KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
FITNAHAN DI MASA LALU


__ADS_3

Flashback On.


"Toni..." Misya berlari di sepanjang koridor sekolahnya untuk menghampiri Toni.


"Misya... Ahh kebetulan sekali kamu ada disini." Kemil menarik lengan Misya menuju ke taman belakang sekolah itu. Misya tersipu menatap tangannya yang digandeng oleh sahabat sekaligus pujaan hatinya itu.


"Ada apa kamu mengajakku kesini Toni?" Misya merasa dirinya di atas awang-awang. Mungkin dia berpikir Toni akan menyatakan cinta kepadanya.


"Tadi kamu kan juga memanggilku, jadi aku putuskan kamu saja yang duluan." Ujar Toni memegangi tengkuknya dengan wajah bersemu. Sebenarnya dia juga tidak sabar untuk memberitahukan tentang apa tujuannya membawa Misya ke taman belakang sekolah.


Misya memperhatikan tingkah Toni yang aneh dan mudah ditebaknya.


Apa dia mau menembakku? Aaaa... Kalau iya, biar dia saja yang terlebih dahulu berbicara~ Misya memandangi Toni dengan malu-malu.


"Memangnya tidak kenapa-kenapa?" Toni tersenyum sumringah. Dan dibalas anggukan malu-malu Misya.


"Aku sebenarnya su..." Toni masih ragu untuk mengatakannya kepada Misya.


"Su apa Toni?" Misya terlihat tidak sabar menunggu ucapan Toni.


"Aku sebenarnya suka Kamelia..." Tarikkan napas Misya terhenti segera. Sesaat dia paksakan untuk tersenyum.


"J-jadii kamu suka Kamelia?" Misya tetap memaksakan senyumannya.


"Iya, Misya... Apa itu terlalu memalukan? Menurutmu bagaimana?" Toni begitu antusias menuturkan perasaannya terhadap Kamelia kepada Misya.


"Bagus... Itu sangat bagus, Toni... Aku akan mendukungmu?" Misya mengepalkan tangannya ke dadanya untuk menyemangati Toni. Walau dalam hatinya begitu hancur saat itu.


"Kalau begitu... Boleh aku minta tolong lagi kepadamu?" Toni terlihat begitu berharap.

__ADS_1


"Boleh dong... Memangnya kamu mau minta tolong apa?" Misya menahan air matanya agar tidak terjatuh ataupun berlinang sama sekali.


Toni merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat dengan begitu rapi.


"Tolong kamu berikan ini kepada Kamel, bisa...?" Lagi-lagi Toni berharap sekali dari Misya.


"Oh tentu dong, Toni... Kamu seperti apa saja denganku." Misya meraih kertas yang disodorkan Toni kepadanya.


"Terima kasih, Misya... Oh iya... Kamu mau bicara apa tadi?" Toni kembali teringat dengan Misya yang tadinya juga ingin membicarakan sesuatu katanya.


"Oh sepertinya aku lupa deh, Ton... Karena kesenangan melihat kamu senang... Lain kali akan aku ingat lag.i" Elaknya sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai memerah dan matanya yang berkaca-kaca.


"Yaa... Kok gitu sih, Misya?" Toni terlihat kecewa.


"Tidak apa-apa... Aku akan memberikan suratmu kepada Kamelia. Kalau gitu aku pergi ya." Misya membalikkan tubuhnya dari Toni. Dan berjalan memunggungi Toni. Misya meremas kertas dari Toni untuk Kamelia di depan perutnya sambil menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.


"Misyaaa..." Kamelia melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu.


Misya sedikit menoleh ke belakang. Dia melihat Toni di kejauhan berjalan menuju kelas mereka. Dengan sigap Misya berjalan kearah Kamelia dengan memasang wajah sedih.


"Kamel..." Dia menatap Kamelia dengan wajah polos yang dibuat-buatnya.


"Misya? Kamu kenapa?" Tanya Kamelia tampak begitu khawatir sembari menyentuh pipi Misya.


"Ada seseorang yang aku sukai... Dan aku mengiriminya surat..." Dia bercerita sambil memelas.


"Lalu?" Kamelia menatap prihatin pada sahabatnya itu.


"Tetapi dia sudah punya pacar... Kamel... Tolong sobek suratku ini... Aku mohon... Supaya aku tidak terlalu sakit hati dibuatnya." Misya memohon sambil mengeluarkan air mata buayanya.

__ADS_1


"Mana...? Coba aku lihat..." Kamelia meraih kertas itu dan hendak membukanya.


"Eeeh Kamel.... Demi harga diriku..." Dia mengatupkan kedua tangannya memohon. Matanya menoleh sedikit ke pintu kelas. Dia melihat Toni telah berdiri disana.


Kamelia mengoyak kertas itu tanpa ampun. Misya tersenyum sinis melihat tangan Toni mengepal di balik pintu.


***


"Toni..." Misya mendekati Toni perlahan-lahan. Dan Toni tidak menyahuti panggilannya.


"Toni, aku mau memberitahu..."


"Tidak perlu, Misya... Aku sudah melihatnya sendiri." Toni mengepalkan Tangan kanannya.


"Aku minta maaf, Toni... Seharusnya aku mengatakannya dari awal." Toni menoleh kearah Misya penuh pertanyaan.


Misya duduk di samping Toni dan mengelus bahunya.


"Demi mendapatkan nilai bagus, Kamelia rela menjadi simpanan pak Kepsek. Bahkan sampai kepada hal yang lebih jauh lagi." Toni terbelalak seakan tidak percaya dengan ucapan Misya.


"Kamu ingat, kan? Waktu kita ulangan matematika tempo hari? Kita, kan sama-sama tidak belajar. Tetapi Kamelia malah mendapatkan nilai tertinggi di kelas." Misya semakin memanas-manasi Toni.


"Kamu lihat itu." Misya melirikkan matanya kearah Kamelia yang berdiri di kejauhan. Mereka melihat Bapak Kepsek mengacak-acak poni Kamelia.


Toni semakin geram dibuatnya.


"Misya... Toni..." Kamelia melambaikan tangannya kearah mereka sepeninggal pak Kepsek.


Toni memalingkan wajahnya dan beranjak dari sana mengabaikan Kamelia yang hendak mendekati mereka. Misya pun mengikuti Toni. Kamelia menatap bingung punggung mereka.

__ADS_1


__ADS_2