
Kamelia terbangun ketika Fajar baru saja terbit dari ufuk timur. Dia tidak lagi terkejut mendapati Kemil berada di sampingnya.
Kamelia menatap wajah tampan suaminya itu dengan seksama. Tidak terasa air matanya menetes begitu saja tanpa seizinnya.
Aku juga takut membayangkan jika jauh lagi darimu, Kemil... Kamu membuatku terbiasa denganmu....
Perlakuanmu padaku membuatku merasa istimewa...
Kemil mengerjapkan matanya perlahan. Semenjak bersama Kamelia, dia serasa memiliki alarm khusus sehingga membuat dirinya terbiasa bangun subuh.
Kamelia memutar tubuhnya dan menghapus bekas buliran air matanya.
"Apa kamu baru saja menangis?" Kemil bangkit dari tidurnya. Dia meraih dagu Kamelia yang berbelah dan memerhatikan matanya dengan leluasa.
"Tidak.... Aku baru saja menguap." Kamelia mengelak dari tatapan Kemil.
"Benarkah?" Kemil masih tidak percaya atas penuturan Kamelia.
"Sudah masuk waktu subuh... Ayo kita shalat." Kamelia berusaha menghindar dari pertanyaan Kemil.
Kamelia berlalu meninggalkan Kemil yang menatapnya dengan usil.
Setelah menunaikan shalat subuh. Kemil mengajak Kamelia untuk berjalan-jalan di halaman belakang rumahnya. Dia begitu aktif dan berusaha mengetahui kebutuhan Kamelia menjelang persalinannya. Dia lebih rajin menscroll tentang seputaran ibu hamil di layar ponselnya yang pipih.
Selama berjalan mengitari halaman belakang yang sejuk itu, tak sekalipun Kemil melepaskan genggaman tangannya kepada Kamelia.
Dari beranda rumah halaman belakang, sepasang mata Ramdani tak hentinya menatap mereka. Dia begitu bahagia melihat adik kesayangannya itu bersama lelaki yang sangat mencintai Kamelianya.
"Abuuung..." Kamelia melambaikan tangannya kearah Ramdani. Dan Ramdani membalasnya sambil tersenyum.
Seberapa baiknya lelaki itu menurut mama dan papa, sehingga mama dan papa tak memiliki amarah sekalipun mengetahui dia adalah pemerkosamu, dek? ~Ramdani masih terngiang akan pembicaraan orang tuanya semalam tentang Toni.
__ADS_1
"Hufh..." Kamelia mulai terengah karena lelah.
"Sudah cukup, sayang... Yuk kita kembali ke dalam." Ajak Kemil. Dia juga tahu batas Kamelia boleh melakukan jalan pagi.
Kamelia menurut. Tangannya terasa hangat dan berpeluh karena sedari tadi Kemil tidak melepaskan genggamannya dari tangan Kamelia.
"Terima kasih, Kemil..." Kamelia tersenyum kearah Kemil.
Kemil menghentikan langkahnya sehingga membuat Kamelia kebingungan.
"Kenapa?" Kamelia sedikit canggung melihat tatapan Kemil yang membunuh.
"Aku ingin kamu memanggilku dengan panggilan kepemilikan. Sehingga tidak ada seorang pun yang berani mengangguku dari kamu." Perintah Kemil ketus.
"Panggilan kepemilikan?" Kamelia menautkan alis matanya. Dia semakin bingung dengan permintaan aneh suaminya itu.
"Iya... Panggil aku sesukamu, asal jangan panggil nama. Kamu bahkan lebih muda dariku." Gerutu Kemil.
"Ya terserah... Sayang boleh... Suamiku juga boleh." Kemil masih saja menuntut istrinya yang sedang kebingungan.
"Mungki lebih baik Kemil saja, ya.." Kamelia memancing reaksi Kemil.
"Kamu ini, ya..." Kemil mengangkat tubuh Kamelia dan menggendongnya.
"Kemiiil... Turunin... Iya-iya... Sa-yang..." Kamelia seolah terpaksa memanggil orang yang benar-benar dia sayangi dengan panggilan seperti itu. Dia hanya belum terbiasa saja menggunakan panggilan sayang untuk suaminya itu.
"Yang ikhlas..." Perintah Kemil lagi.
"Sa-yang turunin aku..." Kamelia mengejanya.
"Lagi..." Kemil memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar dia bisa sampai ke beranda rumahnya mengendong Kamelia yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Iiih... Kamu ngerjain aku ah..." Rengek Kamelia dengan manja.
"Tidak..." Elak Kemil. Dia terus saja berjalan hingga sampai ke beranda rumahnya itu dan barulah Kemil menurunkan Kamelia disana.
"Sayang... Mari kita sarapan, nak. Mama papa serta abungmu akan kembali pagi ini." Rahmah memanggil mereka dari arah meja makan.
"Iya, Ma... " Seru mereka hampir bersamaan.
"Kamu siap-siap ya, sayang... Aku juga akan siap-siap dulu." Kemil melangkah kearah Kamarnya. Sedangkan Kamelia masuk kearah kamar yang ditempatinya.
.
.
.
.
.
.
**Hayoo... Siapa yang komentarnya belum ada like sama sekali?
Terimakasih y untuk like vote rate dan komennya. Semua komentar di novel baruku ini sudah terbaca semua kok...
Dan itu membuat Radetsa semakin bersemangat buat up.
Tapi maaf y belum sempat balas... Soalnya mau ngejar up bnyak biar cepat tamatnya.
Sekali lagi terimakasih y.😊**
__ADS_1