KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
USAHA TONI


__ADS_3

Siang itu Toni berencana menghampiri Misya ke pasar tradisional. Dia mengetahui segala hal tentang Misya. Kemanapun dan dimanapun gadis itu adalah hal yang menjadi jadwalnya selama ini. Gadis yang begitu tertarik dengannya semenjak SMA. Bahkan gadis yang rela memutuskan hubungan persahabatannya dengan seseorang hanya karena dirinya.


Setiap rabu Misya akan meminta untuk menemaninya berkeliling dan melihat-lihat dagangan Tradisional yang sangat menarik di desanya. Dia salah satu gadis yang aktif dan terkenal memiliki jiwa sosial yang baik.


Ketika itu Kemil sedang mencari tempat parkiran untuk mobil yang membawa mereka, sedangkan Misya meminta Kemil untuk menyusulnya ke dalam pasar di tempat yang sudah diberitahukannya sebelum turun dari mobil itu.


Dan tempat itu adalah tempat favoritnya yang sangat pasti diketahui oleh Toni.


"Misya..." Toni mendekat kearah Misya.


Misya berusaha menghindar dari Toni, namun tangan Toni lebih cepat menggapai lengan Misya.


"Kamu apaan Sih, Ton?" Misya berusaha menarik lengannya dari genggaman Toni.


"Kamu yang apa-apaan, sayang...? Dari kemaren aku menghubungimu, tapi tidak sekalipun kamu menjawab panggilan telpon dariku." Toni berusaha mendapatkan kesempatan dari Misya.


"Aku ini tidak penting bagimu, kan? Dari dulu yang ada dalam pikiran dan hati kamu hanya Kamelia. Lalu untuk apa kamu menghubungiku lagi?" Misya hampir menangis. Matanya sudah mulai menampakkan telaga bening yang siap mengalir air dari sana.


"Untuk apa aku mengharapkan dia lagi? Aku kan sudah ada kamu, sayang... Dan lagian kamu kan sudah memberitahukan semua tentang keburukannya kepadaku... Jadi mana mungkin aku sudi mengharapkannya lagi." Toni berusaha merayu Misya. Dia tahu gadis itu sangat mencintainya. Dan dia akan selalu memanfaatkan cinta Misya demi tujuannya.


"Lalu bagaimana dengan foto itu?" Misya sudah mulai melunak.


Toni menarik lengan Misya dan membawanya ke tempat yang tidak ada keramaian. Disana Toni memeluk Misya dan menghujani kepala gadis itu dengan kecupannya.


"Apa kamu akan salah menilaiku hanya karena sebuah foto?" Toni memasang wajah memelas agar Misya berhenti merajuk dan mau memaafkannya.

__ADS_1


Dan benar saja. Usahanya berhasil meluluhkan hati gadis itu kembali.


"Maafkan aku..." Ujar Misya lirih.


Kamu pikir ini adil Misya??? Kamu telah membuat aku melakukan kesalahan besar karena keegoisanmu...


Kamu telah memfitnah sahabatmu sendiri karena cintamu yang egois...


Jangan salahkan aku jika kamu akan hancur karena pembalasan dariku...


Kita sama-sama tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta kita masing-masing Misya...


Toni bergumam di dalam hati. Raut kebencian terlihat jelas di wajahnya saat memeluk gadis yang mencintainya itu.


"Apa kamu sudah ingin pulang?" Toni melepaskan pelukannya dari Misya.


Toni mengusap pipi Misya yang basah karena air mata.


"Baiklah... Ayo aku temani..." Ajak Toni mengenggam tangan Misya. Dia berusaha membuat Misya senyaman mungkin agar Misya percaya kepadanya.


"Tadi aku datang bersama Kemil, sayang..." Ujar Misya bingung.


"Kamu tinggal telpon dia... Katakan kamu bertemu temanmu atau apa.. Kan bisa..." Toni benar-benar tidak ingin melewatkan usahanya kali itu.


"Ummm... Baiklah..." Misya akhirnya menurut. Dia merogoh ponsel miliknya di dalam tas jinjing yang ia genggam dan kemudian menelpon Kemil.

__ADS_1


Tut.... Tut... Tut....


Kemil menyahut dari seberang.


"Hallo, sayang.... Sayang... Aku ketemu teman-teman aku disini, mereka ngajakin aku berkeliling... Tidak apa-apakan, sayang?


.....


"Maafin aku ya, sayang... Kamu hati-hati...


....


Telepon pun berakhir.


Misya melirik ke arah Toni yang memerhatikannya sambil menyeringai licik.


"Sudah beres, sayang... Ayo kita berkeliling..." Toni mendekat ke arah Misya dan mengenggam jemarinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2