KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
BERTEMU


__ADS_3

"Seharusnya Kamu sadar diri, Kamel... Kamu itu hanya perempuan murahan yang dinikahi Kemil. Entah siapa bapak dari bayi yang ada dalam kandunganmu saat ini..." Kemil baru saja hendak meneriaki Misya namun lagi-lagi ditahan oleh Kamelia. Hati Kamelia benar-benar terluka mendengar ucapan Misya. Namun sikap Kemil dan seluruh perhatian Kemil selama ini membuatnya begitu tegar saat itu. Dia begitu yakin akan cinta Kemil terhadapnya dan anak dalam kandungannya.


"Sayang..." Toni yang baru saja datang mengalungkan lengannya ke leher Misya dengan tiba-tiba. Misya gelagapan dibuatnya.


"Ini termasuk alasanku memutuskan kamu Misya... Kamu memiliki laki-laki lain selain aku. Kamu kira aku tidak tau kamu bertemu dengannya kala itu di pasar Tradisional?" Kemil menyeringai senang. Akhirnya dia memiliki alasan kuat untuk jauh-jauh dari Misya.


Tanpa disadari siapapun, tubuh Kamelia bergetar hebat melihat sosok Toni. Napas Kamelia turun naik tak beraturan. Keringat dingin yang seharusnya tidak keluar di kala itu berhasil membasahi tubuhnya. Kamelia menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat hingga mengeluarkan sedikit darah kental darinya. Matanya melotot tak berkedip. Dia melangkah mundur menjauh dari sana. Bayangan dirinya diperkosa kembali menghantuinya saat itu.


"Kamelia...?" Toni baru menyadari bahwa istri Kemil adalah Kamelia yang sangat dicintainya. Dan ketika itu Kamelia melihatnya penuh dengan ketakutan di balik remang-remang cahaya lampu jalan yang tidak terlalu terang. Dia begitu terkesiap. Dengan segera Toni melepaskan kalungan lengannya dari leher Misya untuk menghampiri Kamelia yang berjalan mundur seperti hendak menghindarinya.


Kemil ikut terheran karena pacar Misya juga mengenali istrinya. Ketika Kemil hendak menoleh kearah Kamelia, dia tidak mendapati Kamelia di sisinya lagi. Dia sempat melihat Kamelianya seperti orang ketakutan. Persis ketika di pasar dan di jalan hendak ke rumah sakit kala itu.


Misya pun ikut terheran melihat tingkah Kamelia yang begitu tiba-tiba.


"Sayaaang..."


"Kameliaaaaa..." Kemil dan Toni berteriak secara bersamaan seiring robohnya Kamelia.


Motor antik yang memiliki sedikit pencahayaan di kepalanya hampir saja menabrak Kamelia yang berjalan mundur. Untung saja orang itu mengendarai motornya tidak terlalu kencang.

__ADS_1


Misya terkejut melihat adegan yang terjadi di depan matanya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang sempat ternganga.


Toni dan Kemil segera berhamburan untuk mendapati Kamelia yang terduduk di sisi jalan. Sedangkan pengendara motor itu turun hendak membantu Kamelia berdiri.


Dengan panik Kemil merangkul tubuh Kamelia. Dia segera merogoh kantong celananya untuk mengambil slayernya.


"Sayang, buka mulutmu..." Pinta Kemil sambil memaksa Kamelia menggigit slayer yang ditekannya di bibir Kamelia yang telah mengeluarkan darah segar.


Kamelia semakin ketakutan dan berusaha hendak menjauh dari sana. Kemil mempererat dekapannya ke tubuh Kamelia yang menggigil hebat.


"Pergiiiiiii..." Kamelia memberanikan dirinya ketika Toni semakin mendekatinya. Dan sebuah kesempatan bagi Kemil menaruh slayer itu di bibir Kamelia.


"Kamelia..." Toni tetap gigih untuk mendekati Kamelia.


"Jangan dekati istrikuuu..." Seru Kemil berteriak. Kemil membenamkan wajah kamelia ke dalam dadanya yang bidang. Saat itu dia mulai faham dengan situasinya.


Dengan sigap Kemil mengangkat tubuh Kamelia dan berjalan kearah mobilnya. Toni terlihat mengkhawatirkan Kamelia. Tetapi dia juga sudah tidak punya keberanian lagi untuk mengejar perempuan yang dicintainya selama itu. Dia hanya memandang punggung Kemil yang mulai menghilang saat memasuki mobil yang terparkir sedikit jauh dari tempatnya berdiri.


Misya masih mematung tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Di dalam mobil Kemil.


Kemil merebahkan tubuh Kamelia di kursi sebelah kemudi. Kemudian dia berputar dan masuk dari arah seberangnya.


"Sayang... Tenanglah... Jangan buat aku semakin khawatir..." Kemil mengusap-usap bahu Kamelia. "Kamu baik-baik saja kan, sayang? Tidak ada yang sakit, kan?" Tanya Kemil sambil mengecek tubuh Kamelia.


Kamelia tidak menyahuti pertanyaan Kemil. Dia memejamkan matanya. Dekapan dan sentuhan Kemil membuatnya jauh lebih tenang. Dia kembali tertidur.


Kemil mengecup Kening Kamelia dan menatap lirih wajah cantik di hadapannya itu sebelum pergi melajukan mobilnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2