
Bram terlihat lemah, tubuhnya yang mengurus mengeluarkan banyak keringat dari kulit-kulitnya yang tipis.
Dia bangkit dari posisinya dan melangkah membuka pintu kamarnya itu. Kakinya membawa dirinya ke kamar putranya yang terkunci rapat dari dalam.
Bram mengangkat tangan kanannya dengan ragu hendak mengetuk pintu kamar Toni. Namun pada akhirnya Bram memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu.
Tok... Tok... Tok...
"Toniii... Ton... Buka pintunya..." Bram memanggil-manggil Toni seiring tangannya mengetuk pintu kamar Toni.
"Toni, bukak pintunya... Papa mau bicara, Ton..." Berulang kali dia mencobanya, namun meskipun Toni yang terbangun karena ketukan dan panggilannya, malah enggan untuk membukakan pintu.
"Toniii.. Papa tau kamu ada di dalam. Buka atau Papa dobrak..." Perintahnya seraya mengancam Toni.
Meski Bram telah mengeluarkan ultimatumnya, namun tidak tampak tanda-tanda bahwa pintu kamar itu akan terbuka.
"Toni... Papa tidak main-main... Papa akan dobrak pintu kamar kamu dalam hitungan ke tiga..." Ujarnya setengah berteriak.
"Satuuu...
Duaaa....
Tiiii....
KREK... KREK... CEKLEK...
Akhirnya Toni membukakan pintu kamarnya dari dalam.
"Ada apa lagi sih, Pa?" Toni terlihat acuh bertanya kepada papanya itu.
__ADS_1
"Ada yang harus Papa jelaskan kepadamu, nak..." Ujar Bram seakan memohon.
"Semuanya sudah jelas, Pa..." Potong Toni cepat.
"Kamu lebih memercayai mereka dari pada Papamu yang telah merawat dan membesarkan kamu selama ini, Ton?" Bram meninggikan suaranya. Namun tetap saja ada luka di dalam setiap katanya itu.
Hanya saja Toni tidak mengetahui luka papanya itu.
"Lalu apa yang bisa Toni percayakan terhadap penjelasan dari Papa? Papa yang terang-terangan meminta Toni mempermainkan nyawa om Idris... Disitu sudah cukup memberikan bukti kepada Toni kalau Papa memang orang jahat." Toni kembali hendak menutup kamarnya. Namun dengan cepat tangan Bram menahannya.
"Karena Papa percaya kamu tidak akan melakukannya. Papa sangat percaya kamu anak Papa yang baik. Meski Papa kecewa dengan apa yang telah kamu perbuat terhadap putrinya Agung." Ujar Bram Lirih.
"Kenapa Papa kecewa? Aku juga terlahir karna hal yang sama kan, Pa?" Toni mengangkat bibirnya sebelah.
"Cukup, Toni... Kamu lahir bertepatan dengan kelahiran putrinya Agung, bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan hal seperti itu?" Bram seakan geram dengan tuduhan anaknya sendiri.
"Ayo ikut Papa..." Perintah Bram.
"Ikut saja jika kamu ingin tau yang sebenarnya." Bram membalikkan tubuhnya dan melangkah kearah depan rumahnya.
Toni yang juga penasaran akan pengakuan papanya, segera mengikuti Bram dari belakang hingga lelaki paruh baya itu masuk ke dalam mobilnya.
***
Setelah kepergian Toni dari keluarga Arayan. Lama mereka berdiam diri di ruangan itu.
Kamelia berusaha mengeluarkan apa yang saat ini ia pendam.
Kemil menatap khawatir akan ekspresi wajah Kamelia.
__ADS_1
"Sayang..." Panggil Kemil sambil mengusap punggung tangan Kamelia.
Kamelia tersentak dari keterpurukan hatinya saat itu. Tatapannya kosong lurus ke depan.
"Aku tidak tau harus meratapi apa saat ini. Masa depan Milka yang akan dipertanyakan nanti? Atau luka tante Rianti yang menjadi luka anak dan cucunya juga. Jika aku ditaqdirkan harus diperkosa, tetapi kenapa harus saudara sepupu dari suamiku sendiri yang memperkosaku?" Kamelia berucap tanpa berkedip. Air matanya mengalir deras di pipinya.
Mata Kemil menoleh ke wajah Kamelia.
"Apa baru saja kamu menyesal telah aku nikahi?" Kemil menatap wajah Kamelia dengan tatapan tidak suka mendengar ucapan Kamelia.
"Aku harus jawab apa kelak kepada anak-anakku, Kemil?" Kamelia tidak ingin membalas tatapan suaminya itu.
"Apa yang harus kita jawab, Kamel? Milka juga anakku?" Kemil berucap dengan begitu tegas.
"Tidak semudah itu... Jika nanti kita..." Kamelia menggeleng. "Jika aku punya anak lagi darimu, maka hubungan mereka akan disebut apa? Saudara seibu namun juga saudara sepupu? Aaakhh... Kenapa begitu rumit?" Kamelia mengusap kasar wajahnya. sikutnya menumpu wajahnya itu di atas pahanya.
Semua terdiam mendengar perkataan Kamelia.
"Setidaknya Kemil dan Toni bukanlah saudara sebapak, nak. Pernikahan kalian bukanlah sebuah dosa yang diharamkan dalam agama kita?" Ujar Agung menengahi.
"Tetap saja, Pa..." Kamelia seakan masih tidak bisa terima akan apa pun alasan dari orang tuanyanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.