
Malam semakin larut, namun Kamelia dan Kemil masih terjaga di kamar mereka. Milka yang sedari tadi terlelap kembali di.dalam baby horbornya setelah mengobrol panjang dengan ayahnya yang tampan itu.
Kemil merebahkan kepalanya di paha Kamelia yang tengah duduk berselonjoran di tepi tempat tidur mereka.
"Sayang..." Kemil menatap lekat wajah istrinya dari bawah.
"Hmmm..." Sahut Kamelia sambil memainkan rambut Kemil yang sedikit tebal dan rapi.
"Sebenarnya siapa ya, mamanya Toni itu? Kenapa papanya terlihat tidak senang sekali kita bertanya-tanya tentangnya?"
"Aku juga tidak tau, sayang..." Kamelia berbicara yang sejujurnya. Hanya saja dia lebih banyak mengetahui tentang teka-teki masa lalu orang-orang paruh baya itu.
"Aku tidak menyangka Kamu bisa bicara seperti tadi sama papanya Toni. Aku pikir kamu tau. Masalahnya, kan kamu bilang mamanya Toni tidak asing bagi kamu." Kemil semakin penasaran.
Kemil bangkit dan duduk menghadap kearah Kamelia.
Kamelia tiba-tiba terkejut ketika matanya dengan lekat memandangi mata Kemil. Namun sekuat tenaga dia mencoba menahan rasa keterkejutannya itu.
Dia serasa didekati oleh Toni saat itu.
Yaa Allah.... A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim...
Aku harus bisa mengendalikan diriku... Aku tidak ingin terus-terusan diikuti bayang-bayang Toni yang pernah berbuat keji kepadaku...
Kamelia mengumpulkan keberaniannya dan mengecup cepat bibir Kemil yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Tujuan Kamelia agar Kemil berhenti menatap lekat matanya.
Mata Kemil membulat ketika merasakan kehangatan bibir Kamelia yang tipis. Jantungnya berdegup hebat.
Kepala Kamelia yang menunduk karena malu, segera ditarik Kemil ke hadapannya. Kemil menatap lekat mata Kamelia yang hanya berjarak satu senti dengan matanya.
Jantung Kamelia tak kalah berdegup kencang. Perlahan dia memejamkan matanya seakan meminta lebih dari Kemil.
Kemil semakin tidak mampu menahan gejolak hasratnya. Hasrat memiliki Kamelia seutuhnya, meski perempuan yang telah menjadi istrinya itu bukanlah gadis sempurna saat dinikahinya kala itu.
Lengan Kemil yang kekar begitu kuat mencengkram tengkuk Kamelia.
__ADS_1
Kemil mendekatkan bibirnya pada bibir tipis Kamelia. Perlahan dia ikut memejamkan matanya dan menikmati pertukaran rasa pada mulut mereka.
Kemil sungguh pandai memainkan aksinya, sehingga Kamelia melenguh karena kenikmatan yang dirasakannya saat tangan Kemil menyentuh salah satu gundukan di dadanya itu.
Bibir Kemil semakin lama semakin turun. Dia mengecup setiap jenjang leher Kamelianya.
Dengan hati-hati, Kemil merebahkan tubuh Kamelia ke tempat tidur itu. Tangannya menarik selimut dan menutupi tubuh mereka dan hanya menyisakan dari leher ke kepala.
Di.dalam selimut itu, Kemil beraksi sebagai seorang lelaki sahnya Kamelia.
Tanpa terasa oleh Kamelia, Semua pakaiannya telah lenyap dari tubuhnya yang tertutup selimut tebal itu.
Kemil menyejajarkan kepala mereka dan hendak menindih tubuh Kamelia. Namun dia kembali teringat ketika Kamelia mendorong tubuhnya semalam. Dia takut hal itu akan terjadi lagi.
Kamelia yang sudah tidak merasakan reaksi Kemil lagi terhadap tubuhnya, perlahan-lahan membuka matanya.
Dia tahu, pasti saat itu Kemil tidak lagi ingin membuatnya ketakutan.
Sebenarnya Kamelia begitu ragu, dia tidak ingin menyakiti suaminya itu lagi. Dia sungguh tau keterkejutan suaminya semalam karena didorongnya.
Kamelia mengelus lembut rusuk Kemil dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Kemil kembali mengecup bibir Kamelia dan **********. Hasratnya kembali muncul.
Desiran lafadz yang terdengar merdu di.telinga Kamelia diucapkan oleh bibir Kemil, dan Kamelia pun mengikutinya pula.
Tubuh Kemil menindih tubuh Kamelia seusai lafadz itu berakhir dari bibirnya.
Terdengar erangan yang semakin menambah birahi Kemil dari pita suara Istrinya itu.
Cairan bening mengalir dengan sendirinya di tepi mata Kamelia.
Rasanya kali itu sungguh berbeda baginya. Meski masih ada rasa sakit, tetapi sakitnya kali ini disertai dengan rasa nikmat. Karena dia melakukannya bersama orang yang sangat dicintainya.
"Aku mencintaimu, sayang..." Bisik Kemil yang masih bertengger di atas tubuh istrinya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, sayang..." Sahut Kamelia dengan air mata yang sedikit lebih banyak bercucuran.
"Apa sakit?" Tanya Kemil khawatir.
"Tidak...." Kamelia menggeleng.
"Lalu kenapa kamu menangis?" Kemil mengusap lembut air mata Kamelia dan menjatuhkan dirinya ke samping tubuh istrinya itu.
Kemil memeluk erat istrinya dari depan dan kemudian mengecup keningnya.
"Aku malu..." ujar Kamelia di ceruk leher suaminya itu.
"Kita, kan sudah suami istri, sayang... Kenapa kamu malu?" Kemil mengusap lembut kepala Kamelia.
"Aku malu karena kamu tidak menemukan kesempurnaan di dalam diriku..." Kamelia sedikit terisak.
"Kesempurnaan itu hanya milik-Nya sayang... Tetapi jika itu alasan kamu mengatakan dirimu tidak sempurna, tidak-kah kamu ingat bahwa kita memiliki Milka di balik kekurangan kita.
Meski aku bukan yang pertama, tapi aku berharap, aku menjadi yang terakhir dalam hidupmu." Kemil semakin menguatkan pelukannya.
"Barakallah, sayang.... Selamat ulang tahun." Bisik Kemil di ubun-ubun Kamelia.
23.59
.
.
.
.
.
.
__ADS_1