
Kemil dan Toni keluar dari kamar itu. Mereka sengaja meninggalkan Kamelia dan Milka disana. Karena sampai detik itu, Kamelia tidak pernah berani menyusui Milka di depan siapapun termasuk suaminya, Kemil.
Di luar kamar.
"Kalau saya boleh tau, kamu ada urusan mendadak apa tadi?" Kemil membahas tentang kepulangan Toni yang secara tiba-tiba dari pesta Ramdani dan Fitria.
"Sebenarnya ini ulah Misya..." Toni menerawang. Ingatannya kembali pada saat Misya memintanya pulang dengan segera siang tadi.
Kamelia mendengar dengan jelas penuturan Toni dari dalam kamar.
Misya?
Lagi-lagi Misya... Aku tau tujuan sebenarnya saat ini adalah Kemil. Tapi aku tidak akan membiarkan dia mengambil Kemil dariku...
Tapi... Kenapa dia malah menggunakan Toni ya?
Kamelia terus saja bergumam sendiri. Rasa takut bermunculan kembali di benaknya.
Milka kembali tertidur dan mulai melepaskan sumber kehidupannya yang melekat pada tubuh ibunya itu.
Kamelia dengan pelan bangkit dari posisinya hendak merapikan bajunya yang sedikit tersingkap.
"Lukisan itu?"
Mata Kamelia tidak sengaja mendapati sebuah lukisan abstrak yang mirip sekali dengan lukisan yang berada di kamarnya di kediaman Arayan.
"Ah mungkin hanya kebetulan saja..." Kamelia memutar tubuhnya hendak turun dari tempat tidur itu.
"Perempuan itu?"
Lagi-lagi mata Kamelia nendapati sesuatu yang tidak asing baginya.
__ADS_1
"Ya, benar... Aku tidak salah lagi. Ini tidak hanya sekedar kebetulan. Perempuan yang berada dalam foto itu adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang ada dalam foto bersama papa di dalam laci bofet kamarku sebelumnya."
"Siapa orang ini? Apa mungkin dia almarhum ibunya Toni? Lalu apa hubungannya dengan papa dan papa Idris?" Kamelia meraih foto yang terpajang di atas nakas samping tempat tidur Toni.
Kamelia bergegas menemui Kemil dan Toni yang berada di depan pintu kamar itu.
"Sayang? Apa Milka sudah selesai menyusunya?" Kemil sedikit terperanjat atas kedatangan Kamelia yang begitu tiba-tiba. Dia dan Toni sama-sama menoleh kearahnya.
Jantung Kamelia berdetak kencang tak karuan.
Kenapa sekelabat tatapan mereka membuat wajah mereka sedikit mirip ya?~ Gumam Kamelia sambil menatap Kemil dan Toni secara bergantian.
"Sayang..." Kemil mengejutkan Kamelia.
"Eh... I-iya sayang... Kenapa sayang?" Kamelia tersadar dari lamunannya.
"Apa Milka sudah selesai menyusunya?" Kemil kembali mengulangi pertanyaannya kepada Kamelia.
"Toni... Ini fotonya siapa?" Kamelia segera menyodorkan foto itu ke hahadapan Toni. Foto yang telah berhasil membuat pikirannya melayang. Dan Kemil pun juga dapat melihatnya dengan jelas.
"Oh... Itu foto almarhum mamaku, Kamel." Jawab Toni sambil tersenyum getir.
"Mama kamu?" Kening Kamel langsung mengkerut dibuatnya. Kemil menatap heran kepada istrinya itu. Dia bingung kenapa Kamelia sampai segitu posesivnya bertanya tentang mamanya Toni.
Ada hubungan apa papa dengan mamanya Toni di masa lalu?~ Kamelia bertanya-tanya sambil terus menatap foto yang berada di tangannya saat itu.
"Memangnya kenapa, sayang?" Kemil yang tidak mampu membendung rasa penasarannya langsung bertanya kepada istrinya itu.
"Tidak, sayang... Aku hanya ingin tau saja. Rasanya beliau tidak asing saja bagiku." Ujar Kamelia. Dia sengaja tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada suaminya itu tentang foto mama Toni bersama papanya.
"Ada apa kamu begitu tertarik untuk mengetahui tentang Rianti, istriku?" Suara menggelegar terdengar dari arah depan. Suara itu tidak lain adalah milik Bram, papanya Toni.
__ADS_1
Dia terlihat tidak senang akan keingintahuan Kamelia terhadap keluarganya.
"Rianti?" Kemil dan Kamelia menyahuti dengan bersamaan.
Nama yang pernah terdengar di telinga mereka dan sempat membuat mereka penasaran olehnya.
"Iya... Nama mamaku Rianti... Ada apa kalian begitu terkejut mendengar nama mamaku?" Toni menatap heran kepada pasutri di hadapannya itu.
"Tidak perlu kalian menjawabnya jika kalian mengetahui sesuatu tentang keluargaku. Sebaiknya kalian urus saja keluarga kalian." Bram semakin garang dan marah. Tapi wajahnya yang pias menunjukkan terdapat luka yang sangat dalam di hatinya.
"Kami juga tidak bisa menjawabnya kok, om... Kami samalah dengan putra om yang tidak tau apa-apa. Hanya kalian yang sudah berumur paruh baya inilah yang harus menjelaskannya kepada kami." Ujar Kamelia lantang.
Ucapannya membuat Kemil sedikit terperanjat. Terdapat raut keberanian pada wajah istrinya itu yang dari awal menikah tidak pernah dilihatnya.
"Ayo, sayang, kita pulang..." Ajak Kamelia kepada suaminya yang masih terdiam karenanya.
"Baiklah, sayang..." Kemil bangkit dari duduknya ketika Kamelia melangkah ke dalam kamar Toni untuk menjemput Milkanya.
Kemil berpamitan dengan ramah kepada Toni dan Bram, sementara Kamelia bersikap acuh seakan keluar dari mall. Dia sama sekali tidak menoleh kearah bapak dan anak itu yang masih mematung di posisi mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1