Aku cuma berusaha menyelamatkan Rianti dari kekeliruannya May... Dia benar-banar sudah dibutakan dengan cintanya terhadap Agung..." Sahutnya mempelurus dugaan Maya.


"Kemarahan kalian sampai tidak bisa mengingat kapan kami menikah dan kapan Toni terlahir..." Ujar Bram lagi.


"Tadi Papa bilang, Toni sama lahirnya dengan aku. Tapi kenapa yang aku tau Toni lebih tua dariku beberapa bulan?" Tutur Kamelia yang masih ingat betul hari kelahiran sahabatnya itu.


"Om sengaja mengubahnya, Kamel... Karena om khawatir akan ada yang mengungkitnya... Tapi om sendiri yang berusaha untuk itu sekarang. Om sendiri yang ingin keluarga mamanya mengakui akan dirinya." Sahut Bram.


Rasa bersalah dan semakin iba ditunjukkan oleh wajah Toni saat itu terhadap papanya.

__ADS_1


"Kalau Papa juga tidak mencintai mama, kenapa aku bisa terlahir?" Pertanyaan itu lolos dari bibirnya dengan mudah. Tidak ada sedikitpun teriakan dari suaranya yang lirih.


Bram mengusap wajahnya yang lelah.


Bayangan masa lalu membuatnya kembali sendu. Namun dia harus kembali ke masa itu.


****


Flashback On.


Sudah hampir sebulan pernikahannya, Rianti selalu saja berada di kamar gelap sepanjang hari di rumah yang baru saja dibeli Bram kepada seorang penduduk disana.


Meskipun begitu, Bram tetap memperlakukannya dengan baik. Bram membuatkan kamar yang serupa dengan kamarnya Rianti di rumah papanya, Adipati Arayan. Dengan cat yang sama dan beberapa sprei pengganti dengan warna mustard kesukaannya.


Bram juga mengetahui bahwa Rianti sangat menyukai lukisan dan berbakat pula dalam melukis, dia membelikan alat-alat lukis yang lengkap untuknya.


Pintu kamar Rianti terbuka dari luar, seberkas cahaya menyilaukan wajahnya. Dia mengelak dan memejamkan matanya yang tersakiti oleh cahaya itu. Tangannya masih memangku kedua lututnya.


"Aku tidak ingin makan... Kak Bram pergi saja..." Usir Rianti setengah berteriak.


"Tapi kamu nanti bisa sakit, Rianti..." Bujuk Bram tetap melunak.


"Aku tidak peduli..." Elaknya begitu acuh.


"Kak Bram kenapa jahat? Kenapa kak Bram bilang kalau kak Bram sudah memerkosa Rianti?" Teriaknya sambil terisak.


"Rianti... Kak Bram tau kalau kamu mencintai Agung..." Ujar Bram lelah.


"Owh... Jadi karena itu tadi kak Bram marah-marahin kak Agung dan melarangnya bertemu Rianti lagi?" Rianti menatap tajam wajah Bram.

__ADS_1


"Kakak juga sayang sama kamu, dek... Mari kita buat komitmen." Bujuknya tetap lembut.


"Komitmen apa?" Tanya Rianti tetap ketus.


"Mari kita saling belajar untuk mencintai, berusaha membangun mahligai rumah tangga yang indah. Kak Bram tidak akan memaksa kamu untuk mencintai kak Bram secepatnya. Karena kak Bram mengerti perasaan kamu, dek." Ujar Bram meyakinkan Rianti.


Namun kegilaan Rianti terhadap cintanya kepada Agung, membuat dia menolak keras ajakan baik Bram kala itu.


"Aku tidak mau... Aku akan terus mengejar kak Agung. Bahkan aku akan menyingkirkan kak Maya dari hidup kak Agung sebagai istrinya, apapun caranya." Ujar Rianti menggebu.


Bram hanya manusia biasa yang memiliki batas dalam kesabarannya.


Dia menarik paksa tubuh Rianti dan mengambil haknya dengan paksa.


Awalnya Rianti memberontak dengan keras. Namun setelah pembedahan yang begitu dahsyat diterimanya dari hantaman tubuh Bram yang kuat. Membuat dia pasrah. Sudah tidak ada lagi yang akan dipertahankannya.


Perlahan Bram melakukannya dengan baik, dan membuat Rianti merasakan kenikmatan olehnya.


Rianti terlelap dalam sakit bercampur nikmat yang dirasakannya di bawah naungan tubuh Bram yang masih kekar kala itu.


"Maafkan aku, Rianti... Aku terpaksa melakukannya dengan cara seperti ini. Mudah-mudahan kamu segera hamil agar kamu benar-benar fokus terhadap anak kita saja. Dan agar kamu bisa melupakan Agung dengan segera.


Aku janji Rianti... Aku akan mencintaimu bukan sebagai adik lagi setelah itu... Tapi sebagai ibu dari anakku." Bram mengecup kening Rianti dan mengusap lembut air mata yang masih membekas di wajah Rianti.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2