
Matahari senja hampir membenamkan diri di balik gunung seberang sana yang terlihat dari posisi tegaknya Kamelia saat itu. Dan cahaya jingga dari matahari terbenam itu pun memancarkan sinarnya yang kemilau. Kamelia menopang tubuhnya di pagar kecil pekarangan belakang rumah kediaman Arayan. Matanya yang indah dan bulat,iip0 sayup-sayup sampai menatap air laut yang terlihat bergaris-garis seperti di layar EKG. Kamelia terhanyut dalam lamunan panjangnya.
Kemil datang sembari melingkarkan lengannya ke bahu Kamelia dari belakang. Sehingga Kamelia tersentak dari lamunannya dan melepas paksa tangan Kemil dari bahunya itu.
"Kamu mengejutkanku, Kemil..." Kamelia menoleh sebentar, tapi dengan segera membuang kembali pandangannya ke sembarang arah.
"Kenapa kamu melamun?" Kemil mengerti kenapa Kamelia tidak ingin terlalu dekat dengannya. Namun dia akan terus mencoba perlahan-lahan mengambil kepercayaan diri Kamelia yang telah dibuang jauh olehnya.
"Aku merindukan mama, papa dan abungku..." Jawabnya dengan begitu lirih. Matanya nan indah menampakkan telaga bening dari dalamnya.
"Kamu sabar ya... Mereka pasti juga sangat merindukanmu saat ini." Kemil berusaha menenangkan perasaan Kamelia.
"Tapi..." Air mata yang dibendungnya sedari tadi lolos dan mengalir dari ruas-ruas pelipis matanya yang bulat itu.
Kemil meraih dagu Kamelia yang berbelah. Bibirnya yang sedikit tebal mengecup mata Kamelia yang basah. Kamelia hendak mendorong dada Kemil dengan tangan kanannya, namun dengan cepat Kemil menangkap tangan Kamelia dan menariknya hingga tubuh Kamelia terjerembab ke dalam dekapan Kemil.
"Jangan pernah merasa sendiri, Kamel... Kamu tidak sendiri... Kamu masih bisa berbagi...
Trauma yang kamu miliki tidak akan hilang jika kamu menghindar darinya, dan juga jika kamu menyimpannya sendiri, Kamel...
__ADS_1
Apa tempat yang kita lewati waktu hendak ke rumah sakit kala itu adalah lokasi kamu diperkosa?
Apakah di pasar Tradisional waktu itu kamu bertemu dengan lelaki yang telah memperkosa kamu?
Kalau iya, aku mohon... Kamu jangan menghindar, Kamel. Jika kamu menghindar darinya, justru malah membuatmu semakin merasakan sakit karenanya. Kamu tidak akan bisa melupakan kejadian itu seumur hidup kamu. Dan itu tidak akan baik untuk anakmu kelak, Kamel..."
Kamelia terisak dalam zona ternyamannya. Pelukan Kemil menjadi tempat terdamai baginya saat itu. Ditambah elusan halus tangan Kemil di kepala Kamelia membuatnya semakin terhanyut oleh perasaannya sendiri.
Tiba-tiba Kemil melepaskan dekapan tubuhnya kepada Kamelia. Matanya menatap tajam ke ambang pintu. Disana telah berdiri sedari tadi sosok lelaki muda yang tampan.
Kamelia kebingungan menatap Kemil yang terlihat canggung menatap kearah belakangnya. Dia membalikkan sedikit tubuhnya untuk melihat apa yang suaminya lihat.
"Abung..." Serunya lirih dan nyaris tak terdengar. Meski dia merindukan sosok abungnya, namun keberaniannya juga tidak ada untuk mendekati kakak lelakinya itu. Dia masih ingat bagaimana terakhir kali perpisahan mereka. Dan itu sangat menyakitkan baginya.
Ramdani mendekati adik kesayangannya itu dengan emosional.
"Abung..." Seru Kamelia lagi dengan setengah berteriak. Mereka saling berpelukan untuk melepaskan rindu mereka masing-masing. Kamelia terisak-isak dalam pelukan kakak yang sangat menyayanginya itu.
"Abung... Abung..." Dia memanggil-manggil kakaknya di balik setiap isakannya.
__ADS_1
"Sssttt... Sudah, Dek... Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi." Ramdani mengeratkan pelukannya. "Kakak sudah mendengarnya... Maafin Kakak yang membuatmu tambah terluka selama ini, sayang." Ramdani menghujani ubun-ubun Kamelia dengan kecupan kasihnya.
Lama mereka terhanyut dalam pelepasan rindu yang berbulan-bulan mereka tanggung tanpa komunikasi. Dan akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
"Bagaimana keadaan kamu, sayang..." Ramdani terlihat bahagia dapat berbicara dengan Kamelianya. Dia menyeka air mata Kamelia.
"Kamelia baik, Abung... Om Idris, tante Rahmah dan Kemil memperlakukan Kamel sangat baik disini." Jawabnya sambil tersenyum.
Meski Ramdani belum bisa melupakan ucapan Kemil kala itu pada Kamelia, tapi dia tadi melihat dengan sendirinya perlakuan baik pemuda itu kepada adik tercintanya.
Dia juga yakin, karena cerita dari Fitria Kamelia pasti sangat bahagia bisa bersama Kemil saat itu. Namun dia masih takut jika seandainya setelah anak yang dikandung Kamelia terlahir, maka Kamelianya akan berpisah lagi dengan lelaki yang sangat dicintai adiknya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.