KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
MULAI MENYADARI


__ADS_3

Kemil mengendarai mobilnya mengitari pedesaan. Dia masih saja kepikiran dengan burung kertas yang ditemuinya di bawah bantal Kamelia tadi.


Pikirannya kalut karena berbagai pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan memenuhi kepalanya. Dia hampir saja menabrak seorang perempuan yang tiba-tiba keluar dari sebuah persimpangan. Untung saja Kemil tidak melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi sehingga dia mampu mengerem dengan tepat waktu.


Kemil turun dari mobil hendak memaki perempuan itu, namun dia terkesiap karena perempuan itu tidak lain Misya, kekasihnya.


"Misyaaa..." Serunya ketika mendapati Misya sedang menangis di depan mobilnya.


Misya yang mendapati Kemil berada di dekatnya segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Kemil. Kemil dibuat bingung oleh tingkah kekasihnya itu. Tidak biasanya Misya bersikap seperti itu.


Kemil segera mendekap tubuh Misya yang begetar hebat karena sesenggukan di dadanya yang bidang.


"Sayang... Kamu kenapa?" Kemil heran bercampur khawatir.


Misya masih tidak menjawabnnya. Dia terus saja menangis sesenggukan. Tanpa pikir lagi, Kemil membawa Misya masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukan mobil itu ke tempat yang biasa membuat kekasihnya itu merasa nyaman. Kemil memperlakukan Misya dengan begitu baik dan hangat sehingga Misya merasa sedikit tenang dan nyaman.


Aku tidak pernah menyadari kalau kamu tidak kalah tampan, Kemil... Bahkan kamu benar-benar tulus memperlakukan aku...


Misya menatap sendu ke arah Kemil yang sibuk mengendarai mobilnya.


"Sayang... Kita sudah sampai di caffe biasa... Apa kamu mau makan sesuatu?" Kemil bertanya dengan lembut.


"Aku tidak lapar, sayang... Aku ingin istirahat saja... Antarin aku pulang ya..." Misya memelas. Dia merasa begitu nyaman dengan panggilan sayangnya kali itu untuk Kemil.


"Tapi kamu pucat sekali loh, sayang... Sekarang aku tanya sama kamu... Kamu kenapa?" Tanya Kemil lagi sambil mengangkat dagu Misya.


"Tidak kenapa-kenapa kok, sayang..." Jawab Misya lirih.


"Ya sudah... Aku akan antar kamu pulang... Kalau kamu butuh apa-apa, kamu hubungi aku ya..." Ujar Kemil seraya memutar stir mobilnya kembali.


Ponsel Misya sedari tadi berbunyi, tapi tidak sekalipun diangkatnya. Setiap kali Kemil bertanya dan menyuruhnya untuk mengangkat, Misya selalu saja menjawab tidak terlalu penting.

__ADS_1


"Sayang... Besok pagi kamu bisa antarin aku ke pasar?" Tanya Misya ketika mendapati mobil itu sudah mencapai rumahnya.


"Bisa kok, sayang... Kamu tunggu saja di rumahmu ya... Aku akan jemput kamu." Ujar Kemil menatap Misya.


"Kamu tidak mampir dulu?" Tawar Misya.


"Tidak usah, sayang... Aku ada sedikit urusan.." Elak Kemil.


"Ya sudah... Aku turun ya... Terima kasih untuk hari ini." Misya mengecup pipi kiri Kemil dan segera turun dari mobil itu.


Kemil mengusap pipinya yang dikecup Misya. Memang agak aneh karena Tidak biasanya Misya bersikap seperti itu kepadanya.


Kemil memutar stir mobilnya dan meninggalkan kediaman Misya.


***


Kembali ke kediaman Bram.


Tok.... Tok... Tok...


Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Tapi dia sedikit terkejut karena mendapati pintu kamarnya sudah setengah terbuka. Dan pelayan tadi terlihat jelas olehnya dari dalam membawa nampan berisi dua gelas di atasnya.


Toni mengerinyitkan dahinya. Dia ingat tadi sempat keluar kamar dan lupa menguncinya kembali.


"Kenapa dua, bik...?" Tanya Toni heran.


"Tadinya bibik buatkan untuk non Misya, Den..." Jawab pelayan itu sedikit canggung. Dia pikir Toni dan Misya bertengkar sehingga Misya pergi dalam keadaan menangis.


"Misya tadi sudah datang, bik...?" Tanyanya lagi keheranan.


"Sudah, den... Bibik pikir non Misya bertengkar sama den Toni sampai-sampai non Misya pergi sambil nangis." Tutur pelayan itu ikut keheranan.

__ADS_1


"Misya masuk ke kamar saya tadi, bik?" Tanya Toni lagi dengan khawatir.


"I-iya, den..." Sang pelayan mulai ketakutan melihat wajah Toni yang menegang.


"Kenapa bibik biarkan? Bibik kan tau dengan aturan saya. Apa yang saya sukai dengan yang tidak saya sukai..." Ujar Toni kesal.


"Maafkan bibik, den... Non Misya maksa mau masuk menemui den Toni..." Ujar pelayan itu memelas.


Melihat pelayan kesayangan mendiang mamanya itu menggigil ketakutan dan merasa bersalah. Toni akhirnya memutuskan untuk menyuruhnya pergi dari hadapannya.


Toni kembali mengunci pintu kamarnya dan langsung melirik ke arah nakas samping tempat tidurnya.


Pasti karena foto ini...


Toni segera meraih ponselnya dan menelpon Misya berulang kali. Namun tidak sekalipun Misya mengangkat telpon darinya.


Biarkan dia marah sesaat, besok aku akan mencarinya di pasar tempat biasa dia berkunjung... ~ Pikir Toni acuh.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2