
Pagi itu keluarga Arayan dan keluarga Effendi sudah berkumpul di rumah sakit tempat Bram Zulherman dirujuk.
Sesuai permintaan Kemil, bi Ina menjaga Milka di ruang bermain anak yang sudah di sediakan rumah sakit itu, sehingga Kamelia dapat menjenguk Bram ke dalam.
Disana, Agung dan Idris sudah bersama beberapa orang asing yang tidak mereka kenali. Hanya Kamelia yang tersenyum ketika melihat mereka. Kamelia yang sempat mendengar percakapan papa mertuanya kemaren sore, begitu yakin bahwa perempuan lumpuh di antara mereka adalah neneknya Toni, mamanya Bram.
"Sayang... Siapa mereka? Apa kamu mengenali mereka?" Kemil berbisik ke telinga istrinya.
"Sepertinya itu mamanya om Bram, sayang. Sore kemaren, sebelum papa menyusul ke puskesmas, aku mendengar papa menelepon seseorang yang aku yakin dia adalah mamanya om Bram." Terang Kamelia setengah berbisik. Kemil membulatkan mulutnya, baru saja dia ingat Bram kemarennya bercerita bahwa mamanya lumpuh akibat kecelakaan.
Tidak hanya infeksi bakteri yang menyerang akibat ketidakmampuan sum-sum tulang untuk melawannya.
Namun juga telah terjadi perdarahan pada otak pasien.
Saat ini, hanya keajaiban yang Maha Kuasa yang dapat kita tunggu. Sebaiknya keluarga menemaninya dan tetaplah berada di sekelilingnya. Hanya itu yang dibutuhkan pasien.
Ucapan dokter yang diperdengar Agung dan Idris terus saja terngiang di telinga mereka.
Mereka hanya bisa mengikuti saran dokter untuk membawa keluarga Bram berada di dekatnya, tanpa memberitahukan kondisi Bram yang semakin parah saat itu.
"Ayo, tante... Kita masuk ke dalam. Bram sudah menunggu sedari tadi. Dia ditemani putranya, Toni." Ajak Idris berusaha tersenyum.
Agung yang berada di belakang, menekan kedua ruas matanya dengan ibu jari dan telunjuknya untuk menahan air bening yang akan keluar dari sana.
"Apa yang terjadi, Pa? Apa semua baik-baik saja?" Kemil yang tiba-tiba datang bersama rombongannya dan mendapati tingkah aneh mertuanya segera bertanya.
Agung terperanjat mendapati keluarganya sudah berada di dekatnya.
"Eh... Kalian sudah datang? Milka ditinggal sama siapa, Kamel?" Agung berusaha menghindar dari pertanyaan menantunya.
__ADS_1
"Milka sama bi Ina, Pa... Dia ada di ruang bermain anak. Oh ya, Pa... Apa semua baik-baik saja?" Kamelia kembali mengulangi pertanyaan Kemil.
Agung hanya terdiam. Buliran bening itu pun lolos dari matanya yang masih tampak ideal dan sedikit memerah.
Agung menggelengkan pelan kepalanya. "Entahlah, nak... Dokter seakan menyerah menangani sahabat lama Papa itu." Ujarnya melemah.
Maya segera mendekati suaminya, dan mengelus lembut bahu suaminya itu. Dia tahu bagaimana terpukulnya Agung sebagai sahabat Bram.
"Ayo kita masuk..." Bram mengusap kasar wajahnya agar air matanya ikut tersapu.
***
Di dalam ruangan, Toni tidak lepas menggenggam jemari Bram yang terbaring lemah disana dengan memakai banyak peralatan medis di tubuhnya.
Sejak semalam mereka datang, Bram sudah segera ditangani para pejuang berblezer putih itu. Hanya saja, mereka tetap tidak bisa melakukan apa-apa.
Mata Toni yang sayu terus saja menatap sendu ke wajah papanya.
Duduk disini dan melihat papa terbaring lemah seperti ini, lebih menyakitkan bagiku...
Aku yang jahat... Aku yang bersalah... Tetapi kenapa papa yang harus menderita?
Aku mohon... Angkatlah penyakitnya yaa Allah...
Butiran bening lolos dari sela-sela mata Toni yang sendu dan membasahi lengan papanya.
Mata Bram memerjap seketika, perlahan-lahan dia mencoba membuka matanya yang tertutup dengan rapat.
"Toni..." Suaranya yang memarau dan nyaris tak terdengar, lolos dari bibirnya yang pucat itu.
__ADS_1
"Papa... Papa sudah sadar?" Seru Toni begitu senang mendapati mata papanya yang telah terbuka sempurna.
"Kenapa Papa ada disini? Papa ingin pulang saja..." Pinta Bram lirih.
"Nanti kita pulang, Pa... Tunggu Papa diizinkan oleh dokter untuk pulang, ya... Lagian ada Toni disini, Pa. Toni akan terus menemani Papa..." Bujuknya.
"Kamu janji?" Pinta Bram lirih.
Toni mengangguk cepat. Dia berusaha menahan air matanya, meski pelipis matanya sudah terasa pedih saat itu.
CEKLEEK.
Pintu ruangannya terbuka dari luar. Tiga orang asing bagi Toni masuk secara bersamaan. Lelaki paruh baya mendorong kursi roda yang diduduki perempuan tua.
"Mamaaa..." Seru Bram dengan suaranya yang lemah.
"Mama?" Gumam Toni bingung dan raut wajah yang terlihat seolah bertanya-tanya.
Bram berusaha bangkit dari pembaringannya, namun dengan cepat Toni beserta perempuan paruh baya di antara mereka bertiga menahannya.
Perempuan tua yang lumpuh itu menatap garang ke arah Bram ketika telah mencapai posisi terdekat dari tempat pembaringan Bram.
.
.
.
.
__ADS_1
.