
Akhirnya Kamelia sampai di kediaman Arayan. Sebelumnya dia tidak pernah kesana meskipun Kemil adalah teman masa kecilnya. Dan bahkan dia juga tidak mengenal Rahma waktu itu. Meski dulu Kemil seringkali membagi bekal yang disiapkan mamanya kepada Kamelia.
Kamelia diajak Idris mengitari rumah yang terlihat elegan dan tak kalah mewah dari rumahnya itu. Hingga sampailah mereka ke halaman belakang yang menampakkan pantai disana.
Bagi Kamelia itulah hal yang paling membuatnya nyaman. Melihat Matahari yang mulai menampakkan cahaya jingga di seberangnya. Dia menghirup udara dalam-dalam sambil menikmati desiran angin sepoi-sepoi dan suara riak-riak gemuruh ombak yang menghempas bebatuan pantai.
"Kamu menyukainya, nak?" Idris menatap Kamelia dengan begitu senang.
Kamelia menganggukkan kepalanya antusias. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan lelaki paruh baya itu. Lelaki yang memberikan tempat ternyaman baginya hampir dua minggu ini.
"Kamu bisa menikmatinya kapanpun kamu mau... Dan kapan-kapan, om akan minta Kemil untuk menemanimu menyusuri tepian pantai itu." Ujar Idris sambil menunjuk ke arah pantai yang terlihat bersih dan nyaman.
Kamelia masih ingat sekali dulu Kemil berjanji akan membawanya bermain di tepi pantai belakang rumahnya untuk bermain pasir. Membuat istana duyung dan mengubur kaki Kamelia dengan pasir yang akan digambarnya seperti putri duyung.
Lamunannya menciut setelah kata-kata Kemil yang menghinanya kala itu terngiang kembali di telinganya.
"Tidak apa-apa kok, om... Tidak usah... Kamel melihat-lihat dari sini saja sudah senang, om." Elak Kamelia.
Idris tersenyum. Dia begitu paham maksud penolakan Kamel.
"Ya sudah... Mari om antar ke kamar kamu..." Ajaknya mendahului langkah Kamelia.
Kamelia memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu sempit bagi dirinya. Ruangan yang cukup mampu membawanya ke zona ternyaman untuk sementara waktu berada di rumah itu.
__ADS_1
Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang begitu rapi dan bersih. Sprei tempat tidurnya yang bewarna mustard sangat cocok untuk menambah rasa damai dalam dirinya. Beberapa boneka juga terjejer rapi di atas tempat tidur itu membuat rasa sepi akan terusir jauh darinya.
Dia tersenyum mendapati sebuah lukisan abstrak di dinding yang bermotif sibiran kulit kayu di kamar barunya itu.
"Kamu menyukainya?" Idris yang mengerti arah senyuman menantunya.
"Kamel sangat menyukainya om." Ujar Kamelia dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau kamu menyukainya, lalu kenapa kamu menangis, nak?" Idris menarik dagu Kamel.
"Kamel hanya merasa kalau Kamel tak ubahnya seperti lukisan itu om. Sulit untuk dipahami, tampak tidak masuk akal dan pastinya...." Kamelia terisak oleh kata-katanya sendiri
"Dan pastinya sangat indah... Unik... Serta hanya dirimulah yang tau, nak... Sama dengan lukisan itu... Hanya pelukisnyalah yang tau dengan maknanya." Sambung Idris menyeka air mata menantunya itu.
Ada kecurigaan terbesar di pikirannya tentang hubungan suami dan istri anaknya itu.
Kamu pikir disini tempat pelarianmu? Atau tempat ternyamanmu?
Aku melihat sendiri kedua orang tuamu seakan tidak peduli denganmu. Lalu bagaimana denganku? Aku akan jadikan disini sebagai neraka kedua bagimu~ Batin Rahma. Tangannya mengepal kuat. Tampak sekali ketidaksukaannya itu pada raut wajahnya yang terlihat masih awet muda.
Rahma meninggalkan pemandangan yang tidak disukainya itu dengan kesal dan penuh amarah.
"Ya sudah, nak... Kamu sekarang istirahat.. Besok-besok, om akan minta Kemil mengantarmu untuk memeriksakan kandunganmu." Ujar mertuanya itu hendak pamit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok, om... Tidak usah... Kamel bisa sendiri..." Elak Kamelia merasa sungkan.
"Ini sebuah keharusan, dan kamu tidak boleh menolaknya. Dan satu hal lagi... Panggil papa... Jangan om lagi." Perintah Idris menghentikan niatnya hendak keluar.
"Tapi..."
"Papa paling tidak suka dibantah." Potong Idris cepat.
"Baik... Pa..." Sahut Kamelia sedikit berat.
"Jika kamu butuh apa-apa, kamu bisa minta tolong sama bik Ina." Ujar Idris lagi dan segera berlalu meninggalkan Kamelia di ruangan yang menjadi kamar baru baginya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1