KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MENYUSUI


__ADS_3

Kemil menatap cemas wajah istrinya itu sebelum terdengar ketukan halus dari luar.


"Masuuuk..." Seru Kemil sambil mendekap erat tubuh Kamelia.


Kamelia menatap bingung kearah suaminya. Menurut Kamelia itu sangat aneh. Perlakuan Kemil dan tindakan abung beserta sahabatnya seperti sedang merencanakan sesuatu.


Ceklek...


Pintu ruangan itu terbuka sedikit. Kamelia memerhatikan pintu ruangan itu dibuka dari luar, namun belum ada tanda-tanda seseorang akan masuk.


Namun ketika orang itu masuk, Kamelia sangat terbelalak melihatnya. Tubuhnya menggigil penuh amarah. Tangannya meremas baju Kemil dengan kuat. Dia membenamkan wajahnya ke dada Kemil.


"Untuk apa dia datang kesini? Sayang, suruh dia pergi. Aku mohon?" Pintanya lirih.


"Sayang... Katanya kamu sudah tidak perlu melakukan pemeriksaan. Dia adalah orang yang tidak bisa kamu hindari sampai kapan pun. Sedari Milka lahir, dia sekalipun belum menatap bayinya." Kemil mengusap lembut bahu Kamelia.


Ya, Kemil sengaja membawa Toni untuk menemui bayi Milka secara terang-terangan di depan Kamelia agar Kamelia terbebas dari rasa sakit masa lalunya. "Masalah atau kesalahan tidak akan terlupakan jika kita hindari... Dan bagaimana bisa Kamelia akan bangkit dari rasa sakitnya jika kesalahan itu terus hidup dalam bayang-bayangannya?" Begitulah Kemil membuat Ramdani mengerti karena sebelumnya dia juga tidak setuju dengan niat adik iparnya itu.


"Tapi bagaimana kalau dia menculik Milkaku?" Kamelia terisak dalam dada Kemil. Ketakutannya kembali muncul karena dia membayangkannya sendiri.

__ADS_1


"Sayang... Lihatlah Milkanya kita... Dia sangat mirip denganku, kan? Bagaimana mungkin aku rela Toni mengambilnya dari kita. Lagian Toni sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu." Tutur Kemil menghapuskan prasangka buruk istrinya.


Sebenarnya aku juga belum percaya seutuhnya, sayang... Tapi mendengar cerita bi Ina tentang kejadian ketika Misya datang kala itu, aku yakin Toni tidak akan menyakitimu lagi...~ Batin Kemil.


"Bener kamu tidak akan membawa Milka dariku?" Kamelia memberanikan dirinya menatap kearah Toni yang masih mematung di belakang pintu.


"Aku berjanji, Kamel... Aku hanya ingin dekat dengan putriku saja. Walau hanya sesekali." Toni menjawab dengan berbinar.


"Dia bukan putrimu...!" Seru Kamelia dengan ketus. Kamelia melirik kearah Ramdani yang masih menggendong bayi Milka dan menganggukkan kepalanya.


"Kemarilah..." Seru Ramdani menatap enggan kearah Toni.


"Yaa ampuun, cantiknya anak Papa..." Air bening dari kedua mata Toni berjatuhan tanpa seizinnya. "Mirip sekali dengan omamu, nak, mamanya Papa... Besok-besok Papa kenalin sama oma ya, nak." Toni terus mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan bayinya yang masih merah itu.


Kamelia begitu terenyuh mendengar obrolan Toni dengan bayinya. Meski dia tidak pernah melihat Foto mamanya Toni, tetapi Kamelia tahu bahwa mama Toni telah tiada saat melahirkan Toni dulu. Toni bahkan sampai menganggap mamanya sebagai mama kandung Toni kala itu.


Tidak lama, Bayi Milka menangis. Toni menjadi gelagapan dibuatnya.


"Mungkin dia haus..." Kemil mendekat kearah Toni dan mengambil bayi Milka darinya dan menyerahkan kembali kepada Kamelia.

__ADS_1


"Sayang... Sepertinya Milka haus...." Kemil dengan gemas menciumi wajah Milka yang semakin memerah karena menangis.


"Boleh tinggalin aku berdua dengan Milka?" Kamelia meminta dengan tersipu malu. Semua mengerinyitkan dahinya karena mendengar permintaan Kamelia.


Setelah semua dari mereka keluar, Kemil mendekat kearah istrinya itu sambil berbisik.


"Aku juga kah, sayang?" Pertanyaan Kemil sukses membuat wajah Kamelia memerah.


"Iiih... Iya, kamu juga, sayang..." Sungutnya dengan wajah semakin tersipu.


"Aku, kan suami kamu..." Ujar Kemil semakin menggoda istrinya itu.


"Sayaaang..." Kamelia melototkan matanya kearah suaminya. "Kasihan Milka nih..."


"Eh iya iya..." Kamelia berhasil membuat Kemil keluar dari ruangan itu dengan alasan Milka.


"Kenapa kamu juga keluar, Kemil?" Fitria dengan polosnya bertanya.


"Oh eh... Itu... Bosan di dalam." Jawab Kemil gugup.

__ADS_1


Ya, meski dia dan Kamelia sudah dekat dan saling mencintai. Bahkan juga sudah berbagi kamar sekalipun, namun dia belum pernah menyentuh istrinya itu dengan intim. Jadi sangat wajar baginya Kamelia merasa malu menyusui Milka jika di depannya juga.


__ADS_2