KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja

KEMILAU Cintaku KAMELIA Di Ujung Senja
KISAH RIANTI


__ADS_3

Flashback On...


Pagi itu Adipati Arayan sudah bersiap hendak ke pabrik bersama putranya Idris. Mereka telah duduk di kursi meja makan ruangan yang menghadap kearah pantai itu bersama Rahmah, istrinya Idris dan Wisnu.


"Wisnu... Tolong panggilkan temannya Idris ke kamarnya. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini." Perintah Adipati kepada kepercayaan sekaligus sopir pribadinya itu.


"Baik, tuan besar..." Wisnu menyahuti perintah Adipati dengan sopan. Dia bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menuju ke kamar Bram.


"Sejak kapan Bram mengikuti jejak adikmu si Rianti, Id? Tidak biasa-biasanya dia kesiangan seperti ini. Katanya dia ingin terjun langsung hari ini ke perkebunan." Adipati mulai menyuapi makanannya.


"Mungkin dia kelelahan, Pa... Semalaman aku menemaninya membuat hasil laporan yang papa pinjamkan kepadanya kemaren. Sampai-sampai Rahmah ngamuk-ngamuk karena jagain Kemil sendirian." Ujar Idris dan langsung dipelototi istrinya itu.


Adipati terkekeh melihat tingkah anak dan menantunya.


"Hmm... Papa benar-benar salut kepada Bram. Dia sangat cerdas dan rajin sekali. Papa yakin, setelah dia menamatkan S2-nya. Dia benar-benar akan membanggakan kedua orang tuanya, ditambah lagi dia anak tunggal. Harta dan kekayaan orang tuanya tidak membuat dia sombong dan lengah." Adipati begitu memuji sahabat putranya itu.


"Hmmm... Puji saja terus, Pa..." Idris berpura-pura kesal sehingga Adipati kembali terkekeh dibuatnya.


Di depan pintu kamar Bram. Beberapa kali Wisnu mencoba mengetuk pintu kamar itu, namun tak sekalipun dia mendengar sahutan dari dalamnya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Rianti dari dalam kamarnya yang terletak di bagian belakang. Dimana dia merasa nyaman karena langsung menghadap kearah pantai.


Wisnu segera berlarian kesana, dan dia pun juga mendapati Adipati, Idris dan Rahmah sudah berada disana.


Dari arah dapur, bi Ina yang masih terlihat muda ikut berlarian tergopoh-gopoh menuju ke kamar Rianti.

__ADS_1


"Riantiii.." Idris mengetuk pintu kamarnya dari luar. Dia dan semua yang disana terlihat cemas karena mendengar suara teriakannya.


"Riantiii... Ada apa, dek? Apa yang terjadi?" Idris mendekatkan daun telinganya ke pintu kamar itu berharap mendapatkan jawaban atau sahutan dari dalam.


Sekelabat Idris mendengar suara isak tangis adiknya. Dia mencoba menarik gagang pintu, dan ternyata pintu kamar Rianti tidak terkunci sama sekali.


Idris melihat Bram berada di atas tempat tidur adiknya dalam gemul selimut yang sama.


"BRAAAAM..." Idris begitu marah mendapati pemandangan itu. Dengan segera dia mendatangi Bram dan menarik lengannya. Dia memukuli wajah sahabatnya itu sejadi-jadinya.


Rianti hanya terisak sambil memangku lututnya di atas tempat tidurnya itu.


Bi Ina dan Rahmah segera mendekatinya dan mencoba menenangkan gadis malang itu.


"Dia... Dia... Apa... Apa yang telah dia lakukan kepadaku?" Rianti bertanya dalam sela-sela isaknya.


"Baru saja saya percaya terhadapmu, dan ini balasan kepercayaan itu?" Adipati menatap geram kepada sahabat putranya yang sempat dipuji-pujinya tadi.


"Sekarang kamu tinggalkan rumah ini, dan kalau perlu desa ini sekalian..." Adipati mengusir lelaki itu.


"Saya tidak akan pergi dari desa ini sebelum saya menikahi Rianti, om..." Sahutnya lirih. Matanya masih menatap Rianti dengan penuh luka.


Satu kepalan tangan dari Idris kembali melayang ke pipi Bram.


"Jangan pernah berharap kalau saya akan merestuimu menikahi adikku... Mulai dari sekarang... Persahabatan kita berakhir..." Idris meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Rianti mengandung anakku?" Bram tetap menatap lirih kearah Rianti.


Rianti mendongakkan wajahnya kearah Bram, dengan segera dia menggelengkan kepalanya. Dia begitu shok mendengar penuturan Bram.


"Tidak.... Tidak mungkin... Tidak mungkin..." Teriaknya semakin histeris.


"Kalau benar... Aku akan memintanya untuk menggugurkan bayi yang dikandungnya." Semua mata menoleh kearah Adipati. Kecuali mata Bram. Dia tetap menatap wajah Rianti.


"Tidak, Pa... Rianti tidak mau... Lebih baik Rianti terima tawaran kak Bram untuk menikah dengannya, daripada Rianti harus menjadi pendosa." Diam-diam Bram tersenyum mendengar jawaban Rianti.


"Tau apa kamu tentang dosa? Jika kamu tau tentang dosa, seharusnya ini tidak terjadi..." Adipati seakan tidak menerima alasan apa pun dari putrinya itu.


"Kak Idris..." Rianti menatap kakaknya penuh permohonan. Air matanya berjatuhan tanpa henti.


Idris berada di antara salah dan benar saat itu, sayangnya dia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2